Yogyakarta

Dua pengendara sepeda motor, seorang kakek berusia 66 tahun dan cucunya berusia 7 tahun asal Balikpapan, meninggal dunia setelah tertimpa pohon randu raksasa yang tumbang di Jalan Lembah UGM, Karangmalang, Depok, Sleman, Yogyakarta, pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 10.45 WIB.
Keduanya boncengan naik Honda Scoopy saat Angin Kencang menerpa wilayah Sleman; pohon berdiameter 1,5 meter roboh menimpa motor mereka, merusak trafo listrik, pagar, dan menutup jalan. Mereka dilarikan ke RS Bhayangkara Ngawen, tapi nyawa tak tertolong; Polsek Bulaksumur identifikasi korban dan selidiki penyebab akar pohon lapuk ditambah angin ekstrem.
Angin kencang sejak Jumat (23/1) sebabkan 28 titik bencana di Sleman: puluhan Pohon Tumbang, listrik padam, rumah rusak, dan satu kendaraan hancur; petugas UGM serta relawan evakuasi lokasi dengan jalan dialihkan. Pusdalops-PB DIY catat korban jiwa ini sebagai dampak terparah dari cuaca buruk DIY.

Seorang suami di Sleman, Yogyakarta, bernama Hogi Minaya (43), ditetapkan sebagai tersangka setelah memepet pelaku Jambret bermotor yang merampas tas istrinya, Arista Minaya (39), hingga menyebabkan dua pelaku tewas dalam kecelakaan. Insiden terjadi pada 26 April 2025 di Jalan Solo, Maguwoharjo, dan viral setelah Arista membagikan kisahnya di media sosial.
Arista sedang membeli jajanan di Berbah saat tasnya dijambret dua orang berboncengan motor dari Pagar Alam, Sumatera Selatan. Hogi, yang mengikuti dengan mobil Xpander, langsung mengejar dan memepet motor pelaku hingga tiga kali, membuat mereka oleng, naik trotoar, dan menabrak tembok. Pelaku ditemukan tewas dengan cutter di tangan dan barang rampasan tersebar, termasuk rokok dan uang koin.
Kasus jambret gugur karena pelaku meninggal, tapi Hogi ditetapkan tersangka atas Kecelakaan Lalu Lintas yang menewaskan dua orang, dianggap pembelaan diri berlebihan. Berkas dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sleman; Hogi kini tahanan luar dengan gelang GPS setelah penangguhan penahanan. Arista membela suami, menyebut siapa pun akan bertindak sama untuk lindungi keluarga.
Kasus ini memicu perdebatan soal pembelaan diri vs hukum lalu lintas, dengan banyak netizen simpati pada Hogi sebagai pahlawan keluarga. Polisi mempersilakan pembelaan hukum dari pihak tersangka.

