Sabtu, 31 Oktober 2026
Masuk
Cerpen

Belajar Melepaskan Pegangan (Part 5)

Kursi yang lama ditunggu tiba, tetapi Raka masih perlu mempelajari cara lain menjaga putrinya ketika Nala mulai menentukan arah sendiri.

Sabtu pagi, Raka terbangun sebelum alarm dan segera melihat layar ponselnya. Tidak ada pesan pembatalan dari toko. Ia memandangi langit di sela genting, memutuskan tidak akan membuka aplikasi ojek sampai urusan Nala selesai. Dari dapur terdengar suara Mira mengaduk teh. Hari itu rumah mereka tidak lebih luas, penghasilan mereka tidak bertambah secara ajaib, tetapi ada sesuatu yang membuat Raka tak bisa duduk diam.

“Jangan bolak-balik teras, Pak,” kata Nala dari kamar. “Nanti lantainya habis.”

Raka berhenti di ambang pintu. Nala memakai kaus bergambar planet dan celana panjang biru. Rambutnya diikat oleh Mira dengan karet kuning. Di pangkuannya ada stiker roket lama yang sudah dipindahkan ke plastik bening agar tidak makin rusak.

“Bapak cuma cek motor.”

“Motornya sampai hafal muka Bapak.”

Mereka sarapan bersama. Setelah itu Mira mengatur kendaraan yang telah mereka pesan untuk mengantar Nala dan kursi pinjaman ke toko. Raka pergi menyusul menggunakan motornya. Sebelum berangkat ia memastikan catatan ukuran dan saran dari tenaga rehabilitasi sudah dibawa, bersama bukti pembayaran dan buku kecil yang mencatat semua uang masuk. Mira mengunci pintu, lalu memeriksa kembali apakah lampu jahit telah dimatikan.

Di toko, kursi baru menunggu dekat jendela. Rangkanya berwarna abu-abu tua, dudukannya lebih kecil daripada kursi pinjaman, dan kedua rodanya mengilap tanpa tampak mewah. Nala memandangnya dengan kening berkerut, seperti menilai teman baru yang belum dikenal. Mbak Sari membantu mereka memeriksa pengaturan dan menunjukkan cara menggunakan rem, melipat bagian yang memang dapat dilipat, serta memastikan pijakan kaki tidak menggesek lantai. Nala mencoba berpindah ke dudukan baru dengan bantuan sesuai kebiasaannya.

“Bagaimana?” tanya Mira.

“Beda.”

“Beda enak atau beda aneh?”

“Masih mau kenalan.”

Sari mengangguk. Ia tidak meminta Nala langsung menyukai semua bagian kursi. Beberapa penyesuaian dilakukan berdasarkan catatan yang mereka bawa. Setelah itu Nala menggerakkan roda ke depan. Kedua tangannya dapat mencapai lingkar pendorong dengan lebih baik. Roda bergerak ringan, berhenti ketika ia menarik rem, lalu bergerak lagi saat rem dilepas. Raka mengikuti dari belakang sejauh dua langkah, menahan dorongan untuk segera memegang kursi.

Nala berbelok ke kiri, menghindari rak berisi tongkat bantu. Belokannya terlalu lebar. Ia berhenti, memundurkan sedikit, mencoba lagi. Pada percobaan kedua, ia berhasil melewati ruang sempit di antara dua rak.

“Pak,” katanya tanpa menoleh, “lihat tadi?”

“Lihat.”

“Tadi aku sendiri.”

“Iya.”

Raka hendak menambahkan kalimat panjang tentang betapa bangganya ia, tetapi Nala sudah sibuk memeriksa apakah kantong kecil di belakang sandaran bisa memuat buku komiknya. Ia rupanya sedang memikirkan hari-hari biasa yang akan datang, bukan menunggu sebuah pidato.

Mira membayar sesuai harga yang telah mereka rencanakan: dua juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Uang itu berasal dari tabungan keluarga yang disisihkan, pendapatan tambahan yang mereka kerjakan bersama, serta pinjaman kelompok pengemudi yang harus dikembalikan. Petugas menyerahkan kuitansi, catatan perawatan, dan informasi layanan penyesuaian. Raka memasukkannya ke map plastik. Ia sudah menulis empat tanggal cicilan di kalender dekat mesin jahit. Kertas kecil itu tidak membuatnya merasa kalah; justru menjadi pengingat bahwa sesudah membeli kursi, mereka tetap punya hari Senin, beras, listrik, dan bensin yang harus diurus.

