Agreement On Reciprocal Trade

Pemerintah Indonesia berencana mengimpor 580.000 ekor ayam jenis Grand Parent Stock (GPS) dari Amerika Serikat senilai sekitar USD 17–20 juta sebagai bagian dari Agreement On Reciprocal Trade (ART).
GPS merupakan tingkatan kedua dalam piramida genetika unggas, di mana indukan ini menghasilkan Parent Stock (PS) yang kemudian memproduksi Day-Old Chick (DOC) untuk ayam pedaging atau petelur komersial (Final Stock). Tidak seperti daging ayam konsumsi, GPS diimpor sebagai live poultry untuk pembibitan, karena Indonesia belum memiliki fasilitas produksi GPS domestik dan masih bergantung pada Impor dari AS serta Prancis untuk menjaga kualitas genetik serta pasokan bibit unggas nasional.
Kesepakatan ini muncul dari perjanjian perdagangan resiprokal Prabowo-Trump, dengan nilai USD 17-20 juta (Rp 285,5-335,9 miliar, kurs Rp 16.800/USD) atau sekitar Rp 493.000-548.000 per ekor. Kuota ini lebih tinggi dari 578.000 ekor tahun 2025, mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan permintaan daging ayam hingga puluhan ribu ton, serta program hilirisasi ayam terintegrasi di 30 provinsi oleh Danantara Indonesia dengan investasi Rp 20 triliun.
Impor GPS diharapkan hasilkan 80 juta DOC/minggu pada 2027-2028 (dari 1 GPS ≈ 150 DOC FS/minggu), melebihi kebutuhan 65 juta DOC/minggu dan berpotensi over-supply yang tekan harga jual peternak. Pemerintah menugaskan BUMN IDFOOD sebagai offtaker dan fasilitasi KUR bagi peternak rakyat, sementara perusahaan seperti PT Janu Putra Sejahtera (AYAM) impor mandiri untuk stabilkan rantai pasok. Kritik dari Gopan menyoroti risiko masuknya karkas AS turunan, meski fokus utama GPS untuk produktivitas lokal jangka panjang.