SD Muhammadiyah Sapen di Yogyakarta mencatat antrean pendaftaran siswa baru yang penuh hingga tahun ajaran 2032, dengan banyak orang tua menitipkan akta kelahiran anak sejak usia balita atau bahkan bayi. Fenomena ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas Pendidikan sekolah ini, yang menawarkan program reguler, digital, dan MIPA unggulan.
Sekolah menerapkan sistem penitipan dokumen satu tahun sebelum masuk, tanpa tes seleksi awal, memprioritaskan pendaftar pertama yang memenuhi usia 6-7 tahun atau anak berbakat dengan rekomendasi psikolog. Kuota per angkatan hanya 230 siswa, tapi penitip bisa dua kali lipat, sehingga antrean mengular hingga 148 anak untuk 2032-2033.
Biaya masuk sekitar Rp15 juta, SPP Rp980 ribu per bulan untuk kelas 6, plus daftar ulang tahunan Rp4-5 juta, meski ada subsidi silang 10% untuk siswa kurang mampu via program Orang Tua Asuh. Sekolah ini meraih prestasi terbaik di AS-PD Kota Yogyakarta dan peringkat dua provinsi DIY, mendorong rencana kampus baru di Bantul. Relevan dengan lokasi Anda di Yogyakarta dan minat pada tren lokal.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meluncurkan program "Jogja Tanpa Rumput" sebagai inisiatif unggulan tahun 2026 untuk menata kota menjadi bersih, rapi, dan nyaman seperti "The Little Singapore".
Program ini menargetkan seluruh wilayah Kota Yogyakarta, termasuk jalan utama, permukiman, dan kawasan wisata, dengan fokus membersihkan rumput liar, sampah, serta membongkar bangunan liar di trotoar untuk diubah menjadi taman kota.
Kegiatan bersih-bersih dilakukan setiap dua minggu sekali, dipimpin langsung Hasto dengan melibatkan warga dan kampung di 14 kecamatan, dimulai dari kerja bakti di Mantrijeron dan Ngampilan pada 18 Januari 2026.
Hasto menyatakan malu jika wisatawan melihat rumput liar di pinggir jalan, sehingga trotoar harus tertata rapi untuk meningkatkan citra Yogyakarta sebagai kota budaya dan destinasi wisata.

Yogyakarta — Perayaan malam Tahun Baru 2026 di Yogyakarta berlangsung lebih tenang dan intim dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kawasan Malioboro hingga Pantai Parangtritis, yang biasanya dipenuhi pesta kembang api dan keramaian, kali ini diwarnai suasana hening dengan doa bersama, lampu hias sederhana, serta kebersamaan keluarga di lingkungan permukiman.
Sejumlah warga memilih merayakan pergantian tahun dengan berkumpul bersama keluarga, berbincang santai di teras rumah, atau mengikuti kegiatan doa bersama. Minimnya pesta kembang api dan petasan membuat suasana malam pergantian tahun terasa lebih khidmat dan penuh makna.
Pilihan ini disebut lahir dari empati kolektif masyarakat Yogyakarta terhadap isu lingkungan, khususnya polusi udara yang kerap meningkat setelah perayaan besar. Selain itu, solidaritas sosial pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia turut memengaruhi cara warga merayakan pergantian tahun. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sejak akhir 2025 juga mendorong kampanye “Tahun Baru Tanpa Petasan”. Sebagai gantinya, pemerintah dan komunitas lokal menghadirkan berbagai acara alternatif, seperti pentas seni tradisional di kawasan Taman Sari, konser akustik berskala kecil di alun-alun, serta kegiatan budaya yang menekankan nilai refleksi dan harapan baru. Atmosfer damai pada perayaan Tahun Baru 2026 ini dinilai semakin memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota budaya yang menjunjung kebijaksanaan dan kesederhanaan. Di kota ini, kegembiraan tidak semata diukur dari gemerlap perayaan, melainkan dari kebersamaan, kepedulian sosial, dan keharmonisan dengan lingkungan.
Video: humasjogja

