Sabtu, 31 Oktober 2026
Masuk
Cerpen

Bunyi yang Menghentikan Pagi (Part 1)

Sebuah bunyi dari roda tua mengubah rutinitas keluarga Raka, sementara Nala menyampaikan keinginan yang tak pernah benar-benar didengar.

Bunyi itu terdengar ketika Nala hampir mencapai ujung gang: tek, lalu krek, seperti sendok yang dipatahkan di antara gigi. Raka semula mengira kerikil tersangkut di roda. Ia menahan kursi putrinya, mengangkat sedikit bagian belakang, dan melihat satu jari-jari roda kanan terlepas dari tempatnya. Besi tipis itu menggantung, berayun setiap kali kursi bergerak.

“Jangan didorong dulu, Pak,” kata Nala. “Rodanya miring.”

Pagi di Umbulharjo belum benar-benar panas. Di depan warung, seseorang sedang membalik tempe di penggorengan. Bau bawang putih menyusup ke gang. Mira, istri Raka, sudah berangkat mengantar hasil jahitan ke pelanggan. Biasanya Raka mendorong Nala ke sekolah yang jaraknya kurang dari satu kilometer, lalu pulang mengambil jaket hijau dan menyalakan aplikasi ojek daring. Hari itu, jadwal sederhana mereka berhenti di depan got bertutup semen.

Raka berjongkok. Kursi roda itu pemberian seorang tetangga empat tahun lalu, ketika Nala mulai memerlukan alat bantu untuk berpindah tempat setelah sakit yang mengganggu gerak kedua kakinya. Catnya semula biru tua; sekarang mengelupas seperti kulit yang terlalu lama kena matahari. Rem kiri sudah lama perlu ditekan dua kali. Bantal duduknya dijahit ulang oleh Mira dengan kain sisa pesanan seragam.

“Bisa, Pak?” tanya Nala.

“Bisa kita periksa.” Raka selalu berhati-hati memilih kata saat tidak yakin. Tetapi pagi itu ia nyaris mengatakan, “Bisa,” saja.

Nala mengamati tangan ayahnya yang mencoba memutar roda. Gadis sepuluh tahun itu tidak ikut panik. Ia malah merapatkan tas sekolah ke pangkuan agar tidak mengganggu. “Aku ada presentasi gambar hari ini. Kalau telat, Bu Ratih suruh maju paling akhir.”

“Kita telepon sekolah dulu.”

“Jangan bilang aku sakit.”

Raka menoleh. “Memangnya siapa yang mau bilang begitu?”

“Biasanya orang bilangnya begitu kalau aku nggak datang.”

Kalimat itu membuat Raka diam lebih lama daripada kerusakan yang sedang dipandanginya. Ia menghubungi guru Nala, menjelaskan kursi roda rusak, kemudian mengantar anaknya kembali ke rumah. Dari sana ia meminjam kursi lipat cadangan milik pos layanan warga melalui Pak Darno, pengurus RT yang kebetulan punya kunci gudang. Kursi itu berat, tetapi rodanya utuh. Menjelang pukul delapan Nala sampai di sekolah, terlambat dua puluh menit, masih sempat mempresentasikan gambar taman kota yang memiliki jalur landai sampai ke ayunan.

Raka tidak melihat presentasi itu. Ia membawa kursi lama ke bengkel sepeda kecil dekat Pasar Giwangan. Pak Jatmiko, pemilik bengkel, mengenalnya sebagai pelanggan yang suka menunda mengganti kampas rem motor sampai benar-benar tipis. Lelaki itu memeriksa roda, poros, dan sambungan rangka tanpa banyak bicara. Setelah selesai, ia menarik bangku plastik.

“Jari-jarinya bisa diganti,” kata Pak Jatmiko. “Tapi masalahnya bukan itu saja. Poros kanan sudah oblak, bagian sambungan sini retak. Kalau ditambal untuk dipakai rutin, saya nggak berani jamin.”

Raka menyentuh bekas las yang dibuat orang bertahun-tahun lalu. “Untuk sementara?”

“Kalau darurat, roda bisa saya rapikan supaya bisa digerakkan pelan, tapi jangan dipakai angkut Nala keluar rumah. Cari yang lebih aman.”

Raka memandang jaket hijaunya di atas motor. Di punggungnya ada bercak minyak dari jok pelanggan yang belum sempat dicuci. “Yang cocok untuk anak seumur dia harganya berapa?”

