Monthly Archives: Desember 2020
Biografi John Dewey, Pencipta Teori Learning by Doing
Pewartanusantara.com - Bagi Anda pecinta filsafat, pasti tak asing lagi dengan nama John Dewey. Kiprahnya sebagai filsuf Amerika membawa ide-ide besar yang berpengaruh terhadap dunia. Kira-kira seperti apa sosok Jonh Dewey dan pemikiran besarnya? Di sini Anda akan mengenal biografi John Dewey.
Siapa John Dewey?
John Dewey merupakan seorang filsuf Amerika yang lahir di Burlington, Vermont, Amerika Serikat pada 20 Oktober 1859. Setelah lulus dengan gelar sarjana pada 1879 di University of Vermont, ia melanjutkan studi untuk meraih gelar doktor di University of Hopkins pada 1884.
Dewey, begitulah ia disapa. Ia kemudian mulai mengajar filsafat dan psikologi di University of Michigan. Seiring waktu, minatnya bergeser dari filosofi Friedrich Hegel ke psikologi eksperimental baru yang diserukan Stanley Hall dan William James.
Ketertarikannya dengan psikologi anak, mendorong dirinya untuk mengembangkan filosofi pendidikan sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat demokratis yang berubah. Selanjutnya ia bergabung dengan fakultas filsafat University of Chicago. Di sana ia mulai menumbuhkan pedagogi progesifnya melalui Sekolah Laboratorium.
Selain itu, ia juga mendirikan sekolah untuk menguji atau mempraktikkan teorinya. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, ia bekerja keras mendidik dan mengumpulkan orang-orang yang akan meneruskan cita-citanya.
Menarik! Berikut Fakta John Dewey
Fakta menarik John Dewey yang perlu Anda ketahui adalah kiprahnya yang begitu besar di dunia pendidikan. Dewey menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan. Dari pendidikan sarjana hingga doktoral konsistensi dan ide-ide besar pendidikan digelutinya.
Sementara itu, profesinya sebagai dosen yang kemudian mendirikan sekolah sebagai uji coba langsung terhadap teorinya, menjadikan ia dikenal sebagai guru besar pendidikan Amerika. Kontradiksi pendidikan tradisonal di sana menuai kritik yang kemudian ia tuangkan dalam bukunya. Hal inilah masyarakat kemudian banyak mengenal Dewey sebagai tokoh penting pendidikan.
Ini Karya yang Membuat John Dewey Berpengaruh
Di bidang pendidikan, metode belajar learning by doing atau belajar sambil melakukan telah banyak dikenalkan oleh tenaga pengajar di berbagai institusi. Teori tersebut merupakan teori yang pertama kali dikenalkan oleh John Dewey. Sebenarnya karya-karya seperti apa yang telah dituai oleh seorang filsuf ini?
Pada biografi John Dewey disebutkan bahwa ia telah menyusun teori di bidang pendidikan. Oleh karenanya, karya-karya Dewey tak jauh ranahnya dari pendidikan. Karyanya yang paling terkenal adalah Experience and Education. Buku ini membahas konsep pendidikan berbasis pengalaman.
Dalam bukunya, Dewey menyampaikan kritikan terhadap pendidikan tradisional. Ia menyebutkan bahwa pendidikan tradisional cenderung memaksakan para pelajar muda. Mulai dari pemberian beban yang menekan standar sampai dengan mata pelajaran dan metode orang dewasa. Hal itulah yang justru diajarkan kepada mereka yang baru saja tumbuh belajar.
Kurikulum pendidikan kemudian menuntut sikap peserta didik agar patuh, tetapi tidak memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi materi yang diberikan. Hal itu dipandang Dewey bahwa pendidikan tradisional tidak cukup memadai untuk menyelesaikan persoalan. Metode yang seharusnya benar adalah pendidikan yang berbasis pada pengalaman.
Konsepsi Pendidikan Menurut Dewey
John Dewey berkeyakinan bahwa pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang berdasarkan pengalaman. Namun, pengalaman juga ada yang bersifat mendidik dan ada yang tidak mendidik. Pengalaman yang tidak mendidik itulah yang justru akan merusak pendidikan. Lantas, pendidikan berbasis pengalaman seperti apa yang benar?
