Pewarta Nusantara
Add Post Menu

PBB

Seka one
1 bulan yang lalu
Natalius Pigai: Indonesia Siap Pimpin Dewan HAM PBB 2026

Natalius Pigai: Indonesia Siap Pimpin Dewan HAM PBB 2026

Natalius Pigai: Indonesia Siap Pimpin Dewan HAM PBB 2026
News

Menteri HAM Natalius Pigai menyatakan optimisme bahwa Indonesia akan lebih maju sebagai pemimpin Dewan HAM PBB pada 2026, mencetak sejarah kepemimpinan multilateral dunia setelah 80 tahun merdeka. Pernyataan ini disampaikan pada 6 Januari 2026 di kantor Kementerian HAM Jakarta, terkait peran Indonesia menangani isu seperti konflik Venezuela.

Indonesia dipilih Asia-Pacific Group untuk nominasi Presiden Dewan HAM PBB 2026, menandai pencapaian diplomatik signifikan. Pigai menekankan ini membawa Indonesia ke panggung global untuk memajukan HAM secara efektif.

Sebagai aktivis Papua yang kini menjabat Menteri HAM sejak Oktober 2024, Pigai mendorong program pendidikan HAM di desa-desa dan kenaikan anggaran kementerian hingga Rp20 triliun untuk kebutuhan dasar masyarakat. Ia juga serahkan RUU Masyarakat Adat ke DPR untuk perlindungan kelompok terpinggir.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Seka one
1 bulan yang lalu
Ketegangan Perbatasan Kamboja–Thailand: Hun Manet Minta ASEAN & PBB Turun Tangan

Ketegangan Perbatasan Kamboja–Thailand: Hun Manet Minta ASEAN & PBB Turun Tangan

Ketegangan Perbatasan Kamboja–Thailand: Hun Manet Minta ASEAN & PBB Turun Tangan
News

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet baru-baru ini menuding pasukan Thailand masih menduduki sebagian wilayah negaranya meski ada kesepakatan damai yang dimediasi Presiden AS Donald Trump. Tuduhan ini muncul di tengah situasi perbatasan yang rapuh, dengan Kamboja klaim Thailand memasang kontainer dan kawat berduri hingga menghalangi warga pulang.

Ketegangan bermula dari sengketa perbatasan sejak 2025, termasuk bentrokan bersenjata yang memaksa gencatan senjata, tapi kedua pihak saling tuduh melanggar. Hun Manet menyatakan ini "fakta lapangan" yang melampaui klaim garis batas Thailand sendiri, menolak pelanggaran kedaulatan.

Kementerian Pertahanan Thailand membantah, menyebut posisi pasukannya sebagai langkah de-eskalasi sesuai perjanjian bersama, bukan pendudukan ilegal. Hun Manet mendesak intervensi ASEAN dan PBB untuk menjaga status quo demi hindari eskalasi baru.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Seka one
2 bulan yang lalu
AS Tarik Diri dari 66 Badan PBB & Non-PBB, Trump Teken Perintah Eksekutif

AS Tarik Diri dari 66 Badan PBB & Non-PBB, Trump Teken Perintah Eksekutif

AS Tarik Diri dari 66 Badan PBB & Non-PBB, Trump Teken Perintah Eksekutif
News

Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tidak sepenuhnya keluar dari PBB sebagai organisasi induk, melainkan menarik diri dari 66 badan dan komisi di bawah PBB serta non-PBB melalui perintah eksekutif pada 7-8 Januari 2026. Langkah ini mencakup penghentian pendanaan dan partisipasi, termasuk UNFCCC serta forum iklim seperti Perjanjian Paris yang efektif mundur pada 27 Januari 2026.

Alasan Penarikan

Trump menyatakan organisasi-organisasi tersebut tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS, dianggap anti-Amerika, tidak efektif, dan membebani anggaran negara. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan evaluasi menyeluruh menunjukkan minimnya manfaat dibanding biaya.​

Dampak Global

Penarikan AS dari 31 badan PBB dan 35 organisasi lainnya berpotensi melemahkan forum multilateral, mengubah keseimbangan pengaruh, dan memicu negara lain mengevaluasi kontribusi mereka. AS tetap anggota PBB permanen dengan hak veto di Dewan Keamanan.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Asia-Pasifik: Indonesia Sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Periode 2026.

