Pewarta Nusantara
Add Post Menu

Ukraina

Seka one Seka one
2 bulan yang lalu

Rusia meluncurkan rudal hipersonik Oreshnik dalam serangan besar-besaran terhadap wilayah Ukraina, termasuk Lviv yang berdekatan dengan perbatasan Polandia (anggota NATO) pada 8 Januari 2026.​

 
Detail Serangan
Serangan ini merupakan penggunaan kedua rudal Oreshnik setelah Dnipro pada November 2024, ditembakkan dari Kapustin Yar dekat Laut Kaspia menargetkan infrastruktur strategis seperti fasilitas gas bawah tanah dan bengkel militer di Lviv. Rekaman CCTV menunjukkan proyektil terang menghantam target, menyebabkan kerusakan beton dan kawah di area hutan.​

 
Respons Internasional
Moskow menyebutnya balasan atas dugaan serangan drone Ukraina ke kediaman Putin (yang dibantah Kyiv dan AS), sementara Menteri Luar Ukraina Andriy Sybiha menyebut ancaman serius bagi NATO. Kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengutuk sebagai eskalasi jelas.

 

Seka one Seka one
2 bulan yang lalu

Deklarasi bersama Prancis dan Inggris untuk mengerahkan pasukan multinasional ke Ukraina pasca-gencatan senjata, yang didukung koalisi Barat termasuk NATO, memicu kecaman keras dari Rusia. Moskow menyebutnya sebagai "poros perang" provokatif yang berisiko memicu Perang Dunia III, dengan sekutu Putin seperti Viktor Medvedchuk memperingatkan konsekuensi global.

​​
Respons Rusia
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan semua fasilitas koalisi tersebut akan jadi target militer sah bagi Rusia, menolak keras keterlibatan NATO di Ukraina. Medvedchuk, politikus pro-Kremlin, menyebut deklarasi itu provokasi besar yang sengaja memperpanjang konflik menuju perang dunia.​


Konteks Deklarasi
Kesepakatan dari KTT Paris (6-7 Januari 2026) melibatkan jaminan keamanan, pemantauan teknologi tanpa pasukan AS darat, dan potensi ribuan tentara Prancis-Inggris untuk pertahanan Ukraina. Zelensky menyambutnya sebagai langkah pencegahan agresi Rusia, meski Moskow menuntut konsesi wilayah.

 

 

Pole Vox Pole Vox
2 bulan yang lalu

Klaim Rusia mengenai dugaan serangan drone terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin memicu ketegangan baru dalam konflik Rusia–Ukraina. Pemerintah Rusia menyatakan bahwa rumah Presiden Putin di wilayah Novgorod menjadi sasaran serangan 91 drone Ukraina pada 29 Desember 2025. Moskow mengklaim seluruh drone tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai target. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, drone-drone tersebut membawa bahan peledak berkekuatan tinggi dan diduga dipandu oleh sistem satelit milik NATO. Rusia secara terbuka menuding Ukraina sebagai pelaku, serta menyebut adanya keterlibatan negara-negara Barat, termasuk Inggris. Kremlin bahkan menyebut insiden ini sebagai “aksi teroris” dan menganggapnya sebagai serangan langsung terhadap kepala negara Rusia. Meski demikian, Rusia menolak mempublikasikan bukti visual terkait dugaan serangan tersebut. Pihak Kremlin beralasan seluruh drone telah dihancurkan di udara, sehingga tidak ada rekaman yang dapat ditunjukkan kepada publik. Sebagai respons politik dan militer, Rusia mengumumkan pengiriman rudal nuklir Oreshnik ke Belarus, yang dipandang sebagai langkah demonstratif untuk menunjukkan kekuatan dan kesiapan strategisnya. Presiden Vladimir Putin juga dilaporkan menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam komunikasi tersebut, Putin memperingatkan bahwa serangan terhadap wilayah atau simbol kepemimpinan Rusia tidak akan dibiarkan tanpa balasan, meskipun Moskow tidak merinci bentuk respons lanjutan yang dimaksud. Di sisi lain, Ukraina dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut klaim Rusia sebagai fabrikasi yang tidak disertai bukti konkret. Kyiv menegaskan bahwa pasukannya tidak terlibat dalam serangan terhadap kediaman Presiden Rusia dan menantang Moskow untuk menunjukkan verifikasi independen atas insiden itu. Ukraina juga menyatakan telah membahas isu tersebut dalam komunikasi dengan Amerika Serikat. Hasil pembahasan itu, menurut Kyiv, menyimpulkan bahwa tidak ada dasar kuat yang mendukung klaim Rusia. Sejumlah media Barat dan negara sekutu Ukraina turut mempertanyakan narasi Moskow, terutama karena ketiadaan bukti visual dan konfirmasi dari pihak ketiga yang independen. Keraguan serupa disampaikan oleh Prancis. Pemerintah Prancis menyatakan hingga kini belum menemukan bukti kuat yang mengonfirmasi bahwa kediaman Presiden Putin benar-benar diserang oleh drone Ukraina. Pernyataan ini semakin menambah perbedaan versi atas insiden yang diklaim Rusia tersebut.