Pendidikan berbasis pengalaman adalah cara mendidik dari pengalaman kemudian disampaikan melalui pengalaman dan bertujuan untuk memberikan pengalaman. Dari konsep learning by doing inilah, peserta didik dapat meningkatkan kualitas pengalaman yang semakin baik untuk pertumbuhan.
Prinsip yang dipegang dalam metode ini adalah kesinambungan pengalaman dan prinsip interaksi. Pengalaman yang satu harus dapat berperan terhadap pengalaman selanjutnya. Inilah yang disebut sebagai kesinambungan pengalaman.
Adapun prinsip interaksi berarti dari pengalaman yang ada diharapkan dapat merangsang seseorang untuk bertindak. Tindakan ini harus dapat memengaruhi pengalaman berikutnya. Akibatnya selalu terjadi interaksi antara sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
“Give the pupils something to do, not something to learn; and the doing is of such a nature as to demand thinking; learning naturally results.”
―
Pelajaran yang dapat diambil dari biografi John Dewey tersebut adalah apabila pendidikan saat ini memang perlu dikritik, maka kritiklah. Namun, Anda juga perlu berpikir, untuk membuat kritik, minimal Anda harus dianggap sebagai orang yang kompeten di bidang tersebut.
Baca juga: Biografi William James dan Teorinya
Baca SelengkapnyaBiografi William James dan Teorinya
Pewartanusantara.com - Siapa yang tak kenal dengan William James? Namanya sudah cukup akrab di telinga berbagai kalangan, terutama bagi para pecinta ilmu filsafat. Filsuf sekaligus psikolog dari Amerika Serikat ini sudah banyak menyampaikan teori-teori seputar ilmu filsafat yang sangat terkenal hingga kini. Oleh karena itu, kali ini akan dibahas tentang biografi William James sekaligus beberapa teorinya yang terkenal.
Pendidikan dan Karir William James
Pembahasan tentang biografi William James akan dimulai dari pendidikannya. William James lahir pada 11 Januari 1842 di New York. William James mendapat pendidikan yang cukup baik walaupun ia harus pergi berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mengikuti sang ayah. Hal ini dilakukan sang ayah dengan maksud agar William James dapat terus berkembang.
Semasa kanak-kanak, William James mengenyam pendidikan di sebuah sekolah umum. Ia juga belajar dari beberapa guru yang khusus dipanggil oleh ayahnya saat mereka tinggal di Swiss, Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat. William James kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Harvard yakni pada tahun 1972.
Pada awalnya, ia mempelajari tentang ilmu fisiologi. Namun, ia beralih mempelajari tentang ilmu psikologi serta ilmu filsafat. William James memulai karirnya pada usia 35 tahun dengan menjadi dosen di Universitas Harvard.
Tak hanya menjadi seorang dosen, William James juga menjadi salah satu instruktur di bidang fisiologi dan anatomi selama tujuh tahun lamanya. Seiring berjalannya waktu, karirnya semakin bersinar. Ia pun akhirnya diangkat menjadi seorang guru besar di bidang ilmu filsafat selama 9 tahun lamanya. Ia juga pernah menjabat sebagai guru besar dalam bidang ilmu psikologi selama 10 tahun.
Karir Di Bidang Kepenulisan
Karirnya dalam bidang kepenulisan juga tak kalah cemerlang. Berkat tulisan yang ia buat, William James mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia pendidikan di Amerika Serikat pada masa itu. Salah satu karyanya yang memiliki pengaruh besar adalah The Principles of Psychology yang terbit pada tahun 1980.
Karyanya yang berjudul Talks to Teacher juga cukup terkenal dan memberikan dampak yang tak kalah besar pada dunia pendidikan zaman itu. Dalam karyanya ini, William James menuangkan berbagai macam pemikirannya terkait cara mengajar para guru.
Teori William James
- Teori Perkembangan
Teori pertama yang dikemukakan oleh William James adalah Teori Perkembangan. Teori ini berbicara tentang pengaruh pengalaman mental untuk bertahan hidup. Teori ini ia kemukakan berdasarkan pengalamannya selama mempelajari tentang psikologi hewan serta doktrin tentang teori evolusi biologi.
Melalui teori ini, William James ingin menyampaikan pendapatnya bahwa akar dari segala pendidikan adalah kumpulan insting asli dari anak-anak itu sendiri. Ia juga ingin menegaskan agar masyarakat membiarkan anak-anak untuk mengikuti insting mereka masing-masing. Dengan begitu, anak-anak dapat dikenalkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik.
