Geopolitik Global

Presiden AS Donald Trump mengancam Kanada dengan tarif impor 100% atas semua barang jika negara itu menyelesaikan kesepakatan dagang dengan China. Ancaman ini muncul setelah PM Kanada Mark Carney bertemu Xi Jinping dan sepakat menurunkan tarif perdagangan bilateral.
Kanada dan China baru saja meraih kesepakatan awal untuk saling menurunkan tarif ekspor-impor, termasuk pada produk pertanian Kanada dan kuota EV China. Trump khawatir Kanada jadi "pelabuhan transit" bagi barang China ke pasar AS untuk hindari tarif Trump. Sebelumnya, Trump sempat dukung kesepakatan itu, tapi kini murka karena ketegangan soal Greenland dan tarif timbal balik.
Lewat Truth Social pada 24 Januari 2026, Trump sebut Carney "gubernur" dan ingatkan Kanada bisa jadi negara bagian AS ke-51. Ia klaim "China akan melahap Kanada hidup-hidup, hancurkan bisnis, sosial, dan gaya hidup mereka." Kanada adalah mitra dagang terbesar kedua AS setelah China.

Korea Utara melalui Kim Jong-un menyatakan dukungan tanpa syarat dan kesetiaan abadi terhadap kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam surat balasan yang dikirim pada 8 Januari 2026. Pernyataan ini disampaikan melalui Korean Central News Agency (KCNA) sebagai tanggapan atas surat ucapan selamat dari Putin, kemungkinan terkait ulang tahun Kim.
Isi Surat Kim
Kim menjanjikan akan "sepenuhnya menghormati dan tanpa syarat mendukung semua kebijakan serta keputusan" Putin, serta siap "selalu berdiri bersama Anda dan Rusia" dengan komitmen yang "konstan dan permanen". Ia juga menekankan hubungan persahabatan sebagai "yang paling berharga" dan mendorong kerjasama erat di berbagai bidang sesuai strategi kemitraan komprehensif kedua negara.
Konteks Hubungan Bilateral
Hubungan Korea Utara-Rusia semakin erat sejak penandatanganan perjanjian kemitraan strategis pada tahun 2024, termasuk dukungan militer timbal balik. Korea Utara telah mengirimkan ribuan pasukan untuk mendukung Rusia dalam konflik Ukraina, dengan laporan intelijen Korsel menyebutkan sekitar 15.000 tentara dan korban jiwa hingga 2.000. Pertukaran surat ini memperkuat aliansi di tengah tekanan Geopolitik Global.

Rusia meluncurkan rudal hipersonik Oreshnik dalam serangan besar-besaran terhadap wilayah Ukraina, termasuk Lviv yang berdekatan dengan perbatasan Polandia (anggota NATO) pada 8 Januari 2026.
Detail Serangan
Serangan ini merupakan penggunaan kedua rudal Oreshnik setelah Dnipro pada November 2024, ditembakkan dari Kapustin Yar dekat Laut Kaspia menargetkan infrastruktur strategis seperti fasilitas gas bawah tanah dan bengkel militer di Lviv. Rekaman CCTV menunjukkan proyektil terang menghantam target, menyebabkan kerusakan beton dan kawah di area hutan.
Respons Internasional
Moskow menyebutnya balasan atas dugaan serangan drone Ukraina ke kediaman Putin (yang dibantah Kyiv dan AS), sementara Menteri Luar Ukraina Andriy Sybiha menyebut ancaman serius bagi NATO. Kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengutuk sebagai eskalasi jelas.

Ketegangan Geopolitik Global memang menjadi pendorong utama prediksi kenaikan harga emas pada paruh pertama 2026. Faktor seperti konflik di Timur Tengah, ketegangan AS-China, dan eskalasi di Eropa Timur mendorong investor ke aset Safe Haven seperti emas.
Faktor Pendukung Utama
Ketidakpastian politik pasca-inaugurasi Trump, termasuk ancaman tarif dagang dan intervensi militer, meningkatkan permintaan emas sebagai lindung nilai. Bank sentral negara berkembang juga terus membeli emas untuk diversifikasi cadangan, memperkuat tren naik.
Proyeksi Dampak
Analis memperkirakan harga emas bisa tembus US$4.800-5.000 per ounce di Q1 2026 jika konflik memanas, ditambah pelemahan dolar akibat utang fiskal AS. Namun, penurunan suku bunga The Fed bisa mempercepat momentum ini.