Hingga saat ini, klaim serangan drone terhadap kediaman Presiden Putin masih menjadi perdebatan internasional. Ketegangan yang muncul menunjukkan rapuhnya situasi keamanan dan diplomasi di tengah konflik Rusia–Ukraina yang terus berlanjut, dengan risiko eskalasi yang kian sulit diprediksi.

 

Video:SINDOnews.com

Pole Vox Pole Vox
2 bulan yang lalu

CASTEL GANDOLFO — Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap sikap Rusia yang dinilai terus menolak usulan gencatan senjata dalam konflik berkepanjangan dengan Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan paus di kediaman musim panasnya, Castel Gandolfo, Italia, menjelang perayaan Natal 2025.

Seperti dikutip Reuters pada Rabu (24/12/2025), Paus Leo XIV mengungkapkan kesedihannya atas belum terwujudnya jeda kemanusiaan dalam konflik tersebut. “Di antara hal-hal yang membuat saya sedih adalah kenyataan bahwa Rusia tampaknya menolak permintaan gencatan senjata,” ujar Paus.

Seruan Perdamaian vatikan

Paus Leo XIV merupakan pemimpin Gereja Katolik yang baru terpilih dan melanjutkan tradisi Vatikan dalam menyerukan perdamaian global. Sejak awal masa kepemimpinannya, ia dikenal vokal menyuarakan isu-isu kemanusiaan, sejalan dengan pendekatan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang kerap mengkritik perang Rusia–Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022.

Pernyataan Paus juga mencerminkan konsistensi Vatikan dalam mendorong dialog dan rekonsiliasi. Selama beberapa tahun terakhir, Takhta Suci berulang kali menawarkan diri sebagai mediator dan bahkan menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah perundingan damai.

Konflik Berlarut Hingga Tahun Keempat

Pada 2025, konflik Rusia–Ukraina telah memasuki tahun keempat tanpa tanda-tanda penyelesaian. Rusia sebelumnya menolak usulan gencatan senjata Natal yang diajukan sebagai jeda tempur demi alasan kemanusiaan, termasuk evakuasi warga sipil.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut usulan tersebut sebagai “provokasi Barat.” Sebaliknya, Ukraina bersama negara-negara anggota NATO mendukung gagasan jeda tempur sementara. Data terbaru dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) mencatat konflik ini telah menelan lebih dari 500.000 korban jiwa serta menyebabkan jutaan orang mengungsi.

 

Respons Internasional

 

Pernyataan Paus Leo XIV memicu beragam respons di tingkat internasional. Kremlin menilai seruan Paus sebagai bentuk “campur tangan asing” dalam konflik, meski menyatakan tidak sepenuhnya menutup peluang dialog.

 

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut baik pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai “suara moral dunia.” Dukungan terhadap gencatan senjata kemanusiaan juga disuarakan sejumlah pemimpin Barat menjelang Natal, termasuk Presiden Amerika Serikat dan Presiden Prancis.

 

Seruan Paus Leo XIV kembali menegaskan pesan Natal tentang perdamaian dan penghentian kekerasan, di tengah eskalasi militer yang masih berlangsung, khususnya di wilayah Donbas, Ukraina timur.

 

Ardi Sentosa Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu

Pewarta Nusantara, Internasional - Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa angkatan bersenjata Ukraina mengalami kerugian besar dalam 24 jam terakhir selama serangan ofensif mereka.

Lebih dari 350 Tentara Ukraina dikabarkan hilang dalam serangan tersebut, sementara 11 serangan Ukraina berhasil dipukul mundur oleh pasukan Rusia. Serangan itu terutama berfokus pada wilayah Donetsk dan Krasny Liman.

