Senegal

Kekacauan di final Piala Afrika 2025 antara Senegal dan Maroko bermula dari keputusan kontroversial wasit pada injury time. Insiden ini terjadi di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026.
Gol Senegal oleh Ismaila Sarr dianulir VAR karena pelanggaran Abdoulaye Seck atas Achraf Hakimi. Tak lama kemudian, wasit Jean-Jacques Ndala menganugerahi penalti Maroko setelah El Hadji Malick Diouf dinilai melanggar Brahim Diaz di kotak penalti, meski kontak terlihat minim.
Pelatih Senegal Pape Thiaw memerintahkan timnya walk-out dari lapangan sebagai protes, memicu keterlambatan 14 menit. Suporter Senegal merangsek ke lapangan, memicu kerusuhan dengan polisi dan fans Maroko, sementara kapten Sadio Mane membujuk tim kembali bermain.
Edouard Mendy menyelamatkan penalti Diaz, membuka jalan perpanjangan waktu dan kemenangan Senegal 1-0 via gol Pape Gueye. CAF dan FIFA mengecam aksi tersebut, dengan Senegal berisiko sanksi berat termasuk pencabutan gelar.

Presiden FIFA Gianni Infantino mengutuk keras aksi walk-out pemain Senegal di final Piala Afrika 2025 melawan Maroko. Pernyataan keras ini muncul setelah pertandingan di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 19 Januari 2026 dini hari WIB.
"Kami menyaksikan adegan-adegan yang tidak dapat diterima di lapangan dan di tribun penonton. Kami dengan tegas mengecam perilaku sebagian pendukung serta beberapa pemain dan staf teknis Senegal," tegas Infantino. Ia menekankan bahwa meninggalkan lapangan bukanlah cara tepat dan kekerasan tidak boleh ditoleransi dalam sepak bola.
Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) juga mengutuk sikap tersebut dan berjanji meninjau rekaman untuk sanksi disipliner terhadap pelaku. CAF menyoroti perilaku tidak pantas yang menargetkan wasit dan penyelenggara.