Asia-Pasifik: Indonesia Sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Periode 2026.

Asia-Pasifik: Indonesia Sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Periode 2026.
News

Indonesia resmi dinominasikan oleh kelompok Asia-Pasifik sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB untuk periode 2026.[1][2]

 

## Latar Belakang Nominasi

Penetapan ini dilakukan pada 24 Desember 2025 oleh negara-negara anggota Asia-Pacific Group (APG) di Dewan HAM PBB, mencerminkan kepercayaan terhadap peran aktif Indonesia dalam memajukan agenda HAM global. Indonesia saat ini menjabat sebagai anggota Dewan HAM PBB periode 2024-2026 dan akan menjadi calon tunggal dari kawasan Asia-Pasifik sesuai mekanisme rotasi regional.[3][5][7][1]

 

## Signifikansi Kepemimpinan

Kepemimpinan Indonesia pada 2026 bertepatan dengan peringatan 20 tahun berdirinya Dewan HAM PBB, yang akan dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola HAM yang lebih inklusif dan berbasis dialog konstruktif. Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Sidharto Reza Suryodipuro, diproyeksikan memegang posisi ini jika terkonfirmasi pada pertemuan 8 Januari 2026.[2][6][9][3]

 

## Respons Pemerintah

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan komitmen menjalankan mandat secara profesional dan transparan demi kemajuan HAM multilateral, memperkuat profil diplomasi HAM Indonesia di tingkat Internasional. Legislator juga mendukung langkah ini sebagai pengakuan atas kontribusi konsisten Indonesia.[6][9][2]

 

[1](https://www.youtube.com/watch?v=JHEPjqZCj2Q)

[2](https://eksekutor.com/indonesia-dinominasikan-jadi-presiden-dewan-ham-pbb-2026/)

[3](https://nasional.kompas.com/read/2025/12/24/18533961/indonesia-dinominasikan-jadi-presiden-dewan-ham-pbb-2026)

[4](https://www.youtube.com/watch?v=g9OV8k1IbNU)

[5](https://www.cnbcindonesia.com/news/20251224154507-4-697083/top-ri-dinominasikan-jadi-presiden-dewan-ham-pbb-2026)

[6](https://news.detik.com/berita/d-8274945/ri-dinominasikan-kelompok-asia-pasifik-jadi-presiden-dewan-ham-pbb-2026)

[7](https://www.cnnindonesia.com/internasional/20251224125355-113-1310301/indonesia-resmi-diusulkan-jadi-calon-tunggal-presiden-dewan-ham-pbb)

[8](https://www.metrotvnews.com/read/koGCa4ra-asia-pasifik-resmi-nominasikan-indonesia-untuk-presidensi-dewan-ham-pbb-2026)

[9](https://www.antaranews.com/berita/5324158/legislator-dukung-indonesia-jadi-presiden-dewan-ham-pbb)

[10](https://sulteng.antaranews.com/berita/369922/indonesia-resmi-diajukan-sebagai-calon-presiden-dewan-ham-pbb)

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
UNDP dan UNICEF Merespon Surat Permohonan Pemerintahan Bantuan Dari Provinsi Aceh

UNDP dan UNICEF Merespon Surat Permohonan Pemerintahan Bantuan Dari Provinsi Aceh

News

Pemerintah Provinsi Aceh telah mengirim surat resmi ke UNDP dan UNICEF pada 14 Desember 2025 untuk meminta bantuan penanganan pascabencana hidrometeorologi akibat banjir dan longsor akhir November 2025. Kedua lembaga PBB itu langsung merespons positif dengan memulai peninjauan kebutuhan. Situasi darurat masih berlanjut hingga akhir Desember 2025.​

Respons UNDP dan UNICEF

UNDP menerima surat tersebut dan sedang meninjau dukungan untuk pemulihan dini (early recovery) bagi tim nasional serta masyarakat terdampak. UNICEF fokus menelaah prioritas seperti kesejahteraan anak, dengan tim lapangan sudah diperkuat keahlian teknis di Aceh. Kedua lembaga berkomitmen bekerja sama erat dengan pemerintah Indonesia.​

