Pewarta Nusantara

Santri Brekele

Santri Brekele
Santri Brekele

Santri Brekele – Banyak yang bilang bahwa santri itu harapan penerus para alim-ulama.

Al- kisah di salah-satu Pondok Pesantren di kota Bogor, ada seorang santri senior bernama Al-Habsy. Siapa yang tidak mengenalnya, santri dari salah-satu cucu pimpinan Pondok Pesantren tersebut, sosok santri paling ditakuti seantero lingkungan Pondok.

Al-Habsyi ditakuti bukan karna prestasinya, melainkan karna kenakalannya. ‘Santri brekele’ sebut lirih salah-satu ustadznya pada saat kajian ilmu Nahwu-Sorof. Namun, ia tidur dikelas tanpa memperdulikan ustadznya mengajar.

Sejak hari itu, teman-temannya memanggilnya dengan sebutan “dasar santri brekele.” Ia tidak ditakuti oleh temannya, hanya saja ia salah-satu cucu pimpinan Pondok tersebut yang menjadikan teman-temannya rada berhati-hati dengannya.

Pernah di suatu hari, ada seorang santri yang ribut dengannya dan Al-Habsy terluka parah di bagian kepalanya mengeluarkan darah. Alhasil, santri yang melakukan itu dipanggil menghadap ke mahkamah qismu am’ni, hingga akhirnya santri tersebut diberikan hukuman yaitu peringatan keras + rambutnya di gundul.

Padahal sesuatu yang terjadi pasti ada penyebabnya, ia melakukannya lantaran di bully habis-habisan oleh Al-Habsy, hingga akhirnya kesabarannya memuncak dan dipukullah kepala Al-Habsy dengan papan hingga berdarah-darah diiringi tangisnya. Semenjak kejadian itu, para santri berpikir seribu kali jika ingin berurusan dengannya.

***

Dalam sebuah Pondok rasanya tidak lengkap jika tidak melibatkan seorang sahabat, karna 50% hampir kehidupan kita dipengaruhi oleh sahabat, bahkan ada istilah yang mengatakan “jika kita berteman dengan tukang parfum, kita pasti akan tercium wangi parfum dan jika kita berteman dengan tukang ikan kita akan tercium amisnya ikan.”

Al-Habsy memiliki seorang sahabat yang sangat ia percayai. Sahabatnya itu bernama Guntur, wajah berkulit sawo matang seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Namun, sayangnya ia kematangan, jadi terlihat hitam.

Awal pertemuan mereka terjadi saat bersama-sama mengikuti perlombaan membaca puisi yang diadakan Pondok. mereka berdua masuk tiga besar dalam perlombaan tersebut, walaupun salah-satu dari keduanya tidak menjadi juara pertama. “Karna, juara bukanlah tujuan saya. Namun, pengalaman adalah tujuannya,” saut Al-Habsy dengan tingkah konyolnya.

Dalam diri seseorang pasti selalu ada nilai + dan – nya, maka dari itu seorang ustadz yang mengajar di Pondok ini selalu mengatakan : “jangan pernah lihat seseorang dari segi negatifnya saja, mungkin saja dari segi negatifnya ia hanya ingin menutupi segi positif dari dirinya.”

Dari awal pertemuannya dengan Gunturlah Al-Habsy menjadi tambah edan, konyol, songong dan berperilaku aneh mungkin sedikit ketularan Guntur. Hingga pada akhirnya Al-Habsy memutuskan untuk bergabung masuk teater dengan ajakan Guntur yang sebelumnya memang anak teater. Di sanalah pertemanan mereka semakin erat, sampai mereka mengklaim sendiri bahwa ia adalah sejoli sahabat sejati.

***

Suatu ketika di bawah langit abu-abu pada galap semua asa, Al-Habsy termangu, muka konyolnya tidak terlihat malam itu, tingkah lucunya tidak tergambar lagi, memang benar apa yang dikatakan Bung Karno “ada saatnya dalam hidupmu, engkau hanya ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.”