Enam Wisatawan terseret arus kuat di Pantai Parangtritis, Bantul, DIY, pada 24-25 Desember 2025 akibat bermain di zona rip current. Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah III Parangtritis-Depok, M. Arief Nugraha, menjelaskan bahwa semua korban selamat setelah dievakuasi tim gabungan.[1][7][9]
## Detail Kejadian
Kejadian melibatkan enam pelajar dari Jawa Barat dan Jawa Tengah yang tidak menyadari rambu peringatan bahaya rip current. Empat pelajar terseret pada 24 Desember sekitar pukul 14.30 WIB, sementara dua lainnya pada 25 Desember; tim SAR menggunakan pelampung dan papan surfing untuk penyelamatan cepat.[7][8][9]
## Peringatan Rip Current
Pantai Parangtritis mencatat enam titik rip current pada libur Natal 2025, dengan ribuan pengunjung yang diminta patuhi rambu dan arahan petugas. Arus balik ini berpotensi tinggi di musim Desember karena cuaca dan ombak kuat.[5][7]
## Imbauan keselamatan
Petugas SAR menekankan kewaspadaan meski pantai ramai, hindari bermain air di zona berbahaya, dan selalu awasi anak-anak. Insiden ini jadi pengingat risiko wisata pantai di DIY.[5][7]
[1](https://www.instagram.com/reel/DSudnmUkqn3/)
[2](https://www.tiktok.com/@kompascom/video/7588135758956121362)
[3](https://www.facebook.com/KOMPAScom/videos/6-wisatawan-terseret-ombak-parangtritis-main-di-rip-current/1174638951529914/)
[4](https://www.instagram.com/p/DSu-2Idkr5S/)
[5](https://www.detik.com/jogja/plesir/d-8277210/ribuan-pelancong-padati-pantai-parangtritis-hari-ini-hati-hati-rip-current)
[6](https://www.youtube.com/shorts/eKb0RykwcCE)
[7](https://kabarjawa.com/berita/yogyakarta/enam-pelajar-terseret-ombak-di-pantai-parangtritis-dalam-dua-hari-sar-parangtritis-ingatkan-bahaya-rip-current)
[8](https://jogja.tribunnews.com/diy/1203960/enam-pelajar-terseret-arus-di-pantai-parangtritis-bantul-dalam-dua-hari-terakhir)
[9](https://yogyakarta.kompas.com/read/2025/12/26/154843578/6-wisatawan-terseret-ombak-di-pantai-parangtritis-yogyakarta-ternyata-di)
[10](https://www.instagram.com/reel/DSwNgFYEa0r/)

Yogyakarta menggeser Bali sebagai tujuan wisata utama keluarga Indonesia selama libur Natal dan Tahun Baru 2025-2026, berdasarkan data pencarian akomodasi platform Agoda.
Tren Pencarian
Peningkatan minat ke Yogyakarta mencapai 29% dibanding tahun sebelumnya, didorong wisata budaya, edukatif, dan ramah anak seperti Candi Borobudur serta Malioboro. Bali turun ke peringkat kedua, sementara Bandung, Jakarta, dan Malang melengkapi lima besar destinasi domestik favorit.
Alasan Popularitas
Yogyakarta menawarkan pengalaman bermakna untuk keluarga dengan biaya lebih terjangkau dan akses mudah, mengalahkan Bali yang kini dianggap mahal akibat kenaikan harga pasca-pandemi. Laporan Travel Outlook 2026 Agoda mencatat pergeseran ini sebagai tren baru Liburan Akhir Tahun.

Sleman, Yogyakarta — Joko Pitoyo, warga Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah memanfaatkan Biogas dari kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif rumah tangga selama satu dekade terakhir. Inisiatif ini menjadi solusi mandiri untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengolah limbah peternakan.
Gagasan pemanfaatan biogas bermula dari pengalaman adik Joko yang sempat membangun reaktor biogas dengan pendampingan Pertamina, meski penggunaannya tidak berlangsung lama. Terinspirasi dari upaya tersebut, Joko kemudian membangun reaktor biogas secara mandiri berkapasitas tiga meter kubik di belakang rumahnya, dengan dukungan koperasi setempat.
Dalam proses pengolahan, Joko setiap hari mengumpulkan kotoran dari empat ekor sapi miliknya menggunakan gerobak dorong. Kotoran tersebut dicampur air dan dimasukkan ke dalam reaktor untuk difermentasi. Setelah melalui proses selama sekitar satu pekan, gas hasil fermentasi siap digunakan sebagai biogas.
Biogas yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak dan merebus air. Selain itu, biogas juga digunakan sebagai sumber penerangan cadangan saat listrik padam. Pemanfaatan energi ini membantu Joko mengurangi ketergantungan pada LPG serta mengantisipasi fluktuasi harga bahan bakar.
Tak hanya memberikan efisiensi biaya, pengolahan biogas juga menghasilkan residu limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kegiatan pertanian dan peternakan di tingkat rumah tangga.
Video: Kumparan

