Desain ilustrasi pada gerbong KAI menuai sorotan setelah beredar gambar petugas kereta bergaya anime yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Kritik terutama diarahkan pada pilihan desain dan keputusan KAI menggunakan visual tersebut ketika banyak ilustrator lokal tersedia.

Perdebatan tidak hanya berkisar pada gaya gambar, tetapi juga pada konsistensi kebijakan KAI dalam menggunakan AI. Sejumlah pengguna mengaitkan polemik ini dengan aturan lomba yang sebelumnya disebut melarang penggunaan Artificial Intelligence.

Komentar yang beredar memperlihatkan adanya pengguna yang mempertanyakan mengapa KAI tidak menggandeng ilustrator Indonesia untuk mengerjakan desain gerbong. Kritik lain menyoroti anggapan bahwa penggunaan AI pada desain tersebut tidak sejalan dengan ketentuan yang pernah disampaikan KAI dalam lomba.

Dalam percakapan yang ditampilkan, akun KAI menjawab pertanyaan tentang penggunaan AI pada pembuatan maskot dengan menyatakan bahwa Artificial Intelligence tidak diperkenankan dalam lomba. Pernyataan itu kemudian dibandingkan oleh pengguna dengan desain ilustrasi yang terpasang pada gerbong.

Perdebatan meluas setelah pengguna lain menilai KAI tidak konsisten terhadap aturan yang dibuatnya sendiri. Sebagian komentar juga mendorong adanya kolaborasi dengan seniman lokal, bukan hanya penggunaan teknologi untuk menghasilkan gambar.

Akun KAI kemudian menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan serta berterima kasih atas perhatian dan masukan yang diberikan. KAI menyebut masukan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan ke depan.
Materi percakapan lain memperlihatkan respons KAI terhadap keluhan pengguna mengenai layanan kereta melalui pesan langsung. Rangkaian tanggapan itu menjadi bagian dari konteks perbincangan tentang cara KAI berkomunikasi dengan publik, sementara polemik desain gerbong dan penerapan aturan AI masih menjadi persoalan yang diperdebatkan.