BRI

Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) berkolaborasi dengan perbankan seperti BRI dan lembaga seperti BP Tapera untuk mengintegrasikan program pembiayaan perumahan (KUR Perumahan, FLPP, BSPS) dengan pemberdayaan ekonomi rakyat guna percepat akses rumah layak bagi MBR.
FLPP subsidi rumah subsidi naik 100% via BRI (16.000 unit 2024 jadi 32.000 unit 2025, target 60.000 unit 2026), KUR Perumahan capai Rp3,54 T awal 2026 (49% dari BRI), dan BSPS renovasi 373.939 rumah Rp8,6 T di RAPBN 2026.
Kolaborasi gabungkan KUR Perumahan (Rp8 T target BRI), BSPS swadaya, dan Kredit Gotong Royong dengan PNM Mekar/SMF untuk serap tenaga kerja MBR seperti petani/nelayan, dorong UMKM bahan bangunan, dan target 3 juta rumah/program 500.000 subsidi 2026.
Inisiatif ini kuatkan ketahanan pangan/ekonomi akar rumput lewat pembangunan inklusif, pemerataan akses hunian, dan pertumbuhan sektor riil sesuai Asta Cita.

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi bank pertama di Indonesia yang menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp500 miliar. Penerbitan ini menandai inovasi pendanaan jangka pendek di pasar uang domestik.
Detail Penerbitan
SBK tersebut diterbitkan dengan tenor 90 hari dan tingkat kupon kompetitif, menarik minat investor institusi besar. Langkah ini memperkuat posisi likuiditas BRI sebagai bank terbesar di segmen UMKM.
Dampak Strategis
Sebagai bank tertua sejak tahun 1895, BRI memanfaatkan SBK untuk diversifikasi pendanaan di luar simpanan konvensional. Program ini sejalan dengan pertumbuhan kredit BRI yang diproyeksikan mencapai 10-12% pada tahun 2026.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) meluncurkan korporasi rebranding pada 16 Desember 2025 sebagai bagian dari transformasi BRIVolution Reignite, dengan positioning baru "Satu Bank untuk Semua". Strategi ini mempertahankan fokus pada segmen UMKM sebagai bisnis inti sambil memperluas layanan ke kalangan perkotaan, milenial, korporasi, dan konsumen.
Perubahan Identitas Visual
Logo baru menampilkan desain modern dengan warna segar, garis lebih tipis, dan penekanan nama "Bank Rakyat Indonesia" untuk kedekatan historis. Arsitektur merek diselaraskan di seluruh ekosistem, termasuk anak perusahaan, peminjaman, ritel, dan manajemen kekayaan.
Strategi UMKM dan Ekspansi
Porsi nasabah UMKM dijaga di 40-50% dari total, mendukung program pemerintah seperti KUR, Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Desa Merah Putih. Pendekatan ekosistem yang menghubungkan UMKM ke rantai pasok korporasi besar untuk pertumbuhan inklusif di desa dan kota.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang di Sumatera, meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Cakupan Penyaluran
Bantuan disebar ke lebih dari 40 lokasi, termasuk 4 titik dan 2 posko di Aceh, 24 lokasi di Sumatera Utara, serta 12 lokasi di Sumatera Barat, melibatkan puluhan unit kerja BRI secara bertahap.
Jenis Bantuan
Barang-barang tersebut meliputi posko darurat, makanan siap saji, sembako, survival kit, kasur, selimut, air bersih, obat-obatan, fasilitas kesehatan, peralatan kebersihan, hingga perahu karet untuk mobilitas di area yang sulit dijangkau. Sekretaris Perusahaan BRI Dhanny menegaskan komitmen BRI Peduli untuk ketahanan sosial dan pemulihan pascabencana.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) meresmikan Logo baru pada 16 Desember 2025, bertepatan dengan HUT ke-130, sebagai bagian dari transformasi menjadi bank universal modern.
Desain Logo Baru
Logo mempertahankan warna biru ikonik tapi berubah menjadi Nusantara Blue yang lebih cerah, dengan tambahan teks "Bank Rakyat Indonesia" di bawahnya untuk menegaskan akar kerakyatan. Penyesuaian ketebalan huruf dan palet warna baru seperti Mentari Blue serta Cakrawala Blue hadir untuk citra aspiratif dan relevan bagi generasi muda.
Tagline dan Visi
Meski tidak disebut secara eksplisit "satu bank untuk semua", rebranding menekankan posisi BRI sebagai bank universal yang mendukung ambisi seluruh masyarakat Indonesia, dari UMKM hingga segmen urban.
Tujuan Transformasi
Direktur Utama Hery Gunardi sebut perubahan ini hasil riset Kantar, Kadence, dan Nielsen untuk refresh citra dari bank tradisional ke entitas global namun personal, dengan transformasi bisnis, SDM, dan budaya.