- Teori Kesadaran
Teori kedua dari William James yaitu Teori Kesadaran. Teori Kesadaran ini ia jelaskan secara lebih lengkap melalui karyanya yang berjudul The Principles of Psychology. Melalui teori ini, William James ingin menyampaikan pandangannya bahwa ilmu psikologi dan ilmu filsafat memiliki kaitan yang erat satu sama lain.
Dengan adanya teori ini, William James ingin menyampaikan pendapatnya bahwa kesadaran yang dimiliki oleh seseorang memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap terbentuknya kehidupan religius orang tersebut.
“Seek out that particular mental attribute which makes you feel most deeply and vitally alive, along with which comes the inner voice which says, 'This is the real me,' and when you have found that attitude, follow it.”
―
Demikianlah informasi mengenai biografi William James. Bagi Anda para pecinta filsafat, buku-buku karya William James nampaknya wajib untuk ada dalam daftar buku bacaan Anda. Selamat membaca.
Baca juga: Biografi Charles Sanders Peirce, Sang Bapak Pragmatisme
Baca SelengkapnyaBiografi Charles Sanders Peirce, Sang Bapak Pragmatisme
Pewartanusantara.com - Bagi Anda pecinta ilmu filsafat, pasti sudah tidak asing lagi dengan seorang tokoh yang bernama Charles Sanders Peirce. Namun, bagi Anda yang belum terlalu mengenalnya atau bahkan masih asing ketika mendengar namanya, nampaknya Anda wajib untuk membaca ulasan di bawah ini. Ulasan ini akan membahas tentang biografi Charles Sanders Pierce dan ilmu-ilmu yang ia geluti semasa hidupnya.
Charles Sanders Peirce
Berbicara tentang biografi Charles Sanders Pierce pastinya tak lepas dari kisah masa kecil serta pendidikannya. Charles Sanders Pierce lahir di Cambridge, Massachussetts, tepatnya pada 10 September 1839. Ia terlahir dari pasangan Benjamin Pierce dan Sarah Hunt Mills. Ayahnya, Benjamin Pierce merupakan seorang ahli Matematika dan Astronomi dari Universitas Harvard.
Ketika usianya menginjak 12 tahun, ia mulai tertarik pada ilmu-ilmu yang berkaitan dengan logika dan penalaran. Ketertarikannya pada ilmu logika itu muncul setelah ia membaca sebuah buku milik kakaknya, Richard Whately, yang berjudul Elements of Logic.
Tak heran, jika pada akhirnya Charles Sanders Pierce mengikuti jejak sang ayah. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Harvard dan berhasil lulus pada tahun 1863. Ia lulus dengan predikat cum laude dan juga berhasil menyandang gelar di bidang ilmu kimia.
Tak hanya mampu mendapatkan gelar di bidang ilmu kimia saja, namun Charles Sanders Pierce juga berhasil mendapatkan dua gelar lain pada tahun sebelumnya. Keduanya adalah gelar Bachelor of Arts dan gelar Master of Arts.
Karir Charles Sanders Pierce
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Harvard, Charles Sanders Pierce memutuskan untuk bekerja sebagai anggota staff dari sebuah institusi pemerintahan. Institusi ini bernama The United States Coast and Geodetic Survey. Ia masuk pada tahun 1861. Charles bekerja di institusi pemerintahan tersebut selama kurang lebih 30 tahun lamanya.
Tak hanya itu, ternyata pada tahun 1869, Charles Sanders Pierce juga pernah bekerja di Observatorium Harvard selama beberapa tahun. Walaupun Charles Sanders Pierce belajar dan terdidik sebagai seorang ahli dalam bidang kimia, namun kiprahnya di bidang ilmu yang lain juga tak kalah cemerlang.
Charles Sanders Pierce memberikan cukup banyak kontribusi dalam bidang logika, filsafat, matematika, serta semiotika atau semiologi. Salah satu kontribusinya adalah penemuannya tentang Pragmatisme. Berkat penemuannya yang sangat fenomenal ini, namanya masih diingat oleh banyak orang hingga kini.
