Sumatra

Presiden Prabowo Subianto secara tegas mencabut izin operasional PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU/TPL) sebagai bagian dari 28 perusahaan yang terbukti melanggar aturan pemanfaatan kawasan hutan di Sumatra pada 20 Januari 2026.
Keputusan ini diambil setelah rapat terbatas yang dipimpin Prabowo secara daring dari London pada 19 Januari 2026, berdasarkan laporan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang dibentuk via Perpres Nomor 5 Tahun 2025. Saran pencabutan juga datang dari Luhut Binsar Pandjaitan akibat kerusakan lingkungan masif yang ditimbulkan perusahaan.
PT Toba Pulp Lestari beroperasi sejak 1983 di Sumatra Utara dengan konsesi seluas 167.912 hektare untuk produksi pulp, namun terbukti melakukan pelanggaran seperti deforestasi ilegal yang berkontribusi pada banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Pencabutan mencakup 22 perusahaan kehutanan dengan total lahan 1.010.592 hektare, termasuk afiliasi APRIL Group, untuk menertibkan usaha sumber daya alam demi perlindungan lingkungan.

BRIN mengirimkan tiga unit Arsinum ke Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah untuk mengubah air banjir menjadi air bersih dan layak minum bagi korban banjir, dengan kapasitas produksi puluhan ribu liter per hari. Alat ini telah terbukti optimal di lapangan, sebagaimana diuji langsung oleh Kepala brin Arif Satria yang meminumnya pada 22 Desember 2025. Masyarakat setempat menyambut baik inisiatif ini yang menunjukkan peran riset nasional dalam penanganan bencana.
Profil Arsinum
Arsinum merupakan inovasi BRIN berupa sistem purifikasi air portabel yang memanfaatkan teknologi membran dan filtrasi canggih untuk membersihkan air tercemar secara cepat. Setiap unit mampu menghasilkan hingga 20.000-50.000 liter air bersih per hari, ideal untuk situasi darurat seperti banjir. Teknologi ini telah diuji di berbagai daerah rawan bencana di Indonesia.
Kontribusi Kepala BRIN
Arif Satria, dilantik Presiden Prabowo pada November 2025 sebagai Kepala BRIN, menekankan komitmen lembaga pada riset pangan, energi, dan air sesuai prioritas nasional. Kunjungannya ke lokasi banjir menegaskan fokus BRIN pada aplikasi inovasi langsung untuk masyarakat. Ia juga mendorong kolaborasi dengan daerah untuk memperkuat ekosistem riset lokal.youtubesetkab
Dampak bagi Korban Banjir
Penempatan Arsinum membantu mengatasi krisis air bersih di Aceh Tamiang, Aceh, dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, di mana banjir merendam ribuan rumah. Respons cepat BRIN mengurangi risiko penyakit akibat air kotor. Inisiatif ini sejalan dengan arahan Presiden untuk inovasi strategis dalam mitigasi bencana.youtube
- https://www.youtube.com/watch?v=5EYWNtWU9q0
- https://setkab.go.id/arif-satria-perkuat-riset-nasional-usai-dilantik/
- https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251110171950-37-683957/prabowo-reshuffle-ini-profil-arif-satria-kepala-brin-baru-dilantik
- https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/berita-daerah/presiden-prabowo-lantik-arif-satria-dan-amarulla-octavian-sebagai-kepala-dan-wakil-kepala-brin
- https://www.youtube.com/watch?v=uaddSdV8nck
- https://www.youtube.com/watch?v=DLDPwaFA6q0
- https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20250919112607-199-1275401/profil-arif-satria-kepala-brin-yang-baru-dilantik-prabowo-hari-ini
- https://www.detik.com/edu/edutainment/d-8205768/arif-satria-jadi-kepala-brin-siapa-yang-akan-jabat-rektor-ipb
- https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8203716/arif-satria-jadi-kepala-brin-sosok-yang-aktif-sebagai-ketum-icmi-aktivis-hmi
- https://www.youtube.com/watch?v=Rms2qv5gJT8
Video: kompas

Sembilan Desa di Sumatera Hilang Diterjang Banjir Bandang
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengonfirmasi bahwa sembilan desa di wilayah Sumatera hilang akibat banjir bandang. Wilayah permukiman yang terdampak kini berubah total menjadi aliran sungai. Pernyataan tersebut disampaikan Yandri saat berada di Surabaya, Jawa Timur, pada Senin (22/12/2025).
Yandri menjelaskan, desa-desa yang lenyap tersebut tidak lagi dapat dikenali secara fisik karena tersapu arus banjir dengan intensitas tinggi. “Ada desa yang benar-benar hilang, bukan sekadar rusak. Wilayahnya sekarang sudah menjadi sungai,” ujarnya.
Sebagian besar desa yang hilang berada di Provinsi Aceh, sementara sisanya tersebar di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Salah satu contoh paling parah adalah Desa Sekumur di Kabupaten Aceh Tamiang. Desa tersebut dilaporkan tersapu banjir bandang dengan ketinggian air mencapai tujuh hingga sepuluh meter, menyisakan satu bangunan masjid yang masih berdiri.
Dampak bencana ini tidak hanya menghilangkan permukiman, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban meninggal dunia akibat rangkaian banjir dan longsor di Sumatera mencapai 1.106 orang. Selain itu, sebanyak 175 orang masih dinyatakan hilang hingga laporan terakhir. Ratusan desa lainnya mengalami kerusakan berat, mulai dari rumah warga hingga infrastruktur vital.
Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Desa dan PDT menyatakan fokus pada pemulihan fasilitas dasar bagi masyarakat terdampak. Upaya pemulihan meliputi penyediaan tempat tinggal sementara, perbaikan infrastruktur desa, serta pemetaan ulang wilayah yang secara geografis telah berubah akibat bencana.
Yandri menegaskan bahwa penanganan pascabencana dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah. Pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan relokasi bagi warga dari desa-desa yang dinilai tidak lagi layak huni karena perubahan bentang alam yang ekstrem.
Bencana banjir bandang di Sumatera ini menjadi salah satu tragedi lingkungan terbesar sepanjang 2025, sekaligus menegaskan urgensi penguatan mitigasi bencana dan penataan wilayah berbasis risiko di daerah rawan bencana.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) menyatakan bencana banjir besar yang melanda Aceh pada 26 November 2025 memiliki dampak yang dinilai lebih parah dibanding tsunami 2004, jika dilihat dari luas wilayah terdampak. Meski tingkat kerusakan rumah tidak selalu hancur total, skala bencana kali ini dinilai jauh lebih menyulitkan proses pemulihan.
Menurut JK, terdapat perbedaan mendasar antara tsunami 2004 dan banjir besar 2025. Tsunami meratakan rumah dan infrastruktur hingga nyaris tak tersisa, sementara banjir kali ini meninggalkan lumpur tebal, pasir, kayu, dan material dari pegunungan yang menutup permukiman serta lahan produktif. Kondisi tersebut membuat pembersihan dan rehabilitasi menjadi lebih kompleks dan memakan waktu lama.
Banjir bandang disertai longsor dilaporkan melanda sedikitnya 18 kabupaten dan kota di Aceh, di antaranya Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Data sementara menunjukkan korban jiwa mencapai ratusan orang, sementara ratusan ribu warga terpaksa mengungsi akibat rumah mereka terendam atau tidak lagi layak huni. Sejumlah desa terisolasi karena rusaknya jalan dan jembatan, sehingga distribusi bantuan sempat mengalami keterlambatan.
Kerusakan juga terjadi pada sektor vital lainnya. Lahan persawahan dan perkebunan terendam lumpur, mengancam mata pencaharian warga dan ketahanan pangan daerah. Infrastruktur publik seperti fasilitas kesehatan dan sekolah turut terdampak, menambah beban penanganan pascabencana.
Dalam perbandingannya dengan tsunami 2004, JK menilai tantangan pemulihan banjir 2025 lebih rumit karena wilayah terdampak tidak hanya Aceh, tetapi juga meluas hingga Sumatra Utara dan Sumatra Barat. “Dulu air datang dari laut, sekarang dari gunung, membawa lumpur dan kayu dalam jumlah besar,” ujar JK dalam salah satu kunjungannya.
JK sendiri meninjau langsung lokasi terdampak di Gampong Keude Bungkaih, Aceh Utara. Ia mendorong percepatan penyaluran bantuan kemanusiaan dan membuka peluang dukungan internasional jika diperlukan. Sementara itu, sejumlah koalisi masyarakat sipil mengkritik lambannya distribusi logistik dan sulitnya akses ke daerah terisolasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban masih berpotensi bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan. Pemerintah pusat dan daerah bersama PMI serta relawan kini berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi korban, memulihkan akses, dan memulai rehabilitasi di tengah luasnya dampak bencana yang disebut JK sebagai salah satu yang terberat dalam sejarah Aceh pascatsunami.