Menurut kementerian, di arah Donetsk, angkatan bersenjata Ukraina kehilangan lebih dari 160 prajurit, satu tank, dua kendaraan, dan beberapa sistem artileri.

Beberapa peralatan militer yang diambil dari negara-negara lain seperti howitzer buatan Inggris dan howitzer swagerak Gvozdika juga berhasil direbut oleh pasukan Rusia selama pertempuran.

Sementara itu, di arah Krasny Liman, kerugian militer Ukraina mencapai 195 prajurit, bersama dengan beberapa kendaraan tempur infanteri, kendaraan lapis baja, dan unit artileri.

Pasukan Rusia berhasil menangkis 6 serangan menuju Donetsk dan 5 serangan di arah Liman, menghentikan kemajuan militer musuh.

Baca Juga; NASA: Tahun 2023 Diprediksi sebagai Tahun Terpanas yang Pernah Tercatat

Selain itu, wilayah Donetsk Selatan dan arah Zaporozhye juga menjadi sasaran serangan Ukraina, dan dalam 24 jam terakhir, 120 tentara Ukraina dilaporkan tewas di wilayah tersebut.

Di tengah pertempuran sengit, pasukan pertahanan udara Rusia menunjukkan kinerja yang efektif dengan menembak jatuh 35 drone Ukraina dan berhasil mencegat satu peluru kendali jarak jauh HIMARS di wilayah Donbas, Kherson, dan Zaporozhye.

Situasi di wilayah tersebut tetap tegang dan meningkatkan kekhawatiran atas eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang berkepanjangan ini.

Kedua belah pihak harus berhati-hati untuk mencegah dampak lebih lanjut pada warga sipil dan mencari solusi damai untuk menyelesaikan ketegangan yang ada.

Resolusi politik dan diplomasi yang komprehensif menjadi kunci untuk mengatasi permasalahan di wilayah tersebut. (*Ibs)

Ardi Sentosa Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu

Pewarta Nusantara, Internasional - Pasukan Rusia telah berhasil menggagalkan tidak kurang dari 13 upaya serangan dari pasukan Ukraina, yang berasal dari dua arah berbeda.

Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, pasukan Ukraina melakukan upaya untuk merebut kembali posisi yang telah hilang, namun usaha mereka mengalami kegagalan.

Kelompok Pasukan Rusia, termasuk Kelompok Pasukan "Tsentr," brigade lintas udara ke-25, serta brigade mekanik ke-21 dan ke-67 dari angkatan bersenjata Ukraina, berhasil menggagalkan serangan tersebut dengan dukungan dari tembakan artileri dan serangan udara.

Sebagai hasilnya, pasukan penyerang Ukraina mengalami kerugian personel yang signifikan dan lebih dari 40 militan Ukraina menyerah.

Serangan balasan dari Ukraina ini telah lama diiklankan dan akhirnya diluncurkan pada awal Juni, meskipun mengalami beberapa kali penundaan.

Meskipun pasukan Ukraina terus berusaha, mereka gagal maju ke tiga arah utama, yaitu Donetsk Selatan, Artemovsk (Bakhmut), dan Zaporozhye, dengan Zaporozhye menjadi fokus utama dari upaya mereka.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas dan ketegangan yang berkepanjangan dalam konflik antara Rusia dan Ukraina.

Baca Juga; Korea Utara ‘Mainkan Aksi Teror’ Saat Kapal Selam AS Tiba di Korea Selatan, Meningkatkan Tegangan Politik Regional

Konflik ini telah berlangsung selama beberapa tahun, dan upaya serangan serta balasan terus berlanjut di wilayah yang diperebutkan.

Tentara Rusia dan Ukraina saling berhadapan dalam pertempuran, dan masing-masing pihak berusaha mempertahankan atau merebut kendali atas wilayah yang strategis.

Perang saudara ini telah menyebabkan banyak penderitaan bagi penduduk di wilayah tersebut dan menimbulkan keprihatinan internasional tentang eskalasi kekerasan dan potensi dampaknya terhadap stabilitas regional. (*Ibs)

Ardi Sentosa Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu

Pewarta Nusantara, Internasional - Pada Minggu (24/7), Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Rusia telah meluncurkan serangan rudal presisi ke fasilitas yang memproduksi dan menyiapkan Kapal Drone di dekat Kota Odessa, Ukraina.

Menurut pernyataan kementerian, serangan ini bertujuan untuk menghancurkan fasilitas yang digunakan untuk mempersiapkan tindakan teror terhadap Federasi Rusia dengan menggunakan kapal tanpa awak.