Akhir hidup Charles Sanders Pierce
Charles Sanders Pierce meningal pada 19 April 1914 tepatnya di Milford, Pennsylvania. Saat itu ia sudah berusia kurang lebih 75 tahun. Semasa hidupnya, ia sudah menuliskan banyak pemikirannya. Ia terkenal sangat aktif dalam menuangkan segala pikiran dan pandangannya tentang berbagai macam ilmu yang ditekuninya, bahkan hingga masa tuanya.
Sudah ada hampir 12.000 karyanya yang dipublikasikan kepada banyak orang dan masih ada kurang lebih 80.000 karyanya yang belum selesai maupun yang belum dipublikasikan kepada khalayak ramai. Kebanyakan dari karyanya mengangkat topik tentang ilmu matematika, ilmu fisika, ekonomi, psikologi, dan masih banyak lagi tentang ilmu-ilmu sosial lainnya.
Berkat segala kepandaian, kontribusinya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, serta penemuannya yang sangat terkenal tentang Pragmatisme, Charles Sanders Pierce, mendapat panggilan sebagai Pierce “Pragmatism” atau Bapak Pragmatisme.
“Few persons care to study logic, because everybody conceives himself to be proficient enough in the art of reasoning already. But I observe that this satisfaction is limited to one's own ratiocination, and does not extend to that of other men.” ―
Biografi Charles Sanders Pierce ini memang selalu menarik diulas dan dibaca oleh para pengagumnya, maupun penekun dunia intelektual. Seorang filsuf dari Amerika ini memiliki kiprah yang besar dalam dunia intelektual, khususnya dengan berbagai karya yang telah diterbitkannya.
Baca juga: Bografi Ernst Mach dan Teknik Shadowgraphnya
Baca SelengkapnyaBografi Ernst Mach dan Teknik Shadowgraphnya
Pewartanusantara.com - Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar nama Ernst Mach? Mungkin Anda akan berpikir bahwa Ernst Mach adalah seorang profesor atau mungkin seorang ilmuwan. Bahkan mungkin ada diantara Anda yang belum pernah mendengar namanya. Nah, agar Anda bisa lebih mengenalnya, langsung saja simak penjelasan tentang biografi Ernest Mach di bawah ini.
Masa Kecil Ernst Mach
Hal pertama yang akan dibahas kali ini adalah tentang biografi Ernst Mach secara umum. Ernst Waldfried Josef Wenzel Mach atau yang lebih dikenal dengan nama Ernst Mach lahir pada tanggal 8 Februari 1838 di Chrlice, Moravia, Austria. Ernst Mach menghabiskan masa kecilnya di daerah yang terpencil dan ia hanya mendapatkan pengajaran dari kedua orang tuanya.
Ayah Ernst Mach, Johan, adalah seorang peternak ulat sutera. Walaupun hanya seorang peternak ulat sutera, ayah Ernst Mach adalah orang yang sangat berpendidikan. Ia juga merupakan pecinta sastra klasik. Sedangkan ibunya adalah pecinta musik dan puisi.
Hingga Ernst Mach berusia 14 tahun, ayahnya sudah mengajarinya banyak hal. Mulai dari ilmu sejarah, aljabar, hingga geometri. Saat usianya sudah mencapai 15 tahun, ayahnya mulai menyekolahkannya ke sebuah sekolah umum di Vienna. Selama bersekolah di sekolah umum tersebut, ia mulai tertarik pada berbagai macam ilmu pengetahuan.
Pendidikan dan Karir Ernst Mach
Pada tahun 1855, Ernst Mach diterima sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Vienna. Selama masa perkuliahannya, ia mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan matematika, fiska, filsafat, serta sejarah. Hingga akhirnya, pada tahun 1860, ia menerima gelar doktor fisika.
Pada awal karirnya, ia memilih pekerjaan yang berkaitan dengan efek Doppler khususnya pada bidang optik dan akustik. Namun, pada tahun 1864, ia memilih untuk bekerja sebagai Profesor Matematika di Universitas Graz. Berkat kepandaiannya, karirnya semakin lama semakin meningkat. Pada tahun 1866, Ernst Mach ditunjuk sebagai Profesor Fisika di universitas yang sama.
Ernst Mach kemudian menikah dengan Ludovica Marrusig pada tahun 1897. Di tahun yang sama, ia juga berhasil menyandang gelar professor dalam bidang fisika eksperimental dari Universitas Prague.