Al-Habsyi menangis sendu di bawah bintang-bintang tanpa ada seseorang santripun yang tahu, bahkan sahabatnya sendiri. Ia masih tidak pernah percaya bahwa kakeknya (pimpinan Pondok Pesantren) menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di kota Bogor. Terakhir kakek Al-Habsyi berpesan padanya “suatu hari nanti kakek berharap kamu bisa memimpin Pondok Pesantren ini, siap tidak siap kamu harus siap.”

Pada hari itu seantero Pondok berduka santriwan santriwati berkumpul di lapangan mengiringi mobil ambulance yang datang ke area Pondok dengan isak tangis dan lantunan sholawat nabi berkumandang atas kehilangan sosok tegas, sosok berwibawa pimpinan Pondok Pesantren tersebut.

Dengan kejadian itu, Guntur baru sadar menghilangnya dua hari sahabatnya Al-Habsy. Ternyata, faktor pak Kyai yang masuk rumah sakit hingga hari ini pak Kyai menghembuskan nafas terakhir kalinya. Tanpa berfikir lagi Guntur mencari keberadaan Al-Habsy setelah pemakaman pak Kyai. Karna Al-Habsy tidak kelihatan pula saat pemakaman pak Kyai, mungkin ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Di gedung lantai lima Pondok ternyata Al-Habsy sedang termangu saat Guntur menemukannya.
“untuk apalagi kau bersedih pada sesuatu yang telah terjadi sobat, kami semua memang sangat kehilangan. Namun, janganlah kita berarut dalam kesedihan sob!” dari belakang Al-Habsy, Guntur berbicara tiba-tiba.

Sebenarnya yang membuat Al-Habsy termangu bukan hanya karna ia kehilangan kakeknya. Namun, yang paling berat, yang menjadi kepikiran adalah sebuah amanah yang diberikan kepadanya dari sang kakek. Ia tidak bercerita kepada Guntur tentang itu, jadi sahabatnya hanya tahu ia termangu sendu karna kehilangan pak Kyai yang tak lain adalah kakeknya.

Amanah adalah hal yang paling berat baginya, apalagi amanah dari Kakeknya bukan main-main, yaitu untuk menjadi pimpinan Pondok Pesantren ini di kemudian hari.

Dari kejadian tersebut, orang tua Al-Habsy mengambil tindakan untuk membuat rencana setelah Al-Habsy lulus dari Aliyah ingin mensekolahkanya di Mesir, tujuannya agar ia menjadi dewasa dan mendalami ilmu agama. Dari kejadian itu pula, ada yang berubah dari sosok Al-Habsy yang terkenal dengan badung, konyol dan aneh. Namun, Al-Habsy sendiri menyadari seperti ada yang aneh pada dirinya, ia seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang ia menjadi alim, baik hati dan sopan. Namun terkadang seketika ia berubah menjadi garang, konyol dan menjadi seperti dirinya yang dikenal sebelumnya.

Suatu ketika, ia sedang makan siang, juniornya di Pondok menumpahkan makanannya dengan tidak sengaja. Namun, ia justru tidak bertindak apa-apa hanya mengampuni santri tersebut, padahal santri tersebut sudah ketakutan kala itu.

Sikap Al-Habsyi tiba-tiba berubah ketika mendatangi diskusi karya tulis, ia marah-marah, kesombonganya pun keluar dari mulut hanya karna ia telat datang dan kemudian dinasehati oleh ustadznya.
“menangnya kenapa jika saya telat? Kau tidak tahu jika saya ini siapa?” dengan ketus dan muka konyolnya ia katakan kepada ustadznya.

Dengan lirih ustadznya pun mengatakan “dasar kau memang tidak pernah berubah, santri brekele.”

Sontak teman-temanya yang berada di situ serempak mengatakan :
“dasar santri brekele”

Bersambung…

Nonton Streaming TV Online.
Ahmad Solehhuddin Al-Ayubi

Ahmad Solehhuddin Al-Ayubi

Advertisement