Pewarta Nusantara
Add Post Menu

Anak

Pole Vox
3 bulan yang lalu
Densus 88 Menemukan 68 Anak di Indonesia Terpapar Paham White Supremacy

Densus 88 Menemukan 68 Anak di Indonesia Terpapar Paham White Supremacy

Densus 88 Menemukan 68 Anak di Indonesia Terpapar Paham White Supremacy
News

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap adanya paparan paham White Supremacy terhadap puluhan Anak di Indonesia. Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyampaikan bahwa hingga Selasa, 30 Desember 2025, tercatat sebanyak 68 anak teridentifikasi terpapar ideologi ekstrem tersebut.

White Supremacy merupakan paham ekstrem yang meyakini superioritas ras kulit putih di atas ras lain dan mendorong dominasi serta kekerasan terhadap kelompok yang dianggap berbeda. Temuan ini menandai munculnya ancaman ekstremisme berbasis ras di Indonesia, yang selama ini lebih banyak dihadapkan pada radikalisme berbasis ideologi atau agama.

Berdasarkan hasil interogasi Densus 88, anak-anak yang terpapar mengaku menggunakan paham White Supremacy sebagai pembenaran atas tindakan mereka. Ideologi tersebut tidak selalu dipahami secara mendalam, melainkan dijadikan legitimasi untuk melampiaskan dendam, ketidaksukaan terhadap individu atau kelompok tertentu, hingga pembenaran atas perilaku kekerasan.

“Dalam banyak kasus, paham ini digunakan sebagai alasan untuk membenarkan tindakan agresif, bukan karena keyakinan ideologis yang utuh,” ujar Mayndra dalam keterangannya.

Kasus ini menyoroti kerentanan anak dan remaja terhadap paparan ekstremisme, terutama melalui ruang digital. Media sosial seperti TikTok, Instagram, serta forum-forum daring dinilai menjadi saluran utama penyebaran konten ekstremis yang mudah diakses oleh kelompok usia muda. Di tengah karakter Indonesia sebagai negara multiras dan multikultural, ideologi White Supremacy dipandang bertentangan langsung dengan nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Dari sisi penegakan hukum, Densus 88 terus melakukan langkah pencegahan dan pemantauan terhadap potensi radikalisasi. Namun, aparat menilai penanganan kasus anak yang terpapar ekstremisme memerlukan pendekatan komprehensif, tidak hanya represif, tetapi juga edukatif dan preventif. Pengawasan aktivitas digital anak serta pendidikan toleransi sejak dini dinilai menjadi kunci penting.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan tren peningkatan radikalisasi berbasis daring. Sejak 2023, radikalisasi online dilaporkan meningkat sekitar 30 persen, dengan anak dan remaja di bawah usia 18 tahun menjadi kelompok yang paling rentan menjadi sasaran.

Fenomena paparan White Supremacy di Indonesia juga mencerminkan globalisasi ekstremisme, seiring maraknya kasus kekerasan bermotif rasial di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Eropa. Pemerintah dipandang perlu memperkuat kolaborasi dengan platform digital untuk deteksi dini konten ekstremis, sekaligus meningkatkan literasi digital dan ketahanan ideologis generasi muda.

Kasus ini menjadi peringatan bahwa ancaman ekstremisme terus berkembang dengan bentuk dan narasi baru, sehingga memerlukan kewaspadaan bersama dari negara, keluarga, dan masyarakat luas.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Tragis: Orang Tua Meninggal Saat Melerai Perkelahian Dua Anak Kandungnya

Tragis: Orang Tua Meninggal Saat Melerai Perkelahian Dua Anak Kandungnya

Tragis: Orang Tua Meninggal Saat Melerai Perkelahian Dua Anak Kandungnya
News

Seorang pria berinisial RA (43) di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tewas tragis saat berusaha melerai perkelahian dua Anak kandungnya. Kejadian ini viral di media sosial setelah video menunjukkan salah satu anaknya menangis histeris, yang sempat memicu dugaan pemukulan.[1][3]

 

## Kronologi Kejadian

Peristiwa terjadi pada Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 07.30 WITA di Kelurahan Wapunto, Kecamatan Duruka, Kabupaten Muna. RA tiba di rumah dan melihat kedua anak laki-lakinya berkelahi, lalu berusaha memisahkan mereka, tetapi tiba-tiba terjatuh sambil mengeluarkan busa dari mulut.[4][1]