**Viral Pernikahan Lempar Durian, Bukan Bunga tapi Boneka**
Sebuah momen pernikahan unik mendadak viral di media sosial. Bukan taburan bunga atau lemparan bouquet yang mewarnai resepsi, melainkan aksi pengantin yang melempar durian ke arah para tamu. Sekilas tampak ekstrem, namun belakangan terungkap bahwa durian yang dilempar bukanlah buah asli, melainkan boneka berbentuk durian.
Aksi tak biasa ini sontak mengundang reaksi beragam dari para tamu undangan. Beberapa terlihat refleks menghindar, sementara sebagian lainnya nekat menangkap lemparan tersebut. Sempat terjadi momen “freeze” ketika tamu yang menangkap durian mengira akan merasakan sakit, namun ekspresi tegang itu langsung berubah menjadi tawa setelah menyadari durian tersebut hanyalah boneka empuk.
Video momen tersebut dengan cepat menyebar dan memancing gelak tawa warganet. Banyak yang menilai konsep pernikahan ini kreatif, menghibur, sekaligus aman. Tak sedikit pula yang berseloroh menyebut pernikahan tersebut sebagai “resepsi ala sultan durian”, merujuk pada identitas durian yang kerap diasosiasikan dengan Kota Medan.
Kejadian ini kembali menunjukkan tren pernikahan unik yang kian digemari pasangan muda. Selain meninggalkan kesan mendalam, konsep tak biasa juga dinilai mampu mencairkan suasana dan menghadirkan pengalaman berbeda bagi para tamu.
Warganet pun mulai berspekulasi dengan nada bercanda, apakah ke depan akan muncul tren lempar buah lainnya, seperti rambutan atau manggis. Terlepas dari itu, pernikahan ini sukses mencuri perhatian dan membuktikan bahwa kreativitas dapat menjadi elemen utama dalam sebuah pesta p
ernikahan.
Video: wedingku
moment sedih seorang yang refleks meminum air bersih pasca banjir di sumatra
Sebuah momen menyentuh hati terjadi di Aceh Tamiang saat seorang bapak nekat meminum Air bersih hasil filterisasi relawan Kaltim, meski dilarang karena belum aman sepenuhnya. Ia bersikeras bahwa air itu bagus, setelah dua hari berturut-turut hanya mengonsumsi air Banjir yang tercemar.
Konteks Bencana
Banjir bandang melanda Aceh Tamiang akhir November 2025, menenggelamkan kota hingga 3-7 meter dengan lumpur setebal dada orang dewasa, menyebabkan kota seperti "zombie" dan korban jiwa mencapai ratusan hingga 1.053 orang di Sumatera per 16 Desember 2025.
Tantangan Akses Air
Relawan kesulitan menyediakan air bersih di tengah lumpur mengeras dan infrastruktur lumpuh; warga putus asa minum apa adanya demi bertahan hidup, mencerminkan keputusasaan pasca-bencana.
Respons Bantuan
Upaya pemulihan lambat, dengan relawan seperti dari Kaltim fokus filterisasi air, tapi insiden ini tunjukkan urgensi edukasi dan distribusi cepat untuk hindari risiko kesehatan sekunder.
Video: Balikpapanku

Bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, terjadi pada akhir November 2025, menyebabkan puluhan korban jiwa, infrastruktur rusak parah, dan banyak desa terisolasi. Warga mengalami kesulitan akses listrik, air bersih, serta pasokan makanan karena jalan putus dan jembatan hancur.
Dampak Utama
Korban tewas di Bener Meriah mencapai 29 orang per awal Desember 2025, dengan 23 lainnya hilang; secara keseluruhan bencana Sumatra 2025 tewaskan 1.016 jiwa.
Lebih dari 35 ribu warga kesulitan kebutuhan dasar, 59 desa masih terisolasi hingga pertengahan Desember, dan 8.000 orang mengungsi.
Stok BBM menipis, mengancam evakuasi dan distribusi logistik.
Upaya Pemulihan
Relawan antar genset dan bantuan melalui galang dana seperti Ferry Irwandi, membantu warga tersenyum kembali setelah gelap gulita dan kelaparan.
Pemerintah kabupaten status darurat, kerahkan TNI-Polri, helikopter, dan BPBD untuk evakuasi serta logistik via jalur udara.
Doa dan donasi terus dibutuhkan untuk pemulihan Sumatera yang cepat.