Sosok
100 Views

Biografi Jacques Derrida dan Pemikiran Dekonstruksi-nya

Jacques Derrida
(FILES) Picture dated 06 January 2004 of French philosopher Jacques Derrida at his home in Ris-Orangis, south of Paris. Derrida, revered as the founder of the deconstructionist school, has died at the age of 74, his entourage told AFP 09 October 2004. Derrida, who had been diagnosed with pancreatic cancer in 2003, died in a Paris hospital on Friday night. His prolific writings, criticised by some as obscure and nihilist, argue that there are multiple meanings in literature -- and also in fields such as art, music, architecture -- not necessarily intended or even understood by the creator of the work. AAFP PHOTO JOEL ROBINE

Pewartanusantara.com – Jacques Derrida adalah seorang filsuf asal Prancis. Dia dikatakan sebagai seorang filsuf konteporer yang mengusung konsep dekonstruksi dalam filsafat pascamodern. Dalam beberapa biografi Jacques Derrida, ada yang menyebutkan bahwa Christopher Noris, seorang filsuf menyebut Jacques adalah filsuf yang bertemakan tulisan.

Riwayat Hidup

Sebelum pindah ke Prancis pada tahun 1949, Jacques Derrida lahir dan tumbuh di Aljazair. Dia adalah seorang keturunan Yahudi yang meninggal pada usia 4 tahun di Prancis. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Aimé Derrida dan Georgette Sultana Esther Safar. Tokoh ini memiliki kakak yang bernama Rene Derrida dan Paul Derrida. Sayangnya, Paul meninggal di usianya yang ketiga bulan.

Sosok Jacques belajar di École Normale Supérieure dan bahkan menghabiskan waktunya mengabdi pada sekolahnya tersebut. Ia menjadi pengajar bagi sekolah tersebut dan kegiatan lainnya diisi dengan mengkaji linguistic dan filsafat postmodern. Walau banyak menghabiskan waktu di École Normale Supérieure, Jacques Derrida pernah mendapatkan gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge.

Pemikiran Jacques Derrida

Setiap filsuf pasti memiliki sosok yang dikagumi dan sedikit banyak mempengaruhi pemikirannya. Sama halnya dengan Jacques Derrida yang pemikirannya dipengaruhi filsuf bernama Edmund Husserl. Selain Edmund Husserl, Jacques Derrida juga dipengaruhi oleh Ferdinand de Saussure yang merupakan seorang ahli bahasa.

Hal ini bisa dilihat melalui karyanya yang berjudul The Origin of Geometry. Karya tersebut merupakan buku pertamanya yang kemudian diterjemahkan oleh Husserl. Kemudian, di karya selanjutnya yang berjudul Of Grammatology, Jacques tidak ketinggalan memasukkan hasil pikiran Saussure.

Dalam buku Of Grammatology Jacques mengungkapkan bahwa Saussure memberikan esensi manusia kepada bahasa. Dalam buku tersebut juga lah, Derrida mengkritik logosentrisme dan fonosentrisme yang menurutnya memiliki kelemahan. Ini seperti logosentrisme yang menghilangkan dimensi material bahasa dan fonosentrisme yang mengesampingkan tulisan dengan mengutamakan ucapan.

Dalam catatan biografi Jacques Derrida yang lain disebutkan bahwa tidak hanya Husserl dan Saussure yang sosoknya mempengaruhi Jacques. Di samping itu, ada juga Levinas, Nietzsche, Adorno, Freud, dan masih ada beberapa tokoh lain.

Dekonstruksi Menurut Jacques Derrida

Pengertian dekonstruksi adalah metode membaca teks. Namun, Derrida mengatakan bahwa dekontruksi bukan hanya sekedar sebuah metode, bukan juga mengkritik, atau pun analisa. Bahkan, menurutnya hal ini bukan termasuk sebuah aksi atau operasi.

Derrida menghadirkan pengertian lain tentang dekonstruksi. Menurutnya, arti istilah ini adalah metode-metode yang ada untuk menemukan penafsiran bahasa.

Adanya dekontruksi menurut Derrida bertujuan untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan antar bahasa dan menemukan maknanya. Selain itu, dekontruksi menjadi wadah bagi teks atau konteks untuk menjadi berbagai hal dan kemungkinan yang sulit dihubungkan.

Derrida sendiri mengambil kata dekontruksi dengan asal destruksi yang digunakan oleh Heidegger.  Terdapat tiga poin dekontruksi yang menjadi sorotan bagi Derrida. Ketiganya adalah sebagai berikut.

  • Dekonstruksi merupakan hal yang terjadi berulang kali atau terus-menerus dan berbeda dengan cara mempertahankan kehidupan.
  • Dekontruksi membaur dalam setiap sistem kehidupan. Ini termasuk dalam teks dan bahasa.
  • Dekonstruksi bukan lah alat, kata, apalagi teknik yang digunakan suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu subyek interpretasi.

“To pretend, I actually do the thing: I have therefore only pretended to pretend.”

Dalam setiap biografi Jacques Derrida pasti akan disebutkan bahwa dia adalah sosok yang memiliki banyak pertanyaan di otaknya. Ia terus mencari mengenai makna dan mencemaskan hal-hal absolut. Derrida adalah sosok yang berbeda. Walau sering kali pemikirannya tidak selesai karena terus menerus berpikir dan ia melalui segala proses yang terjadi.

Baca juga: Biografi Michel Foucault dengan Beragam Karyanya

Tentang Penulis

Avatar

pewarta