Teknik Shadowgraph
Selama 28 tahun tinggal di Praha bersama dengan sang istri, Ernst Mach sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 100 makalah buatannya sendiri. Kebanyakan dari makalahnya berbicara seputar permasalahan teknik. Salah satu makalah teknik buatannya yang sangat fenomenal yaitu berbicara tentang Teknik Shadowgraph.
Teknik Shadowgraph ini ia jelaskan secara lebih mendalam pada makalahnya yang berjudul Photograpische Fixierung der durch Projektile in der Luft eingleiten Vorgange pada tahun 1887 di Academy of Sciences di Vienna. Pada makalahnya ini, Ernst Mach juga mengangkat topik tentang fotografi untuk pertama kalinya.
Ernst Mach mengatakan bahwa di dalam teknik fotografi ada sebuah gelombang kejut atau yang dikenal dengan shock wave. Gelombang kejut ini terbentuk karena adanya peluru yang melesat melampaui batas kecepatan suara. Teknik yang digunakan untuk menangkap gelombang kejut inilah yang ia namakan dengan Teknik Shadowgraph.
Akhir hidup Ernst Mach
Setelah karirnya yang gemilang, pada tahun 1895, Ernst Mach kembali ke Vienna bersama dengan istri dan anaknya, Ludwig. Pada tahun 1897, Ernst Mach terkena penyakit stroke sehingga tangan kanannya tidak dapat digerakkan. Ernst Mach meninggal pada 19 Februari 1916.
“obviously it matters little if we think of the earth as turning about on its axis, or if we view it at rest while the fixed stars revolve around it. Geometrically these are exacly the same case of a relative rotation of the earth and the fixed stars with respect to one another.”
―
Menarik bukan sekelumit tentang biografi Ernst Mach di atas? Bagi Anda yang kini menekuni dunia akademik informasi mengenai tokoh-tokoh intelektual dalam sejarah ini tentu sangat penting untuk menjdi wawasan tambahan sekaligus motivasi.
Baca juga: Biografi Alfred North Whitehead, Sang Filsuf yang Cerdas Sejak Kecil
Baca SelengkapnyaBiografi Alfred North Whitehead, Sang Filsuf yang Cerdas Sejak Kecil
Pewartanusantara.com - Siapa bilang jika seorang filsuf haruslah yang mempelajari filsafat sejak awal karirnya? Tentu saja tidak, seperti Alfred North Whitehead yang merupakan seorang matematikawan asal Inggris yang kemudian menjadi seorang filsuf. Semula ia menulis tentang ilmu aljabar, logika, fisika, metafisika dan berbagai ilmu lainnya. Berikut biografi Alfred North Whitehead yang perlu Anda ketahui.
Riwayat Hidup
Sosok Alfred North Whitehead tidak hanya terkenal pasca menjadi seorang filsuf saja, tapi sejak kecil, ia sudah menjadi bahan perbincangan. Ini tidak lain karena ia pintar dan baik dalam hampir semua pelajaran, termasuk olahraga. Ayah Alfred adalah seorang pendeta yang juga memiliki banyak teman.
Alfred North Whitehead adalah lulusan Trinity College, Cambridge pada jurusan Matrikulasi di tahun 1880 dan menyandang gelar BA empat tahun kemudian. Saking cerdasnya, Alfred pernah memenangkan lomba yang merupakan pembahasan teori Maxwell mengenai teori elektrisiti dan magnetisme. Karenanya, Alfred kemudian mendapat beasiswa dan diminta untuk menjadi asisten dosen.
Pada tahun 1888, Alfred dipromosikan menjadi pengajar di Cambridge, padahal sebelumnya ia sudah lebih dulu mengajar di Girton College. Sayangnya, waktu mengajarnya di Cambridge tidak lama karena terganjal kasus yang mengatakan bahwa umur pengajar harus lah setidaknya 25 tahun.
Menikah dengan pujan hati yang bernama Evelyn Wade di London pada tahun 1890, Alfred North Whitehead dikaruniai sepasang anak laki-laki dan perempuan. Sosok Evelyn berbeda dengan Alfred yang pendiam sehingga dia menjadi sosok yang bersemangat mempelajari matematika murni beserta dengan mencanangkan proyek penulisan Treatise on Universal Algebra.
