Jalan yang tampak mustahil dilalui tidak selalu berada di wilayah terpencil. Sebagian justru membelah kawasan perkotaan, pegunungan, tebing, laut terbuka, bahkan permukaan es yang membeku. Bentuknya ekstrem karena medan yang harus ditembus, bukan semata-mata karena panjang jalurnya.

Di Norwegia, Jalan Samudra Atlantik membentang sekitar 8,3 kilometer dan menghubungkan sejumlah pulau kecil melalui delapan jembatan. Tikungan yang dramatis membuat jalur ini menonjol, sementara ombak besar kadang menghantam badan jalan ketika cuaca memburuk.

Karakter bahayanya berbeda di Jalan Kematian Yungas, Bolivia. Jalur sempit ini berada di lereng Pegunungan Andes dengan jurang curam di salah satu sisi. Jalan tersebut dahulu dikenal sebagai salah satu yang paling berbahaya di dunia karena minimnya pengaman dan tingginya risiko longsor.

Di China, Jalan Pegunungan Tianmen memiliki panjang sekitar 11 kilometer dengan 99 tikungan tajam yang berkelok di lereng pegunungan. Jurang curam di sisi jalan membuat rute ini termasuk jalur yang ekstrem dan menegangkan.

Jalan Terowongan Guoliang juga dibentuk oleh medan pegunungan. Jalur sepanjang sekitar 1,2 kilometer itu dibuat dengan memahat tebing. Terowongannya memiliki jendela-jendela terbuka yang menghadap langsung ke jurang, sehingga perjalanan berlangsung di antara struktur batu dan ruang terbuka yang dalam.

Risiko tidak selalu datang dari tebing. Di Estonia, jalan khusus dibangun di atas permukaan laut yang membeku untuk menghubungkan pulau-pulau dengan daratan utama. Jalur ini hanya dapat digunakan ketika ketebalan es memenuhi standar keamanan.

Rangkaian jalur tersebut memperlihatkan bagaimana jalan dapat menjadi infrastruktur penting sekaligus ujian bagi teknik konstruksi dan penggunaannya. Tikungan tajam, jurang, ombak, longsor dan es menjadikan perjalanan sebagai bagian paling menantang dari rute, sementara kondisi setempat menentukan kapan jalur itu dapat dilalui.