SLEMAN — Mantan Bupati Sleman, Sri Purnomo, didakwa menyelewengkan dana hibah pariwisata senilai sekitar Rp10 miliar yang bersumber dari pemerintah pusat. Dana tersebut diduga digunakan untuk mendukung kampanye pemenangan istrinya, Kustini Sri Purnomo, dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sleman, yang mengantarkannya menjabat sebagai Bupati Sleman periode 2021–2025.
Kasus ini bermula dari penyaluran dana hibah pemulihan sektor pariwisata pascapandemi COVID-19 sebesar Rp68,5 miliar pada tahun 2020. Saat itu, Sri Purnomo masih menjabat sebagai Bupati Sleman periode 2016–2021. Dalam proses penyaluran hibah, Sri Purnomo menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 49 Tahun 2020 pada 27 November 2020.
Namun, peraturan tersebut dinilai menyimpang dari ketentuan yang berlaku. Dana hibah dialokasikan tidak sesuai peruntukannya, termasuk pengaturan 30 persen dana untuk kelompok masyarakat sektor pariwisata di luar desa wisata. Jaksa menilai kebijakan ini membuka ruang penyalahgunaan anggaran.
Dalam dakwaan, Sri Purnomo disebut memerintahkan sejumlah kader Partai Amanat Nasional (PAN), di antaranya Arif Kurniawan dan Dodik Ariyanto, untuk memanfaatkan dana hibah tersebut guna mendukung kampanye pasangan Kustini Sri Purnomo–Danang Maharsa. Pasangan ini akhirnya memenangkan Pilkada Sleman.
Perkembangan hukum kasus ini memasuki babak baru setelah Kejaksaan Negeri Sleman menetapkan Sri Purnomo sebagai tersangka pada 30 September 2025. Ia kemudian ditahan pada 28 Oktober 2025, menyusul hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta yang menemukan potensi kerugian negara sebesar Rp10,95 miliar.
Sidang perdana pembacaan dakwaan digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Yogyakarta pada 18 Desember 2025. Dalam persidangan, jaksa menguraikan dugaan peran Sri Purnomo dalam pengaturan aliran dana, serta menyebut keterlibatan anggota keluarganya, termasuk sang istri dan anaknya, Raudi.
Jaksa menilai perbuatan terdakwa melanggar Keputusan Menteri Pariwisata Nomor KM/704/PL/07/02/M-K/2020, yang mengatur pembagian dana hibah pariwisata, yakni 70 persen untuk hotel dan restoran serta 30 persen untuk penanganan dampak pandemi. Penyimpangan tersebut dinilai tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mencederai tujuan pemulihan sektor pariwisata.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut keterlibatan pihak lain dalam perkara ini. Kasus dugaan korupsi politik tersebut pun menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang perkara penyalahgunaan kekuasaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ujang, lulusan S3 berusia 28 tahun dari kampus di Yogyakarta, memilih menolak tawaran menjadi Dosen dari rektornya sendiri meski kondisi ekonomi sedang sulit. Prioritasnya adalah mempertahankan waktu luang untuk hobi Mancing, yang ia khawatirkan akan hilang akibat beban administratif dan tugas mengajar dosen.
Alasan Penolakan
Pekerjaan dosen sering kali menyita waktu dengan kuliah, penelitian, seminar, dan urusan kampus lainnya, meninggalkan sedikit ruang untuk relaksasi pribadi. Ujang lebih memilih fleksibilitas hidup daripada gaji tetap dan status akademik.
Prioritas Hidup
Kisah ini menggambarkan nilai kebebasan pribadi di tengah tekanan ekonomi, di mana hobi seperti mancing menjadi pelarian penting. Banyak profesional muda kini memprioritaskan work-life balance ketimbang karir konvensional.