Sosok
439 Views

Biografi Plato dan Pemikirannya (427 SM – 347 SM)

Plato
Foto: www.greelane.com

Pewartanusantara.com – Plato juga dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat, dimana ia menjadi sumber bagi berbagai ajaran mengenai filsafat yang digunakan oleh masyarakat hingga saat ini. Seperti yang diketahui bahwa filsafat juga sudah merasuk ke dalam ranah ilmu pengetahuan juga kaitannya dengan konsep, nalar maupun ide. Plato sendiri juga dikenal sebagai sosok yang menjelaskan tentang benua Atlantis yang hilang.

Plato terlahir di Athena, Yunani sekitar tahun 429 SM dengan ayah yang bernama Ariston dan ibunya bernama Perictione. Dalam catatan, Plato diketahui meninggal di usia 80 tahun, atau tepatnya sekitar tahun 347 SM. Oleh orangtuanya, ia diberi nama sebagai Aristokles. Nama Plato sendiri diberikan oleh gurunya karena perawakan yang tinggi, dengan wajah rupawan dan bahu yang lebar.

Semasa kecilnya, Plato mendapatkan banyak ilmu pengetahuan diantaranya tentang pelajaran menggambar, musik serta puisi. Sementara di masa remaja, Plato dikenal sebagai pemuda yang ahir membuat sajak. Sebelum ia menjadi seorang filsuf terkenal, Plato sempat menerima pendidikan dari para filsuf sebelumnya. Pelajaran filsuf pertamanya didapat dari seseorang yang bernama Kratylos yang merupakan murid Herakleitos.

Ajaran filsuf Herakleitos yang diberikan pada Kratylos menjelaskan tentang segala sesuatu akan berlalu ibarat seperti air. Sayangnya, ilmu tersebut sepertinya kurang begitu diminati oleh Plato yang belakangan justru semakin penasaran tentang Sokrates. Plato pun berusaha untuk terus mempelajari dan memahami filosofi Sokrates lebih jauh.

Kemampuan Plato dalam menyatukan unsur seni, filosofi, puisi dan ilmu, menjadikannya sebagai sosok yang begitu istimewa karena sanggup mengikuti jejak Sokrates yang sanggup menggabungkan berbagai unsur ini menjadi sebuah kesatuan. Dalam pemikirannya, Plato menolak adanya hukuman. Baginya, hukuman adalah suatu bentuk kezaliman serta perilaku yang tak bertanggungjawab yang ditunjukan kepada orang lain.

Filosofi Sokrates sendiri sepertinya banyak mendominasi diri dan pandangan yang dibuat Plato. Inilah yang kemudian membuat Plato berpikir lebih baik menjadi korban kezaliman ketimbang melakukan perbuatan zalim. Pasca meninggalnya Sokrates, Plato kemudian melakukan perjalanan menuju ke Atena. Selama perjalanan 12 tahun itu, Plato tak sekedar menjalani langkah dengan apa adanya. Ia menyempatkan diri untuk menulis dialog, buku dan terus memperdalam ilmu matematikanya.

Salah satu pemikiran Plato yang terkenal dan terus berkembang adalah tentang idea. Ide diawali dari logika rasional, atau bisa diterima oleh akal sehat lalu berkembang menjadi suatu pandangan hidup. Tak hanya menjadi sebuah pandangan hidup saja, bisa saja ide tersebut semakin berkembang menjadi dasar ilmu yang lain, seperti ilmu politik, ilmu sosial ataupun ilmu agama.

Menurut Plato, ide bisa muncul dalam diri setiap manusia, dan tak selalu bergantung kepada pendapat maupun pandangan orang lain. Tiap orang memiliki ide, walaupun perlu dicari ataupun digali lebih jauh. Hal ini sepertinya sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran Sokrates yang menjelaskan bahwa budi adalah pengetahuan.

Dengan kata lain, ajaran tentang pengetahuan adalah hal penting untuk membangun budi yang berdasar pada pengetahuan. Baik Plato maupun Sokrates, keduanya sama-sama mencari makna dibalik pengetahuan dan budi. Keduanya menjelaskan bahwa pengetahuan dan budi tidak didapatkan dari pengalaman maupun dari pandangan.

Plato menganggap bahwa ide adalah suatu kondisi yang nyata, dan bukan hasil dari sebuah pemikiran. Selain itu, ide juga tak hanya berhubungan dengan jenis, melainkan bentuk dari ide itu sendiri secara nyata maupun dalam kondisi yang sebenarnya.

“Every heart sings a song, incomplete, until another heart whispers back. Those who wish to sing always find a song. At the touch of a lover, everyone becomes a poet.”
― Plato

Plato juga memiliki argumen tentang dunia yang tidak memiliki tubuh, yaitu dunia yang bisa diketahui tanpa perlu pandangan atau pengalaman. Segala sesuatu tak harus berubah atau bergerak, tetap ada ataupun abadi. Dalam kondisi seperti ini, ide bisa menghasilkan sebuah pengetahuan yang sejati.

Baca juga: Dialektika Pemikiran Sokrates (470 SM – 340 SM)

Tentang Penulis

pewarta