Di luar toko, kursi pinjaman sudah terlipat dan siap dikembalikan ke pos warga. Raka berterima kasih kepada Pak Darno melalui telepon. Pak Darno menjawab seperti biasa, seolah peminjaman kursi selama beberapa pekan itu tak perlu dibesar-besarkan. “Yang penting sudah ada yang pas. Nanti kalau perlu pinjam sesuatu, bilang dulu,” katanya. Raka berjanji membantu merapikan gudang pos pada hari libur. Bukan sebagai pembayaran utang budi yang tak habis-habis, melainkan karena gudang itu memang selalu berantakan.

Sepanjang jalan pulang Nala mencoba mempelajari bunyi baru rodanya. Tidak ada decit panjang dari poros. Ketika melewati sambungan trotoar ia melambat, meminta Mira menahan kursi sebentar, kemudian mencoba lagi di bagian yang lebih rata. Raka berdiri di sisinya. Ia akhirnya memahami bahwa tidak setiap bantuan harus datang lebih cepat daripada permintaan.

Mereka singgah sebentar ke bengkel Pak Jatmiko untuk mengambil beberapa benda dari kursi lama. Pak Jatmiko telah membersihkan tutup roda dan mengemas baut kecil yang aman disimpan sebagai kenang-kenangan, bukan digunakan kembali sembarangan. Rangka yang retak akan dipisahkan untuk bahan bekas agar tidak keliru dipakai lagi. Nala meminta melihatnya sekali lagi.

“Dulu aku belajar jalan ke sekolah pakai itu,” katanya. Maksudnya bukan berjalan dengan kaki; Raka tahu bahasa keluarga mereka punya arti sendiri. “Waktu pertama kali bisa belok, aku nabrak pot Bu Suminah.”

“Potnya sampai pindah rumah,” sahut Mira.

“Potnya cuma retak sedikit!”

Tawa mereka memenuhi bengkel sebentar. Nala lalu menempelkan stiker roket yang lama pada bagian pelindung kecil di kursi baru, di tempat yang tidak mengganggu mekanisme. Satu ujungnya agak mengelupas. Ia menekannya dengan ibu jari, meminta potongan selotip bening, dan merasa puas melihat roket itu kembali ikut berjalan.

Senin berikutnya, Raka mengantar Nala ke sekolah sebelum menerima pesanan pertama. Di depan jalur landai, beberapa anak berlarian melewati mereka. Alma berdiri dekat pintu kelas, melambaikan buku gambar. Nala berhenti sejenak untuk memeriksa rute yang akan dilewatinya. Jalur itu pendek, tidak curam, dan sudah biasa ia gunakan, tetapi kali ini ia ingin mencobanya dengan roda yang baru.

“Boleh sendiri?” tanyanya.

“Bapak di sebelah.”

Nala melaju pelan. Satu kali roda kirinya keluar sedikit dari garis paving, lalu ia mengoreksi arahnya. Di dekat pintu, Alma mengulurkan tangan hendak membantu, tetapi berhenti setelah Nala menggeleng sambil tersenyum. Raka menyaksikan dari jarak beberapa langkah. Putrinya sampai di pintu tanpa sorak-sorai. Ia hanya berbalik dan mengangkat tangan, kemudian masuk karena bel sudah hampir berbunyi.

Beberapa pekan sesudah itu, ketika cicilan pertama sudah mereka bayar dan pekerjaan rumah kembali menemukan iramanya, mereka menyisihkan sedikit uang untuk pergi bersama ke sebuah tempat pandang di perbukitan selatan Jogja. Sebuah mobil sewaan mengantar mereka sampai area berpaving yang bisa dilalui kursi. Dari sana tampak atap-atap rumah, deretan lampu yang mulai menyala, dan langit sore yang perlahan berubah jingga.

Mira membeli tiga bungkus kacang rebus dari warung kecil. Raka duduk di bangku batu, sementara Nala menghadap kota. Ia menunjuk jalan jauh di bawah yang tampak seperti garis tipis berkelok-kelok.

“Itu kalau digambar gampang, ya, Pak,” katanya.

“Coba saja besok.”

“Jalannya jangan lurus semua. Nggak seru.”

Raka melihat tangan putrinya bertumpu pada roda. Tangan itu mungkin masih akan meminta bantuan di banyak tempat, dan ia akan tetap datang ketika diminta. Tetapi sore itu Nala memutar kursinya sendiri untuk menatap mereka, lalu bergerak beberapa langkah ke sisi Mira agar bisa berbagi kacang rebus. Raka tidak bangkit mengikuti. Ia membiarkan ruang kecil di antara mereka tetap ada, cukup untuk sebuah kursi roda berbelok dengan leluasa.

Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.