Mereka juga menyatakan bahwa tentara bayaran asing hadir di fasilitas yang menjadi target serangan. Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa seluruh target yang dipilih untuk serangan telah berhasil dihancurkan.

Selain itu, kementerian juga melaporkan beberapa upaya ofensif Ukraina di berbagai wilayah, termasuk Donetsk, Krasny Liman, Zaporozhye, Kupyansk, dan Kherson, yang berhasil dipukul mundur oleh pasukan Rusia dengan kerugian yang cukup signifikan bagi pihak Ukraina.

Namun, kementerian juga membantah klaim media Ukraina dan Barat tentang kerusakan Katedral Transfigurasi di Odessa yang diduga akibat serangan Rusia.

Baca Juga; Krisis Dukungan AS untuk Ukraina: Tuntutan Presiden Zelensky Dikritik, Paket Bantuan Baru Senilai Jutaan Dolar Menjadi Sorotan

Mereka menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan fasilitas yang dihancurkan pada malam 23 Juli adalah lokasi yang aman dari kompleks katedral.

Rencana serangan Rusia ini menurut kementerian didasarkan pada informasi yang diverifikasi secara menyeluruh dan diperiksa silang untuk menghindari serangan terhadap fasilitas sipil dan situs warisan budaya dan sejarah.

Mereka juga menambahkan bahwa kerusakan yang terjadi pada katedral kemungkinan disebabkan oleh rudal anti-pesawat Ukraina yang jatuh di atasnya karena tindakan tidak profesional dari operator pertahanan udara Ukraina yang ditempatkan di daerah pemukiman.

Peristiwa ini menambah ketegangan dalam konflik Ukraina dan mencerminkan eskalasi ketegangan di wilayah tersebut.

Kondisi ini mengkhawatirkan dan menuntut perhatian serius dari komunitas internasional untuk mencari solusi damai guna menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencegah kerugian sipil yang lebih besar. (*Ibs)

Ardi Sentosa Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu

Pewarta Nusantara, Internasional - Rasa bosan Amerika Serikat terhadap tuntutan yang diajukan oleh Presiden Ukraina, Volodimyr Zelensky, terkait dukungan Barat untuk Kiev menjadi sorotan dalam sebuah opini yang ditulis oleh Douglas MacKinnon, mantan asisten khusus untuk kebijakan dan komunikasi.

Menurut MacKinnon, Presiden AS, Joe Biden, menyerang Zelensky pada Juni 2022, menyatakan bahwa Ukraina harus lebih menunjukkan rasa terima kasih atas bantuan finansial yang diberikan oleh Amerika Serikat melalui rakyat Amerika.

Seorang mantan pejabat tinggi Pentagon yang diwawancarai oleh MacKinnon menyatakan bahwa dukungan Barat tidak dapat diberikan tanpa batas, dan menggambarkan Zelensky sebagai sosok yang bertingkah seperti anak manja dan pemarah yang selalu menginginkan lebih.

Menurutnya, banyak pemerintah dan warga negara AS sudah mulai merasa bosan dengan tindakan Zelensky, dan hal ini mungkin juga berlaku dalam hubungannya dengan Eropa.

Pemberian bantuan dan dukungan tidak dapat terus-menerus diberikan tanpa mempertimbangkan keterbatasan dana dan sumber daya.

Baca Juga; Elon Musk Umumkan Perubahan Besar di Twitter, Potensi Dampak Politik Dalam Dunia Media Sosial

Kritik terhadap tuntutan Zelensky ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang Amerika yang mulai berbalik arah dan tidak lagi mendukung bantuan berkelanjutan yang diberikan oleh AS ke Kiev.

Tren ini kemungkinan besar akan berlanjut dan dapat mempengaruhi kebijakan AS di masa mendatang terkait bantuan militer dan keamanan kepada Ukraina.

Berita lainnya menyatakan bahwa Washington berencana untuk mengumumkan paket baru bantuan militer senilai hingga $400 juta untuk Ukraina, yang mencakup amunisi artileri, rudal pertahanan udara, dan kendaraan darat untuk serangan balasan.

