Komika Panji Pragiwaksono menjadi sorotan setelah menyampaikan sindiran terhadap reaksi sebagian masyarakat yang menangis saat menyaksikan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, dalam persidangan terkait polemik ijazah. Melalui unggahan di media sosial, Panji mempertanyakan respons emosional tersebut dan membandingkannya dengan perhatian masyarakat terhadap korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam unggahannya, Panji menyampaikan bahwa menangisi Jokowi, tetapi tidak menunjukkan kepedulian serupa terhadap korban karhutla, merupakan sesuatu yang menurutnya janggal. Pernyataan tersebut kemudian ramai dibicarakan karena menyentuh persoalan empati publik dalam merespons berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Komentar Panji muncul di tengah beredarnya video yang memperlihatkan Jokowi menunduk mengambil berkas untuk menunjukkan dokumen ijazahnya di ruang sidang. Momen tersebut memancing beragam reaksi dari masyarakat. Sejumlah orang terlihat terharu, bahkan ada warganet yang mengaku menangis setelah menyaksikan rekaman tersebut.
Reaksi emosional itu kemudian menjadi bahan perbincangan di media sosial. Sebagian masyarakat menganggap momen tersebut memiliki makna tersendiri karena berlangsung di tengah polemik ijazah yang telah lama menjadi perhatian publik. Namun, ada pula yang mempertanyakan mengapa peristiwa tersebut mendapat respons emosional begitu besar.
Panji kemudian mengarahkan kritiknya pada persoalan kepedulian sosial. Ia menyinggung kondisi masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan, yang dalam banyak kasus harus menghadapi kerugian, gangguan kesehatan, hingga kehilangan tempat tinggal atau sumber penghidupan. Melalui perbandingan tersebut, ia seolah mengajak publik untuk melihat kembali bagaimana empati diberikan kepada berbagai kelompok yang mengalami kesulitan.
Isu karhutla sendiri merupakan persoalan yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Penanganan kebakaran hutan dan lahan karena itu membutuhkan perhatian serius, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga pemulihan wilayah terdampak.
Pernyataan Panji memunculkan perdebatan mengenai cara masyarakat mengekspresikan empati. Sebagian warganet dapat memahami kritik tersebut sebagai pengingat bahwa penderitaan korban bencana juga perlu mendapatkan perhatian. Sementara itu, respons emosional terhadap seorang tokoh publik tidak serta-merta berarti seseorang mengabaikan persoalan sosial lainnya.
Perdebatan ini juga memperlihatkan bahwa perhatian publik di media sosial sering kali terbagi pada berbagai isu dengan tingkat keterlibatan emosional yang berbeda. Sebuah peristiwa dapat menarik simpati besar karena kedekatan emosional, popularitas tokoh, atau konteks yang menyertainya. Namun, hal itu tidak mengurangi pentingnya memberikan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Pada akhirnya, komentar Panji kembali memicu diskusi tentang konsistensi empati di ruang publik. Kritik tersebut mengingatkan bahwa kepedulian terhadap satu peristiwa tidak seharusnya membuat persoalan lain yang menyangkut keselamatan dan kehidupan masyarakat luput dari perhatian.