 

## Penyebab Kematian

Polisi membantah dugaan RA dipukul anaknya; korban diduga meninggal akibat kelelahan atau tekanan fisik saat memisahkan pertengkaran. Ia dilarikan ke RSUD dr. H. LM. Baharuddin, tetapi dinyatakan meninggal dunia di sana.[3][5][1]

 

## Respons Polisi

Kasi Humas Polres Muna, IPTU Muhammad Jufri, mengonfirmasi penyelidikan masih berlanjut untuk mengungkap detail lebih lanjut, termasuk penyebab anak-anak berkelahi. Warga sempat menahan anak korban yang diduga penyebab kematian ayahnya berdasarkan video viral.[1][4]

 

[1](https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8280616/viral-ayah-di-muna-tewas-diduga-dipukul-saat-lerai-2-anak-kandung-berkelahi)

[2](https://20.detik.com/detikupdate/20251229-251229006/video-viral-ayah-di-sultra-tewas-seusai-lerai-2-anaknya-berkelahi)

[3](https://www.youtube.com/watch?v=0sPAft7bKxs)

[4](https://news.detik.com/berita/d-8281426/ayah-di-sultra-tewas-usai-terjatuh-saat-lerai-2-anaknya-berkelahi)

[5](https://www.tribunnews.com/regional/7772113/sang-ayah-tewas-saat-lerai-2-anak-kandungnya-berkelahi-mulutnya-keluar-busa)

[6](https://www.youtube.com/watch?v=f1pOZOaxUGo)

[7](https://ihram.co.id/ayah-di-muna-meninggal-dunia-saat-coba-pisahkan-dua-anaknya-yang-berkelahi)

[8](https://www.instagram.com/reel/DS1MK_BDHWP/)

[9](https://www.thecuy.com/2025/12/29/ayah-di-sulawesi-tenggara-tewas-setelah-terjatuh-saat-melerai-anaknya-yang-sedang-bertengkar/)

[10](https://www.tiktok.com/@detikcom/video/7589054508768972052)

 

Video: detik.com

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Tenyata Bencana Banjir Aceh Lebih parah dari dampak Tsunami yang terjadi di tahun 2004.!

Tenyata Bencana Banjir Aceh Lebih parah dari dampak Tsunami yang terjadi di tahun 2004.!

Tenyata Bencana Banjir Aceh Lebih parah dari dampak Tsunami yang terjadi di tahun 2004.!
News

Pengungsi banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang mengalami beban psikologis berat, seperti peningkatan sensitivitas emosi, mudah marah, sering melamun, hingga mimpi buruk dikejar air. Psikolog klinis Yulia Direzkia menyatakan trauma ini lebih parah daripada tsunami Aceh 2004 karena keterlambatan pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih dan layanan Kesehatan. Kondisi tenda pengungsian yang sempit, lembap, dan minim fasilitas memperburuk stres fisik serta Mental para penyintas.

 

Cerita Pengungsi

Ratnawati (54 tahun) dari Desa Suka Jadi sering emosional karena kesulitan akses air dan ketidakadilan bantuan sembako, sementara cucu-cucunya rewel dan menangis berjam-jam. Warno (56 tahun) mengaku sering melamun dan berharap malam tiba agar tak kepikiran kehancuran rumahnya. Nursahati (30 tahun) menyoroti kebutuhan konseling bagi Anak-anak yang trauma.

 

Dampak Psikologis

Pengungsi merasa lelah fisik dan mental, dengan gejala acute stress disorder yang berisiko jadi PTSD kronis jika tak ditangani, termasuk kilas balik dan ledakan emosi. Psikolog merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sejak fase darurat: amati, dengar, dan hubungkan ke bantuan dasar. Korban juga takut hujan turun, menandakan kecemasan tinggi.

 

Upaya Pemulihan

Polda Aceh telah berikan trauma healing ke 350 pengungsi di Posko Desa Sriwijaya, fokus anak, perempuan, dan lansia. TNI AL lakukan pemulihan emosional di Posko Dusun Rantau Pauh via Dinas psikologi. BKKBN Aceh prioritaskan kelompok rentan untuk pulihkan kondisi normal p

ascabencana.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Seka one
3 bulan yang lalu
Pola Asuh Yang Terlihat Baik Di Mata Orang Lain, Tapi Diam-diam Merusak Perkembangan Anak

Pola Asuh Yang Terlihat Baik Di Mata Orang Lain, Tapi Diam-diam Merusak Perkembangan Anak

News

Pola asuh yang tampak positif seperti permisif atau overprotektif sering kali merusak perkembangan otak Anak secara diam-diam dengan mengganggu regulasi emosi dan kemampuan pengambilan keputusan.