Paket bantuan sebelumnya senilai $1,3 miliar yang mencakup peluru artileri cluster 155mm juga telah diumumkan oleh Departemen Pertahanan AS awal bulan ini, menunjukkan komitmen AS untuk mendukung Ukraina dalam menghadapi konflik dan krisis keamanan di wilayahnya. (*Ibs)

Ardi Sentosa Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu

Pewarta Nusantara, Internasional - Ukraina dilaporkan tengah mencoba melancarkan serangan dengan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone ke fasilitas infrastruktur di Distrik Krasnogvardeisky, Republik Krimea yang kini berada di bawah kendali Rusia.

Klaim mengenai serangan ini disampaikan oleh Kepala Krimea, Sergei Aksyonov, dan kejadian tersebut dilaporkan terjadi pada Sabtu (22/7/2023).

Insiden serangan drone ini terjadi hanya lima hari setelah terjadinya serangan di jembatan Rusia yang menghubungkan Krimea ke daratan Rusia, yang menyebabkan dua orang tewas.

Aksyonov mengungkapkan, "Mereka mencoba melancarkan serangan menggunakan pesawat tak berawak di fasilitas infrastruktur di distrik Krasnogvardeisky Republik Krimea," seperti yang dilansir oleh APF.

Otoritas setempat dan tim darurat segera merespons dan dikerahkan ke lokasi untuk menghadapi kemungkinan konsekuensi dari percobaan serangan tersebut.

Meskipun situasinya tegang, Aksyonov juga mengimbau warga Krimea untuk tetap tenang dalam menghadapi peristiwa ini.

Baca Juga; Elon Musk Umumkan Perubahan Besar di Twitter, Potensi Dampak Politik Dalam Dunia Media Sosial

Hingga saat ini, informasi lebih lanjut mengenai tujuan dan hasil dari serangan drone belum dapat diungkapkan. Belum ada laporan mengenai kemungkinan korban akibat insiden ini.

Krimea telah menjadi sasaran serangan dari pihak Ukraina dalam beberapa waktu terakhir. Dan dalam beberapa pekan terakhir, serangan-serangan semacam ini diketahui mengalami peningkatan, meningkatkan kekhawatiran atas potensi eskalasi ketegangan di wilayah tersebut.

Situasi ini memerlukan perhatian khusus dari pihak berwenang untuk mencegah perkembangan konflik yang lebih serius. (*Ibs)

Ardi Sentosa Ardi Sentosa
2 tahun yang lalu

Pewarta Nusantara, Internasional - Sebuah insiden menarik perhatian terjadi di Krimea ketika sistem pertahanan udara berhasil menjatuhkan sebuah Drone di bagian tengah wilayah tersebut.

Pada Kamis (20/7). Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan yang berarti, demikian dikonfirmasi oleh kepala Krimea, Sergey Aksenov.

"Saya dengan senang hati memberitahu kamu bahwa pasukan pertahanan udara berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak musuh di bagian tengah Krimea. Berita baiknya, tidak ada korban atau kerusakan yang terjadi akibat kejadian ini. Oleh karena itu, saya mengajak semua orang untuk tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi yang diberikan," ujar Aksenov melalui kanal Telegram.

Terkait insiden ini, laporan dari Sputnik News menyebutkan bahwa rezim Kiev, yang merupakan pihak berlawanan di wilayah tersebut, baru-baru ini meningkatkan serangan teror di Krimea.

Hari Kamis lalu, sebuah serangan pesawat tak berawak Ukraina menyebabkan tewasnya seorang gadis remaja dan merusak empat bangunan di bagian barat laut Krimea.

Baca Juga; Pemerintah Menegaskan Pentingnya Investasi Pendidikan melalui Beasiswa LPDP

Selain itu, sebelumnya, rezim Kiev juga pernah menggunakan drone maritim permukaan dalam serangan teror terhadap Jembatan Krimea, yang menyebabkan kematian dua orang dewasa dan melukai seorang anak.

Insiden ini menunjukkan eskalasi ketegangan dan konflik yang sedang berlangsung di wilayah Krimea. Masyarakat di daerah tersebut harus tetap waspada terhadap potensi serangan lebih lanjut, sementara pihak berwenang dan pasukan keamanan terus berusaha untuk melindungi dan menjaga keamanan warga.

Perlu adanya keterbukaan dan kepercayaan kepada sumber-sumber informasi resmi untuk memahami situasi secara lebih akurat dan menghindari penyebaran berita yang tidak terverifikasi, sehingga dapat menjaga ketenangan dan keamanan wilayah.

Semoga situasi dapat diselesaikan dengan damai dan tanpa menimbulkan lebih banyak korban jiwa atau kerusakan yang merugikan. (*Ibs)