Sosok
138 Views

Konsep Pemikiran Demokritus, Filsuf Atomis Pra-Sokratik (460 SM – 370 SM)

Demokritus
Ilustrasi: Youtube

Pewartanusantara.com – Demokritus merupakan salah satu filsuf terkenal dalam mazhab Atomisme, mazhab yang diperkenalkan oleh Leukippos. Demokritus sendiri merupakan murid dari Leukippos. Tak hanya menjadi murid dari Leukippos saja, Demokritus juga pernah mendapat ilmu dari Anaxagoras dan Philolaos.

Demokritus lahir di wilayah Abdera yang ada di pesisir Thrake, kawasan Yunani Utara dari sebuah keluarga yang kaya raya. Semasa mudanya, ia memakai harta warisannya untuk melakukan perjalanan ke Mesir serta berbagai negeri Timur lainnya. Sayangnya, tak banyak yang bisa diketahui dari riwayat Demokritus karena sebagian besar catatan tentang hidupnya sudah tercampur dengan sejumlah legenda dan sulit dipercaya kebenarannya.

Walau Demokritus hidup di masa yang sama dengan Sokrates, bahkan lebih muda, nyatanya Demokritus tetap masu ke dalam golongan filsuf pra-sokratik karena ia mengembangkan ajaran atomisme Leukippos yang termasuk filsuf pra-sokratik. Bahkan ajaran Leukippos dengan Demokritus seakan tak terpisahkan. Filsafat Demokritus sendiri juga sempat tak dikenal di wilayah Athena dalam kurun waktu yang lama. Plato misalnya, ia tak mempelajari tentang atomisme dan barulah Aristoteles yang menaruh perhatian pada pandangan atomisme tersebut.

Ia memiliki argumen bahwa alam semesta terdiri dari ruang kosong dengan partikel-partikel yang tak kasat mata, tak bisa dibagi lagi ke bagian yang lebih kecil, yang jumlahnya tidak terhingga. Partikel-partikel ini, pada dasarnya memiliki kesamaan, kalaupun diantara mereka ada yang berbeda, maka perbedaan tersebut hanyalah dari segi bentuk, kedudukan ataupun susunannya saja. Partikel-partikel yang tidak bisa dibagi-bagi lagi ini kemudian disebut dengan atom. Kata ‘atomos’ dimana ‘a’ berarti tidak, dan ‘tomos’ berarti dibagi.

Diantara atom-atom yang tak terhingga jumlahnya tersebut, ada ruang kosong yang memungkinkan atom melakukan pergerakan. Pergerakan diantara atom inilah yang kemudian membentuk segala macam benda. Lewat konsep atom ini, Demokritus berargumen bahwa alam semesta serta manusia juga terbentuk dari atom-atom yang saling bereaksi satu sama lain.

Awalnya atom-atom yang bergerak ke segala arah di ruang kosong saling bertabrakan lalu mengait. Atom yang saling bergerak kemudian membentuk sebuah gerakan memutar menyerupai angin puting beliung hingga menarik atom-atom lain. Atom yang besar tertarik ke pusat putaran lalu berkumpul, sementara atom yang lebih kecil terlempar ke tepi hingga akhirnya proses tersebut tercipta alam semesta.

Demokritus juga berpendapat bahwa pola dan arah gerak atom adalah ke segala arah, tak selalu ke atas dan ke bawah saja. Selama bergerak di dalam ruang kosong tersebut, atom akan saling bertabrakan dengan atom lain dan dengan bentuknya yang tak teratur, atom-atom tersebut bisa saling mengait hingga terkunci, mengelompok ataupun berkombinasi dan akhirnya membentuk berbagai macam benda yang bisa diketahui. Benda tersebut bisa diketahui atau dikenali karena mereka menghasilkan gambar atau jejak kecil (eidola).

Eidola yang diterima oleh pancaindra lalu bereaksi dengan jiwa yang juga terbentuk dari atom-atom sehingga membuat kita, manusia bisa melihat, mencium bau, mendengar serta merasakan keberadaan berbagai macam benda. Dengan kata lain, proses pertumbuhan merupakan hasil dari pengelompokan atom sementara pembusukan merupakan proses terurainya atom.

“Men ask for health in their prayers to the gods: they do not realize that the power to achieve it lies in themselves. Lacking self-control, they perform contrary actions and betray health to their desires.”
― Democritus

Argumen Demokritus ini ditentang Aristoteles hingga teori atom tidak lagi berkembang hingga 2.000 tahun lebih. Hal ini lebih karena besarnya pengaruh Aristoteles pada masa itu dibanding Demokritus, argumen yang lebih berdasar tersebut justru diabaikan. Sebenarnya sanggahan Aristoteles sendiri berbeda dari apa yang dimaksud Demokritus.

Baca: Kehidupan Dramatis Aristoteles, Sang Bapak Ilmu Pengetahuan (384 SM – 322 SM)

Tentang Penulis

Avatar

pewarta