Pewarta Nusantara

Dakwah Ulama Mempererat Persaudaraan

dakwah ulama nusantara
Foto/Istimewa

Keterlibatan para ulama dalam mempererat persaudaraan di Indonesia, tidak lepas dari berbagai kritik dan saran. Kritik dan saran ini ada yang tujuannya untuk memperbaiki keterlibatannya, ada juga yang tujuannya untuk menjatuhkan dan menjauhkannya dari masyarakat. Untuk tujuan pertama, para pengkritik dan pemberi saran ini ada yang berasal dari sesama ulama, ada juga dari berbagai elemen masyarakat. Mereka menginginkan dakwah ulama di Indonesia tetap konsisten dan dapat memberikan informasi-informasi segar tentang pentingnya persaudaraan dan perdamaian dalam Islam.

Untuk tujuan yang kedua, para pengkritik ini datang dari berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepentingan. Mereka merasa terhalangi dengan kehadiran ulama yang menyuguhkan pesan-pesan persaudaraan dan perdamaian. Mereka tidak senang dengan kehadiran ulama, karena ulama tersebut tidak bisa dikendalikan dengan berbagai macam cara, sehingga mereka banyak memperalat orang lain untuk menjebak dan memfitnahnya.

Tidak cukup di situ, orang-orang yang tidak menyukai ulama ini akan melakukan berbagai macam cara untuk memecah-belah hubungan harmonis antara ulama dan umara, ulama dan jamaahnya, ulama dan masyarakat luas, ulama dan keluarganya, dan sebagainya. Satu-persatu berusaha dijauhkan dari dakwah ulama, agar ulama terasingkan dan dibenci masyarakat, sehingga masyarakat dalam kebimbangan tanpa ada bimbingan dari ulama.

Disharmonisasi ulama dengan berbagai elemen masyarakat, sangat disadari bisa berpengaruh pada melemahnya keharmonisan di seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu cerdas dalam menanggapi berbagai isu miring tentang ulama. Cerdas dalam arti tidak terburu-buru menerima isu yang viral di berbagai media, karena yang namanya isu merupakan kabar yang belum tentu benar.

Kita perlu tahu bahwa ulama merupakan panutan masyarakat Nusantara, dakwahnya selalu menyegarkan hati dan menyadarkan diri kita dari berbagai kejumudan hati. Keilmuan ulama yang mumpuni, dapat mengendalikan dirinya, sehingga bisa berhadapan dengan siapapun dan hidup dalam kondisi apapun. IQ, EQ dan SQ nya sudah terintegrasi, sehingga menjadikannya sebagai manusia yang istimewa dan dibutuhkan masyarakat.

Dakwah para ulama Nusantara yang sangat mengedepankan persaudaraan dan perdamaian, tidak hanya menggema di Nusantara, tetapi juga di Mancanegara. Sebut saja Nur al-Din al-Raniri (w. 1068 H/1658), ‘Abd al-Rauf al-Sinkili (1024-1105 H/1615-93), Muhammad Yusuf al-Makassari (1030-111 H/1629-99), ulama-ulama ini berdakwah sepanjang hayatnya untuk menjaga perdamaian masyarakat. ‘Abd al-Rauf al-Sinkili terlibat dalam urusan politik, dia pandai dalam menyelesaikan konflik politik internal. Dia juga pernah berperan dalam menyelesaikan perdebatan di kalangan orang-orang Aceh tentang kebolehan perempuan menjadi pemimpin, sehingga Shultanah Zakiyyat al-Din tetap memimpin dan tidak ada yang bisa menggulingkannya tatkala al-Sinkili masih hidup. Selain itu, ada Hamzah al-Fansuri yang diangkat sebagai penasehat dan mufti pada pemerintahan Sultan ‘Ala al-Din Ri’ayat, dia pernah terlibat dalam perjanjian damai antara Aceh dan Inggris (Huda, 2014: 216-217).

Ulama-ulama tersebut ingin memberikan contoh langsung dalam tindakan yang nyata, bahwa untuk mempererat persaudaraan tidak hanya dalam lingkup sesama agama Islam, tetapi juga dengan sesama agama lain, bahkan negara lain. Dakwah ulama dalam mempererat persaudaraan ini tidak hanya sebatas ceramah dalam pengajian-pengajian, tetapi juga dibuktikan secara nyata, agar masyarakat dapat mengambil lesson learn darinya.

Selain itu, para ulama ingin menunjukkan bahwa ada sinergi yang harus dilestarikan antara ulama dan umara dalam menjalankan roda pemerintahan di sebuah negara. Sesuatu yang dilakukan oleh al-Sinkili dapat dikatakan bahwa peran ulama dalam pemerintahan sangat dibutuhkan, terutama untuk meredam konfil-konflik politik maupun sosial keagamaan.

Dengan demikian, peran ulama dalam mempererat persaudaraan antar berbagai agama di bumi Nusantara ini tidak bisa dielakkan lagi, bahkan tidak tergantikan. Oleh karena itu, ulama-ulama Nusantara perlu kita teladani, agar kita semua menjadi insan yang bermanfaat dan menjadi generasi penerus perekat persaudaraan dan penegak perdamaian.

Nonton Streaming TV Online.
Arief Rifkiawan Hamzah

Arief Rifkiawan Hamzah

Menyelesaikan pendidikan jenjang magister di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Al- Hikmah 1 Benda dan Darul Falah Pare, Kediri.

Advertisement