Dalam salah satu biografi Alfred North Whitehead dikatakan bahwa dulunya ia mengikuti kepercayaan kedua orangtua yang merupakan pengikut Anglikan. Namun, setelah menikah Alfred mengalami pertentangan batin selama hampir 7 tahun yang kemudian memutuskan untuk berpindah ikut Gereja katolik.
Kerja Sama dengan Bertrand Russel
Saat di Cambridge tahu 1890, Alfred bertemu dengan Bertrand Russel yang kebetulan pada saat itu, Alfred adalah seorang penguji. Alfred kemudian membantu Russel untuk mendapatkan beasiswanya. Sampailah keduanya dalam bekerja sama pada tahun 1900 dan membuat karya yang besar Principia Mathematica.
Keduanya merasa dekat terlebih sama-sama sadar bahwa mengidolakan satu orang yang sama yaitu Peano mengenai dasar-dasar matematika yang disampaikannya. Ketika itu keduanya sedang sama-sama melakukan penelitiannya sendiri sampai akhirnya Alfred gagal dan bekerja sama dengan Russel dengan hasil 3 jilid buku yang terbit pada tahun 1910, 1912 dan 1913.
Banyak yang berpendapat bahwa buku hasil kerja sama keduanya luar biasa. Ini di dasari oleh berbedanya latar belakang antara Alfred dan dan Russel yang notabene Alfred adalah seorang matematikiawan. Sedangkan Russel sendiri adalah filsuf dan buku yang dihasilkan adalah mengenai dasar-dasar matematika dengan logika.
Selain buku yang ditulis dengan Bertrand Russel, Alfred juga menulis karya lainnya yaitu Process and Reality (1929) yang merupakan buku tentang metafisika terbesar. Dalam buku tersebut, Alfred menjelaskan bahwa proses lah sebagai konstituen metafisika dasar dari dunia.
“The misconception which has haunted philosophic literature throughout the centuries is the notion of 'independent existence.' There is no such mode of existence; every entity is to be understood in terms of the way it is interwoven with the rest of the universe.”
―
Masa Tua Sang Filsuf
Meninggal pada tahun 1947 di Amerika Serikat, banyak penghargaan yang diterima oleh Alfred North Whitehead semasa hidupnya. Ia pernah menjabat sebagai dosen di London selama 10 tahun sebelum akhirnya mendapat tawaran sebagai professor di Harvard pada tahun 1924 sampai pensiun. Dalam salah satu biografi Alfred North Whitehead disebutkan bahwa ia menerima medali Sylvester pada tahun 1925.
Baca juga: Konsep Pemikiran Demokritus, Filsuf Atomis Pra-Sokratik (460 SM – 370 SM)
Baca SelengkapnyaKonsep Pemikiran Demokritus, Filsuf Atomis Pra-Sokratik (460 SM – 370 SM)
Pewartanusantara.com - Demokritus merupakan salah satu filsuf terkenal dalam mazhab Atomisme, mazhab yang diperkenalkan oleh Leukippos. Demokritus sendiri merupakan murid dari Leukippos. Tak hanya menjadi murid dari Leukippos saja, Demokritus juga pernah mendapat ilmu dari Anaxagoras dan Philolaos.
Demokritus lahir di wilayah Abdera yang ada di pesisir Thrake, kawasan Yunani Utara dari sebuah keluarga yang kaya raya. Semasa mudanya, ia memakai harta warisannya untuk melakukan perjalanan ke Mesir serta berbagai negeri Timur lainnya. Sayangnya, tak banyak yang bisa diketahui dari riwayat Demokritus karena sebagian besar catatan tentang hidupnya sudah tercampur dengan sejumlah legenda dan sulit dipercaya kebenarannya.
Walau Demokritus hidup di masa yang sama dengan Sokrates, bahkan lebih muda, nyatanya Demokritus tetap masu ke dalam golongan filsuf pra-sokratik karena ia mengembangkan ajaran atomisme Leukippos yang termasuk filsuf pra-sokratik. Bahkan ajaran Leukippos dengan Demokritus seakan tak terpisahkan. Filsafat Demokritus sendiri juga sempat tak dikenal di wilayah Athena dalam kurun waktu yang lama. Plato misalnya, ia tak mempelajari tentang atomisme dan barulah Aristoteles yang menaruh perhatian pada pandangan atomisme tersebut.