Dampak Bencana

Bencana hidrometeorologi melanda hampir seluruh kabupaten di Aceh, terutama Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Tengah, dengan ribuan rumah rusak, lahan pertanian tenggelam, serta korban jiwa mencapai ratusan. Pemicu utama curah hujan ekstrem dari siklon tropis, diperburuk sedimentasi sungai dan kerusakan lingkungan. Status Tanggap Darurat diperpanjang hingga 25 Desember 2025 untuk evakuasi dan rehabilitasi.​

Dukungan Pemerintah

Pemerintah pusat alokasikan dana tambahan Rp20 miliar per provinsi dan Rp4 miliar per kabupaten/kota dari APBN. Gubernur Aceh Muzakir Manaf terbuka terhadap bantuan internasional kemanusiaan. Presiden Prabowo Subianto tekankan kapasitas nasional masih mampu, meski terima tawaran dari negara lain.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu
Lebih dari 68.000 Orang Melintasi Perbatasan Sudan-Ethiopia Akibat Konflik, Tantangan Kemanusiaan Menyusul

Lebih dari 68.000 Orang Melintasi Perbatasan Sudan-Ethiopia Akibat Konflik, Tantangan Kemanusiaan Menyusul

Internasional

Pewarta Nusantara, Internasional - Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA) melaporkan pada Senin (24/7) bahwa jumlah orang yang telah melintasi perbatasan dari Sudan ke Ethiopia akibat konflik telah mencapai lebih dari 68.000 orang.

Perpindahan penduduk ini telah berlangsung sejak awal krisis di Sudan pada pertengahan April tahun ini. Dari total kedatangan, sekitar 49 persen adalah warga Etiopia yang kembali ke negaranya, sementara 30 persen merupakan warga negara Sudan.

Meskipun penyeberangan terus berlanjut melalui berbagai titik masuk, jumlah kedatangan menunjukkan penurunan dalam seminggu terakhir.

Selain itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kesenjangan dalam penanganan arus orang dari Sudan ke Ethiopia.

Tantangan transportasi selanjutnya, akses terbatas ke layanan penyelamatan jiwa seperti makanan, barang non-makanan, air, sanitasi, kebersihan, dan layanan kesehatan menjadi beberapa permasalahan yang dihadapi.

Baca Juga; Korea Utara ‘Mainkan Aksi Teror’ Saat Kapal Selam AS Tiba di Korea Selatan, Meningkatkan Tegangan Politik Regional

Hujan lebat juga menyulitkan kondisi dan medan bagi pekerja bantuan untuk memberikan bantuan tepat waktu. Situasi ini menimbulkan keprihatinan mengenai krisis kemanusiaan di daerah tersebut.

Krisis di Sudan yang terjadi sejak pertengahan April telah menyebabkan bentrokan bersenjata antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat paramiliter di ibu kota Khartoum dan daerah lainnya.

Kedua belah pihak saling menuduh memulai konflik, dan situasi tersebut telah berdampak pada migrasi penduduk di wilayah tersebut.

UNOCHA dan IOM berupaya memberikan bantuan dan penanganan krisis bagi para pengungsi yang melintasi perbatasan, namun tantangan lingkungan dan medan yang sulit menambah kompleksitas dalam memberikan bantuan tepat waktu dan memadai bagi mereka yang membutuhkan. (*Ibs)

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu
Perserikatan Bangsa-Bangsa Menggalang Dukungan Global untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui Kampanye SDGs

Perserikatan Bangsa-Bangsa Menggalang Dukungan Global untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui Kampanye SDGs

Internasional

Pewarta Nusantara, Internasional - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memulai kampanye komunikasi yang ambisius untuk menggalang dukungan publik global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Kampanye ini diluncurkan menjelang KTT PBB yang akan digelar pada bulan September, dengan tujuan untuk menghidupkan kembali percakapan dan komitmen terhadap SDGs.

PBB berharap agar semua orang, termasuk pembuat keputusan dan warga negara, merasa terinspirasi untuk bergabung dalam upaya mencapai tujuan tersebut.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk mengambil tindakan konkret melalui inisiatif ActNow PBB, yang memberikan langkah-langkah praktis untuk mempercepat kemajuan SDGs.

Baca Juga: Kontroversi Kebijakan Ekspor Pasir Laut: Analisis Opini Publik dan Potensi Kerusakan Lingkungan

Selain itu, kelompok influencer dari berbagai bidang, seperti hiburan dan olahraga, juga turut berpartisipasi dalam kampanye ini untuk menggerakkan komunitas media sosial mereka dengan jangkauan yang mencapai lebih dari 80 juta orang secara global.

Dengan upaya bersama ini, PBB berharap agar para pembuat keputusan merasakan urgensi dan mendukung tindakan sekarang demi tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. (*Ibs)

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu
Israel Menggelar Operasi Keamanan Besar di Jenin, Tepi Barat

Israel Menggelar Operasi Keamanan Besar di Jenin, Tepi Barat

Internasional

Pewarta Nusantara, Internasional - Pada hari Selasa (04/7), Israel melaksanakan salah satu operasi keamanan terbesarnya sejak tahun 2022 di Jenin, Tepi Barat, dengan partisipasi beberapa ratus tentara.

Menurut Maria Michelson, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), "Skala operasi sangat sulit untuk diukur, tetapi dalam hal jumlah pasukan yang terlibat, hal ini tidak terjadi sejak tahun 2002.

Operasi tersebut melibatkan beberapa ratus personel militer dari berbagai dinas dan unit, termasuk tentara IDF, perwira khusus, pasukan polisi perbatasan (Yamam), dan lainnya."

IDF menyatakan bahwa pasukan keamanan Israel menyerang markas yang digunakan oleh militan lokal di Jenin untuk merencanakan serangan teroris terhadap Israel.

Baca Juga: Pemimpin Palestina Sebut Serangan Terbaru Israel sebagai Kejahatan Perang Baru

Konflik antara Palestina dan Israel telah memburuk sejak tahun 1948. Palestina memperjuangkan pengakuan diplomatik sebagai negara merdeka mereka di wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur (sebagian dikendalikan oleh Israel), dan Jalur Gaza.

Namun, Pemerintah Israel enggan mengakui Palestina secara diplomatik sebagai entitas politik independen dan terus membangun pemukiman di wilayah yang menjadi sumber konflik, meskipun adanya keberatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Peristiwa-operasi tersebut menunjukkan eskalasi ketegangan yang berkelanjutan antara Israel dan Palestina. Konflik tersebut telah memakan korban jiwa dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius.

Upaya untuk mencapai perdamaian dan penyelesaian yang adil antara kedua belah pihak terus menjadi tantangan besar.

Kondisi di Tepi Barat dan Gaza terus menjadi sorotan internasional, dengan berbagai upaya diplomasi dan advokasi yang dilakukan oleh aktor-aktor internasional untuk mencari jalan keluar yang berkelanjutan dan stabil bagi kedua negara. (*Ibs)

Baca Juga: China Batasi Ekspor Chip untuk Keamanan Nasional saat AS Pertimbangkan Pembatasan Logam Langka

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu
Qu Dongyu Kembali Terpilih sebagai Direktur Jenderal FAO dalam Konferensi FAO ke-43

Qu Dongyu Kembali Terpilih sebagai Direktur Jenderal FAO dalam Konferensi FAO ke-43

Internasional

Pewarta Nusantara, Internasional - Qu Dongyu telah terpilih kembali sebagai direktur jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dalam sesi ke-43 Konferensi FAO yang sedang berlangsung.

Qu, yang merupakan warga negara Tiongkok, pertama kali terpilih sebagai direktur Jenderal FAO pada Juni 2019, menjadikannya warga negara Tiongkok pertama yang menduduki posisi tersebut.

Melalui kepemimpinannya yang aktif, Qu telah memimpin FAO dalam menghadapi berbagai tantangan terkait ketahanan pangan global dan berkontribusi pada pembangunan pangan dan pertanian di semua negara, terutama negara-negara berkembang.

Usahanya yang gigih dan hasil yang dicapai telah diakui secara luas oleh negara-negara anggota FAO. Sebagai badan khusus PBB yang didirikan pada tahun 1945 dan berkantor pusat di Roma, Italia, FAO memiliki peran yang penting dalam kerja sama global di bidang pangan dan pertanian.

Organisasi ini bertanggung jawab untuk memfasilitasi pertukaran kebijakan, penetapan standar, pengumpulan informasi, dan statistik terkait pangan dan pertanian di tingkat global.

Dalam upaya untuk mencapai keamanan pangan dan pertanian yang berkelanjutan, FAO bekerja sama dengan negara-negara anggota dan mitra lainnya untuk mempromosikan inovasi, keberlanjutan, dan keadilan dalam sistem pangan global.

Dengan Qu Dongyu yang kembali terpilih sebagai direktur jenderal, FAO dapat melanjutkan upayanya dalam menghadapi tantangan kompleks terkait pangan dan pertanian di era yang terus berubah.

Tantangan seperti perubahan iklim, kelaparan, ketimpangan pangan, dan kerentanan sistem pangan menjadi fokus utama FAO dalam upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Keberlanjutan dan keadilan dalam produksi pangan, pengelolaan sumber daya alam, serta penguatan sistem pertanian menjadi bagian dari visi FAO di bawah kepemimpinan Qu. (*Ibs)

Baca Juga: Generasi Milenial Mendominasi Pemilih Pemilu 2024: KPU RI R

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu
Laporan PBB Mengungkap Kasus Penyiksaan oleh Pasukan Keamanan Ukraina: Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Memprihatinkan

Laporan PBB Mengungkap Kasus Penyiksaan oleh Pasukan Keamanan Ukraina: Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Memprihatinkan

Headline

Pewarta Nusantara, Internasional - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mencatat peningkatan signifikan dalam kasus pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Pasukan Keamanan Ukraina sejak dimulainya operasi militer khusus Rusia.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) mengungkapkan laporan yang menyoroti kejadian-kejadian tersebut. Dalam laporan tersebut, terdokumentasikan 75 kasus penahanan sewenang-wenang terhadap warga sipil, termasuk penghilangan paksa, yang sebagian besar dilakukan oleh otoritas penegak hukum atau Angkatan Bersenjata Ukraina.

Laporan tersebut juga mencatat kekhawatiran serius terkait penangkapan warga sipil yang terlibat dalam distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah yang "diduduki" oleh Federasi Rusia.

Tindakan penahanan dan penyiksaan terhadap mereka yang terlibat dalam upaya kemanusiaan semakin mengkhawatirkan situasi yang sedang berlangsung di Ukraina.

Selain itu, laporan tersebut mengungkapkan adanya ruang penyiksaan yang diduga dibuka oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU) dengan tujuan untuk memperoleh kesaksian dari mereka yang bekerja sama dengan pihak berwenang Rusia saat kota tersebut berada di bawah kendali Rusia.

Beberapa orang dilaporkan meninggal akibat penyiksaan di ruang tersebut, dan tindakan tersebut dianggap sebagai upaya untuk menghilangkan jejak dan menyembunyikan kebenaran tentang kematian mereka.

Pada bulan Oktober, sebagian wilayah Kherson dan Zaporozhye di Ukraina yang dikuasai oleh Rusia digabungkan ke dalam Rusia setelah referendum.

Pasukan Rusia menarik diri dari tepi kanan Sungai Dnepr di Wilayah Kherson, yang kemudian diikuti oleh masuknya pasukan Ukraina ke Kherson.

Keadaan ini menimbulkan keprihatinan serius terkait pelanggaran hak asasi manusia dan penyiksaan yang terjadi dalam konteks konflik yang sedang berlangsung.

Laporan PBB ini menyoroti kebutuhan akan perlindungan hak asasi manusia yang kuat dan penegakan hukum yang adil di Ukraina.

Kasus-kasus penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia harus diteliti dengan seksama, dan pelaku yang bertanggung jawab harus diadili sesuai dengan hukum internasional.

Upaya internasional untuk mendorong dialog damai dan mencapai solusi politik yang berkelanjutan juga harus terus diperjuangkan untuk mengakhiri konflik dan mencegah pelanggaran lebih lanjut terhadap warga sipil. (*Ibs)

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap