Op-ed  

‘Gus Sol’ bagian kedua cerita dari Santri Brekele.

Avatar
Google News
'Gus Sol' bagian kedua cerita dari Santri Brekele.
'Gus Sol' bagian kedua cerita dari Santri Brekele. (Ilustrasi: Wallpaper Flare)

Gus Sol

“Plaaaakkkk” seperti disamber petir di siang bolong. Al-Habsy di tampar oleh pamannya akibat perilakunya yang semena-mena.

“ternyata kamu hanya berubah beberapa hari saja, hah? Ternyata meninggalnya kakekmu belum saja membuatmu sadar ya?” pamannya memarahinya.

Namun, Al-Habsy hanya diam saja sambil menundukan kepalanya seolah ia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Keadaan menjadi berubah 99% bagi Al-Habsy ketika sekarang pemimpin Pondok Pesantren di tangani oleh pamannya yang tegas, garang dan tak pandang bulu. Tidak ada lagi Al-Habsy yang ditakuti.

Tidak ada lagi Al-Habsy yang disegani. Dengan ketegasan pamannya bukan menjadi Al-Habsy sadar namun membuat ia menjadi liar, menjadi tambah nakal, dari mulai kabur dari Pondok hingga sembunyi-sembunyi merokok di Pondok.

Hingga suatu ketika Al-Habsy kabur dari Pondok bersama Guntur untuk menonton pertandingan sepak bola. Namun, na’as saat kembali ke Pondok Pesantren ia berdua ketahuan oleh pamannya Al-Habsy.

Mau tidak mau pamannya memberi tindakan atas pelanggaran yang ia buat dengan merata tanpa memandang siapa yang ia hukum. Lantas Al-Habsy dan Guntur di botak dan di jemur di santri putri dengan plang yang bertuliskan “kami Santri Brekele

***

Sangat mengejutkan ternyata dalam kepemimpinan pamanya Al-Habsy membuat Santri-santrinya tunduk dengan peraturan.

Pamannya Al-Habsy adalah anak dari Kakeknya Al-Habsy. Kakeknya memiliki dua anak. Ibunya Al-Habsy adalah anak bontot dan Paman Al-Habsy yang menggantikan menjadi pimpinan Pondok Pesantren yang sebelumnya dipimpin oleh kakeknya Al-Habsy yaitu (Alm. K. H. Abdul Karim. L.c) adalah anak sulung dari kakeknya yaitu ayah dari pamannya.

Pamannya di amanahkan untuk memimpin Pondok saat ia masih muda ketika ia ingin pergi untuk melanjutkan kuliahnya di Mesir hingga pada akhirnya ia bisa melanjutkan perjuangan dari ayahnya.

Nama paman Al-Habsy yaitu Solehhuddin atau biasa dikenal dengan sebutan ‘Gus Sol’ sebelum menggantikan ayahnya menjadi pimpinan Pondok Pesantren Gus Sol adalah ustadz kondang, sering di panggil-panggil untuk ceramah-ceramah ke daerah-daerah hingga daerah terpencil.

Gus Sol sebutannya dari kecerdasan dan ketegasan dalam kepemimpinan ia memiliki hal yang tidak semua orang memiliki dalam dirinya kata santri-santrinya yang sudah berpengalaman menjadi langganan dihukum dan dikatakan bagai babi dan anjing oleh Gus Sol karna selalu ketahuan saat ingin kabur maupun setelah kabur dari Pondok Pesantren.

Santriwan santriwati sudah tahu tentang hal itu, bahkan jika ingin bertemu dengan Gus Sol adalah hal yang sangat menakutkan bagi sebagian santriwan dan santriwati terutama bagi santri-santri yang sangat Badung, nakal dan sering maksiat karna jika ia bertemu dengan Gus Sol sisi buruknya akan dilihat oleh Gus Sol.

Katanya dari cibiran santriwan-santriwati Gus Sol bisa melihat orang-orang yang nakal dan sering maksiat itu kepalanya berubah menjadi anjing dan babi. Itulah yang membuat para santri takut jika bertemu oleh Gus Sol, bahkan seorang santri yang rajin dan taatpun takut jika ingin bertemu Gus Sol. Namun, itu tidak berlaku oleh Al-Habsy.

Ia tidak pernah percaya dengan hal-hal semacam itu, toh ia selalu bertemu dengan pamannya hampir setiap hari namun tidak ada hal-hal yang mencurigakan bahkan menakutkan.

Padahal Al-Habsy mengklaim sendiri dirinyalah yang paling Badung dan nakal di Pondok ini. Namun tidak ada sedikitpun ketakutan dalam dirinya untuk bertemu dengan pamannya.

Baca juga: Santri Brekele

***

Suatu ketika rasa penasaran Al-Habsy muncul ingin tahu lebih lanjut apakah yang dibicarakan santri-santri itu benar atau hanya hisapan jempol semata tentang pamannya yang tak lain yaitu Gus Sol.

Pada malam jum’at keliwon Al-Habsy berencana tidak mengikuti kegiatan Pondok meminta bantuan sahabatnya Guntur untuk membuntuti diam-diam pamannya yang sedang mengelilingi area komplek santri putra.

Tepat di area belakang kamar mandi putra, ada santri yang sedang makan-makan pada saat kegiatan yang di adakan oleh pengurus Pondok Pesantren. Sontak santri-santri yang terdiri dari empat orang itu kaget, lantas santri tersebut menyalami Gus Sol dengan tangan gemeteran.

“lisai’in antum” tanya Gus Sol dengan tegas dan garang.

Empat santri tersebut hanya diam saja sambil menundukan kepalanya.

“tegagkan kepalamu” saut Gus Sol. Lantas menampar rata empat santri tersebut sambil berkata :

“saya bukan menampar kalian, melainkan menampar babi dan anjing pada diri kalian.”

Sontak Al-Habsy dan Guntur kaget mendengar tamparan dan ucapan tersebut sambil berlalu pergi dari persembunyiannya dan mengikuti acara malam jum’at tersebut.

“tuhkan benar Al, pamanmu itu bisa melihat keburukan orang lain” kata Guntur kepada Al-Habsy sambil gemeteran.

“kamu inget nggak Al saat kita ketahuan kabur dari Pondok” tambah Guntur.

“menurutku kejadian itu hanyalah kebetulan tur” tutur Al-Habsy.

Al-Habsy masih belum percaya dengan kejadian tersebut. Dengan kejadian tersebut justru membuat dia makin penasaran oleh pamannya yang katanya bisa melihat keburukan orang lain. Dia mengira pada saat ia ketahuan kabur dari Pondok hanya sebuah kebetulan.

Hingga pada akhirnya di suatu malam saat keluarga besarnya berkumpul bersama. Al-Habsy memberanikan diri bertanya langsung kepada Gus Sol perihal dirinya yang dikatakan memiliki kemampuan bisa melihat sisi gelap seseorang.

“paman, memangnya paman bisa melihat keburukan orang lain?” tanya Al-Habsy.

“kau tahu dari mana tentang hal semacam itu, nak?” pamannya malah balik bertanya.

“saya tahu dari cibiran para santri-santri paman.” jawabnya.

“ah itu hanya asumsi para santri saja, nak.” dengan enteng pamannya membalas.

“kalau begitu kenapa paman bisa melihat orang lain itu seperti anjing dan babi paman?” lanjut tanya Al-Habsy.

“siapa lagi yang berkata seperti itu, nak?”

“yahh cibiran para santri-santri paman dan saya juga pernah melihat paman sedang menghukum santri dan mengatakan ia seperti babi dan anjing.”

“Walah, nak. Maksud dari paman bukan itu, paman hanya mengibaratkan, jika santri sulit di atur apa bedanya dengan binatang, bukan begitu?”

“jika memang seperti itu untuk apa sekarang paman berbicara dengan manusia berkepala babi atau anjing?” tambah Gus Sol sambil tertawa-tawa di depan Al-Habsy yang masih kebingungan sendiri.
“*#*#*&*&#*@*@#”

Bersambung…

Pewarta: Ahmad Solehhuddin Al-AyubiEditor: Rahmat
AvatarAhmad Solehhuddin Al-Ayubi
Mau tulisan kamu dimuat di Pewarta Nusantara seperti Ahmad Solehhuddin Al-Ayubi? Kirim Tulisan Kamu