Pak Jatmiko mengambil kartu sebuah toko alat bantu. Ia tidak menawarkan harga yang tidak diketahuinya. “Ukur dulu dudukannya. Anak tumbuh terus. Kursi orang dewasa yang murah belum tentu pas.”

Di toko kecil dekat Jalan Kusumanegara, Raka mencoba menerangkan tinggi Nala, lebar pinggul, dan cara putrinya menggerakkan roda sendiri. Petugas menunjukkan kursi manual dengan ukuran dudukan lebih kecil, sandaran dan pijakan kaki yang dapat disetel. Harganya dua juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, termasuk penyesuaian awal. Raka memotret kartu spesifikasi, bukan brosur bergambar anak yang tersenyum sempurna.

Di layar ponselnya, saldo dompet kerja hanya cukup untuk bensin, makan siang, dan sebagian belanja rumah. Ia terbiasa menghitung jarak: dari rumah ke restoran, dari restoran ke pelanggan, berapa kilometer yang bisa ditempuh sebelum indikator bensin berkedip. Angka dua juta tujuh ratus lima puluh ribu tak punya jarak yang bisa ia bayangkan.

Siang itu ia menerima enam pesanan. Satu dibatalkan setelah ia hampir tiba. Seorang pelanggan menyerahkan uang tunai dengan selisih dua ribu rupiah dan berkata tidak usah kembali. Raka menyimpan dua ribu itu di saku depan, tempat biasanya ia menaruh karcis parkir. Ia tidak langsung menyebutnya tabungan. Terlalu kecil, pikirnya, lalu merasa malu pada pikirannya sendiri.

Ketika matahari turun, ia menjemput Nala dari rumah Alma, teman sekelasnya yang tinggal dekat sekolah. Mereka berlatih menggambar bersama. Nala menaiki kursi pinjaman dengan wajah kesal. Bukan karena kursi itu jelek, melainkan karena pegangan rodanya terlalu jauh untuk tangannya.

“Aku harus minta didorong terus,” katanya saat mereka melewati pagar rumah yang ditumbuhi melati. “Aku jadi kayak koper.”

Raka ingin tertawa agar kata itu tidak terasa tajam. Tawa itu tersangkut. “Besok kita cari cara supaya kamu nyaman.”

“Bukan cuma nyaman. Aku mau bisa belok sendiri.”

Di rumah, Mira menaruh tiga piring nasi, tumis kacang panjang, dan telur dadar yang dipotong empat. Mereka makan sambil mendengar suara bola dari televisi tetangga. Raka menjelaskan kondisi kursi lama dan harga yang ia dapatkan. Mira meletakkan sendok sebelum telur di piringnya habis.

“Dua juta tujuh ratus lima puluh?” ulangnya.

Raka mengangguk. “Aku tambah jam narik. Mulai besok.”

“Kamu sekarang pulang saja sudah kadang hampir jam sembilan.”

“Aku bisa tidur lebih siang.”

“Terus siapa yang antar Nala pagi?”

Mereka tidak bertengkar. Justru jeda di antara mereka terasa lebih panjang daripada bantahan. Nala berpura-pura sibuk memisahkan cabai dari kacang panjang, kemudian berkata, “Aku juga punya uang.”

Ia mengambil kaleng biskuit dari bawah meja belajar. Penutupnya berkarat pada satu sisi. Di dalamnya ada beberapa lembar uang lusuh, receh, dan gambar roket di amplop bekas. Raka ingat kaleng itu untuk menabung membeli spidol dua belas warna.

“Jangan,” katanya cepat. “Itu uangmu.”

Nala memeluk kaleng itu kembali, bukan karena berubah pikiran. “Kursinya juga buat aku, Pak.”

Malam makin larut. Raka akhirnya keluar ke teras, duduk di motor yang belum ia masukkan ke rumah, dan membuka lagi foto kursi roda dari toko. Sebuah pesanan baru muncul di aplikasi, jaraknya tidak jauh. Ia hampir menekan terima, tetapi dari jendela terdengar Nala bertanya kepada Mira apakah roda baru nanti bisa ditempeli gambar roket yang lama.

Raka menutup aplikasi. Untuk pertama kali hari itu ia memahami bahwa yang sedang mereka usahakan bukan sekadar membeli barang pengganti. Ada seorang anak di dalam rumah yang ingin tetap memegang arah jalannya sendiri. Ia masuk, mengambil buku tulis kosong, dan menulis sebuah angka besar di halaman pertama: 2.750.000.

Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.