Krisis Ueno Bank mengguncang Paraguay setelah Banco Central del Paraguay memulai prosedur resolusi pada Senin, 2 November. Keputusan itu diambil ketika rasio solvabilitas bank digital tersebut ditemukan jatuh di bawah separuh batas minimum yang diwajibkan regulator.

Otoritas juga menemukan kejanggalan dalam penyaluran kredit kepada perusahaan yang diduga berkaitan dengan pemilik bank. Dampaknya meluas karena sekitar 3 juta nasabah—setara 60 persen penduduk dewasa Paraguay—kehilangan akses ke rekening mereka.

Dana publik ikut terperangkap dalam ketidakpastian hukum. Sekitar US$380 juta dana pensiun publik tertahan, sementara total dana publik yang disimpan Ueno diperkirakan mencapai US$850 juta, termasuk dana lembaga jaminan sosial untuk menopang pensiun dan layanan kesehatan pekerja.

Sejak Selasa, nasabah mendatangi kantor pusat Ueno di Asunción dan 75 cabangnya di seluruh negeri untuk menuntut pengembalian uang. Protes kemudian berkembang menjadi bentrokan dengan polisi antihuru hara, memperlihatkan bagaimana persoalan likuiditas dan tata kelola bank berubah menjadi krisis sosial.

Tekanan politik mengarah kepada Presiden Santiago Peña karena ia diketahui memiliki hubungan bisnis dengan Grupo Vázquez, pemilik Ueno, hingga Maret 2025. Peña menyatakan mundur pada Kamis, 5 November, ketika desakan pemakzulan menguat. Tak lama kemudian, parlemen memberikan suara 78 banding 0 untuk memakzulkannya.

Peña meminta maaf, tetapi tidak mengakui tanggung jawab atas runtuhnya Ueno. Delapan direktur dan eksekutif bank telah ditahan, sementara Kejaksaan Agung membuka tiga perkara pidana terhadap Peña dan sejumlah mantan pejabat terkait krisis tersebut. Kasus ini kini bergantung pada proses hukum, penyelesaian akses nasabah, dan penelusuran aliran dana publik yang tertahan.