Pola Asuh Permisif

Orang tua memberikan kebebasan berlebih tanpa batas, membuat anak kreatif tapi impulsif dan kurang bertanggung jawab. Anak cenderung egois, sulit mengendalikan diri, dan rentan obesitas karena tidak ada pengawasan pola makan. Jangka panjang, ini menghambat motivasi dan disiplin otak prefrontal.

Pola Asuh Otoriter

Aturan ketat tanpa penjelasan menyebabkan harga diri rendah, agresi tinggi, dan kesulitan sosialisasi pada anak. Anak pemalu, sulit membuat keputusan sendiri, dan berpotensi memberontak di masa dewasa. Dampaknya mengubah konsep diri negatif, memengaruhi interaksi sosial dan prestasi akademik.

Pola Asuh Cuek/Overprotektif

Kurangnya perhatian atau perlindungan berlebih membuat anak tidak mandiri, cemas sosial, dan rentan masalah mental. Otak anak kehilangan kesempatan belajar ketangguhan emosional, menyebabkan rendahnya kontrol diri dan kebahagiaan. Pola demokratis dengan keseimbangan tetap ideal untuk perkembangan sehat.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Viral: Jarang Orang Tua Memastikan Mental Anak Sejak Dini

Viral: Jarang Orang Tua Memastikan Mental Anak Sejak Dini

Viral: Jarang Orang Tua Memastikan Mental Anak Sejak Dini
News

Sebuah unggahan viral di Instagram menyoroti langkah tak biasa seorang ibu yang membawa anaknya ke rumah sakit jiwa (RSJ) untuk menjalani pemeriksaan kesehatan Mental sebagai bagian dari persiapan masuk sekolah dasar. Tindakan tersebut menuai beragam respons publik dan memicu diskusi luas di media sosial.

 

Video yang diunggah akun @kanya_nareswari dan dibagikan ulang oleh sejumlah akun lain memperlihatkan seorang Anak berusia sekitar enam tahun tengah menjalani pemeriksaan di RSJ. Sang ibu disebut ingin memastikan anaknya memenuhi persyaratan administratif sekolah yang mensyaratkan surat keterangan sehat mental sebelum diterima sebagai peserta didik baru.

 

Unggahan tersebut mendapat banyak perhatian warganet. Sejumlah komentar memuji langkah sang ibu sebagai bentuk kepedulian dan kesiapan orang tua terhadap masa depan anak. Ungkapan seperti “Ibunya cerdas, anaknya cerdas” menjadi representasi apresiasi publik terhadap pendekatan yang dinilai proaktif dalam memastikan kesiapan anak mengikuti Pendidikan formal.

 

Dari sisi latar belakang, persyaratan surat keterangan kesehatan mental diketahui kerap diterapkan di beberapa sekolah, terutama dalam proses seleksi tertentu atau pada jalur pendidikan khusus. Hal ini membuat sebagian orang tua memilih langkah preventif dengan melakukan pemeriksaan sejak dini.

 

Secara sosial, tindakan tersebut dinilai berdampak positif karena mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak, yang selama ini kerap terabaikan. Pemeriksaan dini dipandang dapat membantu mencegah potensi masalah psikologis, sekaligus mengurangi risiko stigma, perundungan, atau diskriminasi di lingkungan sekolah.

 

Namun demikian, tidak sedikit pula kritik yang muncul. Sebagian warganet mempertanyakan akses layanan RSJ yang belum merata serta kekhawatiran adanya pelabelan berlebihan terhadap anak. Perdebatan pun berkembang, apakah langkah tersebut merupakan bentuk kehati-hatian yang bijak atau justru berlebihan di tengah sistem pendidikan yang dinilai kaku dalam persyaratan administratif.

 

Terlepas dari pro dan kontra, peristiwa ini membuka ruang diskusi publik mengenai peran orang tua, sekolah, dan negara dalam menjamin kesehatan mental anak sejak dini sebagai bagian integral dari dunia pendidikan.