Ia memiliki argumen bahwa alam semesta terdiri dari ruang kosong dengan partikel-partikel yang tak kasat mata, tak bisa dibagi lagi ke bagian yang lebih kecil, yang jumlahnya tidak terhingga. Partikel-partikel ini, pada dasarnya memiliki kesamaan, kalaupun diantara mereka ada yang berbeda, maka perbedaan tersebut hanyalah dari segi bentuk, kedudukan ataupun susunannya saja. Partikel-partikel yang tidak bisa dibagi-bagi lagi ini kemudian disebut dengan atom. Kata 'atomos' dimana 'a' berarti tidak, dan 'tomos' berarti dibagi.
Diantara atom-atom yang tak terhingga jumlahnya tersebut, ada ruang kosong yang memungkinkan atom melakukan pergerakan. Pergerakan diantara atom inilah yang kemudian membentuk segala macam benda. Lewat konsep atom ini, Demokritus berargumen bahwa alam semesta serta manusia juga terbentuk dari atom-atom yang saling bereaksi satu sama lain.
Awalnya atom-atom yang bergerak ke segala arah di ruang kosong saling bertabrakan lalu mengait. Atom yang saling bergerak kemudian membentuk sebuah gerakan memutar menyerupai angin puting beliung hingga menarik atom-atom lain. Atom yang besar tertarik ke pusat putaran lalu berkumpul, sementara atom yang lebih kecil terlempar ke tepi hingga akhirnya proses tersebut tercipta alam semesta.
Demokritus juga berpendapat bahwa pola dan arah gerak atom adalah ke segala arah, tak selalu ke atas dan ke bawah saja. Selama bergerak di dalam ruang kosong tersebut, atom akan saling bertabrakan dengan atom lain dan dengan bentuknya yang tak teratur, atom-atom tersebut bisa saling mengait hingga terkunci, mengelompok ataupun berkombinasi dan akhirnya membentuk berbagai macam benda yang bisa diketahui. Benda tersebut bisa diketahui atau dikenali karena mereka menghasilkan gambar atau jejak kecil (eidola).
Eidola yang diterima oleh pancaindra lalu bereaksi dengan jiwa yang juga terbentuk dari atom-atom sehingga membuat kita, manusia bisa melihat, mencium bau, mendengar serta merasakan keberadaan berbagai macam benda. Dengan kata lain, proses pertumbuhan merupakan hasil dari pengelompokan atom sementara pembusukan merupakan proses terurainya atom.
“Men ask for health in their prayers to the gods: they do not realize that the power to achieve it lies in themselves. Lacking self-control, they perform contrary actions and betray health to their desires.”
―
Argumen Demokritus ini ditentang Aristoteles hingga teori atom tidak lagi berkembang hingga 2.000 tahun lebih. Hal ini lebih karena besarnya pengaruh Aristoteles pada masa itu dibanding Demokritus, argumen yang lebih berdasar tersebut justru diabaikan. Sebenarnya sanggahan Aristoteles sendiri berbeda dari apa yang dimaksud Demokritus.
Baca: Kehidupan Dramatis Aristoteles, Sang Bapak Ilmu Pengetahuan (384 SM – 322 SM)
Baca SelengkapnyaKehidupan Dramatis Aristoteles, Sang Bapak Ilmu Pengetahuan (384 SM – 322 SM)
Pewartanusantara.com - Aristoteles lahir di tahun 385 SM, tepatnya di sebuah kota yang bernama Stageira, Chalcidine. Ia adalah anak dari Nicomachus, dokter pribadi Raja Amytas di Makedonia. Aristoteles muda mendapatkan didikan aristokrat sampai ia berusia 17 tahun. Untuk melanjutkan belajarnya tersebut, ia kemudian pergi ke Athena untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi milik Plato. Ia kemudian tinggal di akademi selama 20 tahun hingga Plato meninggal.
Aristoteles kemudian menikah bersama Pythias yang sayangnya tak lama kemudian, istrinya tersebut meninggal dunia. Aristoteles kemudian menutuskan untuk menikah lagi dengan wanita bernama Herpyllis. Dari pernikahannya dengan Herypyllis tersebut, Aristoteles memiliki anak laki-laki yang kemudian ia beri nama sebagai Nicomachus.
Plato menjadi sosok yang sangat disukai oleh Aristoteles. Dan setelah Plato meninggal, Aristoteles pun memutuskan untuk pergi ke tempat lain, dan diantara tempat yang pernah ia kunjungi adalah Xenocrates, Lesbos dan Theophrastus. Selama perjalanannya tersebut, Aristoteles sempat melakukan riset dalam bidang Botani maupun Zoologi bersama rekan-rekannya.
Alexander Agung muda juga sempat menjadi salah satu murid Aristoteles. Alexander, putra dari raja Philip yang berkuasa di Makedonia pada masa itu, masih berusia 13 tahun. Kemudian di tahun 335 SM, saat Alexander naik tahta kerajaan sebagai raja, Aristoteles memutuskan untuk pindah ke Athena. Ia merasa bahwa ilmu yang dibekalkan kepada Alexander sudah cukup untuk menjadi seorang raja.
Alexander Agung dengan pencapaiannya yang luar biasa, menjadi sosok penguasa diktator yang membuat Aristoteles kurang setuju kepimpinannya tersebut. Hubungan diantara Alexander dengan Aristoteles pun bisa dikatakan kurang harmonis, bahkan Alexander sempat berniat membunuh Aristoteles. Hingga sepupu Aritoteles dijatuhi hukuman mati oleh Alexander dengan tuduhan pengkhianatan.
Walau bagaimanapun, Aristoteles memiliki hubungan yang erat dengan rakyat Athena dan menjadi tokoh terpercaya. Ia mendirikan sebuah akademi yang kemudian diberi nama Lyceum dan sempat ia kelola 12 tahun lamanya. Aristotles sendiri tetap memberikan kontribusi dengan karya yang luar biasa di tengah kesibukannya mengelola perguruan tinggi di Athena tersebut.
Karya-karya yang dihasilkan Aristoteles tersebut diantaranya berupa buku diktat untuk akademi dan tidak pernah diterbitkan di luar perguruan tinggi. Beberapa buku diktat kuliah tersebut diantaranya Physics, Metaphysics, Politics, Nicomachean Ethics dan De Anima. Tak sedikit sumbangsih yang diberikan oleh Aristoteles untuk ilmu pengetahuan. Sebut saja dari bidang ilmu pengetahuan alam, filsafat, ilmu pendidikan, ilmu budaya asing, sastra dan puisi. Hingga saat ini, Aristoteles memiliki 47 karya yang sekaligus membuatnya dikenal menguasai berbagai bidang ilmu.
Aristoteles mungkin memiliki banyak kesamaan dengan Plato, tetapi ada pula metode dapat dibedakan di antara kedua tokoh tersebut. Aristoteles memperkenalkan metode ilmiah dengan sifat deduktif dan induktif, sementara Plato mengenalkan metode ilmiah yang bersifat deduktif dan apriori, yang mana penilaian benar dan salah diberikan sejak sebelum terjadi ataupun saat mengalami kejadian. Metode berpikir deduktif ini masih digunakan hingga sekarang di tiap pelajaran yang membahas terkait logika formal.
Aristoteles memiliki penilaian bahwa ilmu pengetahuan bisa dijelajahi dengan cara praktis empiris, teoritik maupun seni puitis. Selain itu, Aristoteles juga masih memiliki kerangka berfikir lainnya yaitu yang membahas tentang silogisme yang digunakan dalam menarik suatu kesimpulan berdasar pada fakta-fakta yang sudah ada.
“Excellence is never an accident. It is always the result of high intention, sincere effort, and intelligent execution; it represents the wise choice of many alternatives - choice, not chance, determines your destiny.”
―
Tak heran jika kemudian Aristoteles dianggap sebagai Bapak Ilmu Empiris karena memang ialah yang pertama kali menggagasnya. Pengumpulan data harus dilakukan dengan komprehensif dan sistematis. Alam semesta, menurut Aristoteles, memiliki tujuan dalam hal penciptaannya yang kemudian menghasilkan konsekuensi yang disebutnya sebagai filsafat etika. Filsafat etika di mana setiap tindakan yang dilakukan manusia, sudah dipikirkan secara rasional dan bijaksana dengan tujuan untuk kebajikan.
Baca juga: Biografi Plato dan Pemikirannya (427 SM – 347 SM)
Baca Selengkapnya