 

Video: @kanya_nareswari

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Keberuntungan Berujung Kekacauan: Bocah 5 Tahun Gunting Rp97 Juta di Rumah

Keberuntungan Berujung Kekacauan: Bocah 5 Tahun Gunting Rp97 Juta di Rumah

Keberuntungan Berujung Kekacauan: Bocah 5 Tahun Gunting Rp97 Juta di Rumah
News

Keberuntungan Berujung Kekacauan: Bocah 5 Tahun Gunting Rp97 Juta di Rumah

 

QINGDAO — Sebuah peristiwa tak terduga terjadi di Qingdao, China, ketika seorang gadis berusia lima tahun menemukan tumpukan uang tunai bernilai besar saat bermain sendirian di rumah. Alih-alih menjadi keberuntungan, temuan itu justru berakhir dengan kekacauan setelah sang bocah menggunting uang tersebut menjadi potongan-potongan kecil.

 

Menurut laporan yang ditinjau dari sejumlah sumber, anak itu menemukan uang tunai senilai 50.000 yuan yang tersusun dalam pecahan 100 yuan. Karena mengira uang tersebut sebagai bagian dari permainan, ia menggunakan gunting untuk memotong lembaran-lembaran uang kertas tanpa menyadari nilainya.

Insiden terjadi saat orang tua tidak berada di rumah. Ketika kembali, mereka dibuat terkejut oleh kondisi uang yang sudah rusak parah. Total nilai uang yang digunting mencapai sekitar 50.000 yuan atau setara Rp96–97 juta berdasarkan kurs saat itu.

Kerugian tersebut tidak serta-merta dapat dipulihkan. Meski di China tersedia prosedur penukaran uang rusak melalui bank, prosesnya memerlukan verifikasi ketat dan tidak semua potongan uang dapat diganti sepenuhnya.

Peristiwa ini dengan cepat menjadi Viral di media sosial China. Banyak warganet menyoroti kejadian tersebut sebagai pengingat pentingnya pengawasan terhadap Anak-anak, terutama terkait penyimpanan barang berharga di rumah.

Kisah ini menunjukkan bagaimana kepolosan seorang anak dapat berujung pada kerugian besar—sebuah pelajaran mahal bagi keluarga, sekaligus pengingat bagi para orang tua tentang risiko kecil yang bisa berdampak besar.

 

Sumber: storiesfact.id

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Ketika Ayah Berbondong-Bondong Menjemput Rapor, Donatur Menyaksikan Hasil Nyata Investasi Pendidikan

Ketika Ayah Berbondong-Bondong Menjemput Rapor, Donatur Menyaksikan Hasil Nyata Investasi Pendidikan

Ketika Ayah Berbondong-Bondong Menjemput Rapor, Donatur Menyaksikan Hasil Nyata Investasi Pendidikan
News

Ketika ayah Berbondong-Bondong Menjemput Rapor, Donatur Menyaksikan Hasil Nyata Investasi Pendidikan

Pemandangan tak biasa terlihat di sejumlah sekolah pada akhir semester ini. Para ayah berbondong-bondong datang untuk menjemput rapor Anak-anak mereka. Di balik antrean dan wajah-wajah tegang bercampur harap itu, tersimpan makna lebih dalam: kehadiran orang tua, khususnya ayah, sebagai bagian nyata dari proses pendidikan anak.

Fenomena ini kerap dimaknai sebagai simbol bahwa para orang tua—yang selama ini berperan sebagai donatur utama pendidikan keluarga—akhirnya dapat menyaksikan langsung hasil dari kontribusi mereka. Rapor bukan sekadar angka, melainkan cerminan perjalanan belajar anak yang didukung oleh perhatian, waktu, dan keterlibatan orang tua.

Kehadiran para ayah tersebut sejalan dengan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), sebuah inisiatif nasional yang mendorong peran ayah untuk hadir secara fisik dalam momen penting pendidikan anak. Gerakan ini bertujuan memperkuat ikatan emosional antara ayah dan anak, sekaligus menumbuhkan semangat belajar melalui dukungan langsung dari keluarga.

Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025 yang berlaku sejak 1 Desember 2025. Surat edaran tersebut mengajak kepala daerah dan satuan pendidikan mendukung GEMAR sebagai upaya menekan fenomena fatherless yang diperkirakan mencapai 25 persen di Indonesia.

Di ruang publik, terutama media sosial, momen ini memicu beragam reaksi. Sejumlah video viral memperlihatkan halaman sekolah dipenuhi para ayah, memunculkan komentar sinis yang menyebut kehadiran mereka baru terlihat saat rapor dibagikan. Namun, tak sedikit pula warganet yang justru tersentuh melihat sisi humanis dari peristiwa tersebut.

Beberapa momen mendapat apresiasi luas, seperti seorang bupati di Ketapang yang hadir ke sekolah sebagai orang tua biasa tanpa protokoler, atau kisah ayah di Jakarta yang terharu saat menerima bunga dari anaknya setelah pembagian rapor. Potret-potret ini dinilai memperlihatkan perubahan kecil namun bermakna dalam budaya pengasuhan.

Para pendidik menilai kehadiran ayah saat pengambilan rapor bukan sekadar formalitas. Dukungan langsung dari orang tua terbukti memperkuat kepercayaan diri anak, membuka ruang komunikasi dengan guru, serta membantu orang tua memahami perkembangan akademik dan psikologis anak.

Di tengah realitas sosial Indonesia, di mana peran ayah kerap dipersempit pada fungsi pencari nafkah, gerakan ini dipandang relevan dan mendesak. Keterlibatan ayah dalam pendidikan bukan hanya berdampak pada prestasi sekolah, tetapi juga membentuk fondasi emosional dan karakter anak untuk masa depan generasi mendatang.

Video: indotoday

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan

Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan

Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan
News

Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan

Warga Konoha—sebutan satir yang kerap dipakai untuk menggambarkan Indonesia di jagat media sosial—kembali menghadirkan cerita yang bikin geleng kepala sekaligus mengundang perdebatan. Di tengah operasi pencarian korban Bencana, tim SAR gabungan disebut melibatkan seorang Anak indigo untuk membantu menunjuk lokasi korban yang tertimbun. Tiga langkah, selesai. Praktis, cepat, dan tentu saja Viral.

Peristiwa ini mencuat dari operasi pencarian korban longsor di Cilacap, Jawa Tengah. Setelah berhari-hari pencarian menggunakan alat berat, metode manual, hingga anjing pelacak, tim SAR menghadapi jalan buntu. Medan ekstrem, cuaca buruk, dan keterbatasan teknologi membuat proses evakuasi berjalan lambat. Di titik inilah, tekanan warga muncul—mendorong langkah yang dianggap “di luar buku panduan”.

Seorang anak bernama Rifal, yang oleh warga disebut memiliki kemampuan indigo, dilibatkan dalam proses pencarian. Anak tersebut diklaim mampu “melihat” atau merasakan keberadaan korban di bawah timbunan tanah. Informasi yang disampaikan kemudian dijadikan referensi tambahan bagi tim SAR di lapangan. Keputusan ini sontak memicu pro dan kontra.

Di satu sisi, warga melihat langkah ini sebagai bentuk ikhtiar terakhir. Dalam situasi darurat, apa pun dicoba demi menemukan korban. Narasi gotong royong ala Konoha pun menguat: ketika teknologi modern mentok, kearifan lokal—atau bahkan hal supranatural—dianggap layak dicoba. Di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan legitimasi dan dasar ilmiah dari pelibatan anak indigo dalam operasi penyelamatan resmi.

Tim SAR sendiri menegaskan bahwa prosedur standar tetap menjadi acuan utama. Pelibatan anak indigo disebut bukan bagian dari metode resmi, melainkan respons terhadap dorongan masyarakat dan kondisi lapangan yang serba terbatas. Operasi tetap mengandalkan alat berat, pemetaan lokasi, serta teknik pencarian konvensional. Informasi non-teknis hanya diposisikan sebagai pelengkap, bukan penentu.

Fenomena ini kembali menegaskan wajah Konoha yang paradoksal: antara rasionalitas dan kepercayaan, antara sains dan mitos, antara standar profesional dan tekanan sosial. Bagi sebagian orang, ini adalah potret kegigihan warga di tengah krisis. Bagi yang lain, ini alarm keras tentang lemahnya kesiapsiagaan bencana dan minimnya teknologi pencarian yang memadai.

Satu hal yang pasti, gebrakan ala warga Konoha selalu punya daya tarik tersendiri. Viral, kontroversial, dan memantik diskusi publik. Pertanyaannya kini bukan lagi soal percaya atau tidak pada anak indigo, melainkan sejauh mana negara benar-benar siap menghadapi bencana—tanpa harus mengandalkan “jalan pintas” yang terus berulang setiap tragedi datang.

Video: infiviral.news

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
KPK Tetapkan Bupati Bekasi dan Ayahnya Tersangka Suap Ijon Proyek Rp14,2 Miliar

KPK Tetapkan Bupati Bekasi dan Ayahnya Tersangka Suap Ijon Proyek Rp14,2 Miliar

KPK Tetapkan Bupati Bekasi dan Ayahnya Tersangka Suap Ijon Proyek Rp14,2 Miliar
News

KPK Tetapkan Bupati Bekasi dan Ayahnya Tersangka Suap Ijon Proyek Rp14,2 Miliar

 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang (ADK) bersama ayahnya, HM Kunang (HMK), sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi terkait permintaan uang ijon proyek di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Penetapan ini merupakan hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada 18 Desember 2025.

 

Selain ADK dan HMK, KPK juga menetapkan seorang pihak swasta berinisial SRJ sebagai tersangka pemberi suap. Ketiganya langsung ditahan pada 20 Desember 2025 untuk masa penahanan awal hingga 8 Januari 2026.

 

Dalam konstruksi perkara yang diungkap KPK, praktik korupsi dilakukan dengan modus permintaan uang ijon atau uang muka proyek sebelum proyek pemerintah daerah resmi ditetapkan. Sejak Desember 2024, SRJ diduga telah menyerahkan uang sebesar Rp9,5 miliar kepada ADK dan HMK melalui empat kali transaksi. Uang tersebut dimaksudkan untuk melancarkan penguasaan proyek-proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi.

 

Tak berhenti di situ, penyidik KPK juga menemukan dugaan aliran dana tambahan sebesar Rp4,7 miliar yang diterima ADK dari pihak lain sepanjang 2025. Dengan demikian, total uang yang diduga diterima mencapai Rp14,2 miliar. Dalam penggeledahan di rumah dinas Bupati Bekasi di Cikarang Pusat, KPK turut menyita uang tunai sebesar Rp200 juta sebagai barang bukti.

 

Atas perbuatannya, ADK dan HMK disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 serta Pasal 12B Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, terkait penerimaan hadiah atau janji oleh penyelenggara negara. Sementara SRJ sebagai pihak pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor.

KPK mengungkap, HMK yang menjabat sebagai Kepala Desa Sukadami diduga memanfaatkan statusnya sebagai ayah dari bupati untuk meminta uang ijon kepada pihak swasta. Komunikasi antara ADK dan SRJ disebut mulai intensif setelah ADK dilantik sebagai Bupati Bekasi pada akhir 2024. SRJ sendiri dikenal sebagai kontraktor yang kerap mengerjakan proyek-proyek Pemkab Bekasi.

Kasus ini menambah daftar kepala daerah yang terjerat korupsi dan kembali menyoroti lemahnya tata kelola proyek daerah. KPK menegaskan akan terus mendalami aliran dana serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dala

m perkara ini.

Sumber: Tirto

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Pole Vox
3 bulan yang lalu
Polresta Magelang Menangkap Empat debt collector Menculik seorang ibu dan Anak

Polresta Magelang Menangkap Empat debt collector Menculik seorang ibu dan Anak

Polresta Magelang Menangkap Empat debt collector Menculik seorang ibu dan Anak
News

Polisi Polresta Magelang memang menangkap empat debt collector (DC) asal Sleman, DIY, yang diduga menculik seorang ibu berinisial NR (44) dan anaknya (5 tahun) warga Tegalrejo, Kabupaten Magelang.​

Kronologi penculikan

Keempat pelaku berinisial JUR (33), II (30), SBM (35), dan YBF (25) datang menagih tunggakan kredit motor Anak NR pada 28 November 2025, lalu pada 3 Desember membawa korban paksa ke Polsek Tegalrejo untuk mediasi yang gagal. Alih pulang, mereka sekap korban selama dua hari di kontrakan Depok, Sleman, sambil tuntut Rp16 juta. Keluarga lapor Polisi 4 Desember.​

Proses Penangkapan

Satreskrim Polresta Magelang kejar pelaku hingga Seturan, Sleman, tangkap pada 5 Desember dini hari pukul 02.00 WIB setelah kejar-kejaran. Korban diselamatkan dalam kondisi sehat; pelaku dijerat Pasal 329 dan 335 KUHP tentang penculikan dengan ancaman 9 tahun penjara.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap