Sabtu, 31 Oktober 2026
Masuk
Cerpen

Izin yang Tidak Bisa Dibeli (Part 4)

Ketika bantuan menuntut keterbukaan yang tidak diinginkan Nala, keluarganya harus memilih jalan yang menghormati suaranya.

“Boleh nggak kalau fotoku nggak dipakai?” Nala bertanya lagi, kali ini menatap ayahnya. Bukan nada merajuk. Lebih seperti seseorang yang menunggu orang dewasa selesai membicarakan barang miliknya.

Raka duduk di tepi meja. Pesan di ponsel Mira masih terbuka. Ia terbayang satu unggahan bisa mengumpulkan uang lebih cepat daripada puluhan perjalanan motor. Ia bahkan sempat menghitung berapa hari mereka akan hemat. Di kepalanya, kursi roda yang baru sudah berdiri di depan pintu. Tetapi Nala belum mengizinkan siapa pun mengambil gambarnya.

“Bapak belum jawab,” kata Raka. “Bapak mau dengar dulu kenapa.”

Nala mengusap remah penghapus ke satu sisi kertas. “Kalau teman-teman lihat aku di foto terus tulis kasihan, nanti di sekolah mereka tanya macam-macam. Aku capek jawab. Aku pengin mereka lihat gambar taman yang kubuat, bukan cuma kakiku.”

Mira meletakkan ponsel menghadap bawah. “Kita bisa bilang terima kasih dan menolak unggahan itu.”

Raka menghembuskan napas. “Kalau tanpa foto?”

“Kalau ceritanya tentang aku, tetap tanya aku dulu,” jawab Nala.

Ia tidak berbicara dengan kalimat sempurna seperti tokoh dalam buku nasihat. Ia hanya mengatakan hal yang belum sempat dijelaskan orang dewasa. Raka meminta maaf karena tadi pikirannya terlalu cepat menuju uang. Mira membalas pesan wali murid itu dengan sopan. Ibu tersebut menjawab bahwa ia mengerti, lalu menawarkan membantu mencari informasi tentang kursi yang sesuai tanpa menyebarkan kisah pribadi Nala. Mereka menerimanya sebagai informasi, bukan janji akan ada orang yang menyelamatkan keadaan.

Keesokan harinya, Raka dan Mira membawa Nala ke toko alat bantu yang pernah dikunjungi Raka. Kursi pinjaman harus didorong bergantian karena berat. Penjual bernama Mbak Sari meminta Nala duduk pada kursi contoh dan memeriksa apakah telapak kakinya bertumpu dengan baik, apakah pinggulnya terlalu terjepit, dan apakah tangannya mampu meraih lingkar pendorong roda. Ia menyarankan keluarga memastikan kebutuhan posisi duduk Nala bersama tenaga rehabilitasi yang biasa mendampinginya, bukan hanya memilih berdasarkan warna atau harga.

“Yang ini rodanya dekat,” kata Nala setelah mencoba bergerak beberapa sentimeter. “Aku nggak perlu miring begini.”

Ia memperagakan bagaimana sebelumnya ia harus merentangkan lengan sampai bahu pegal. Raka refleks memegang pegangan belakang ketika Nala hendak memutar arah. Putrinya langsung menoleh.

“Pak, sebentar.”

“Takut kena rak.”

“Kalau kena rak, nanti aku bilang.”

Mira menahan senyum. Raka melepaskan tangan, dan Nala memutar roda pelan sampai menghadap ke pintu. Manuvernya belum rapi; ban kiri hampir mengenai kaki meja. Namun wajahnya berubah seperti baru menemukan tombol yang selama ini tersembunyi. Sari mencatat penyesuaian yang diperlukan. Harga tetap dua juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, dengan pemeriksaan ukuran ulang sebelum pembelian.

Di luar toko, Raka memperlihatkan total tabungan satu juta lima ratus sembilan puluh ribu rupiah kepada Mira. Mereka masih perlu satu juta seratus enam puluh ribu. Mira memperkirakan tambahan dari dua pekan pekerjaan menjahitnya, sementara Raka punya jadwal pengantaran kue yang cukup jelas. Tidak semua penghasilan itu dapat disimpan; beras, listrik, dan bensin tetap harus dibayar.

“Aku pernah ikut simpanan kelompok pengemudi,” kata Raka. “Ada pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, cicilan empat bulan. Tapi selama ini aku selalu pikir pinjaman itu tanda aku gagal mengatur uang.”

Mira tidak langsung menyuruhnya mengambil pinjaman. “Tanya dulu aturannya. Kalau cicilannya bikin kita berhenti makan baik-baik, jangan.”

Sore itu Raka menemui Seno, koordinator kelompok pengemudi di sebuah warung dekat terminal. Mereka sudah lama membayar iuran anggota untuk simpanan bersama dan saling membantu ketika kendaraan harus diperbaiki atau keluarga menghadapi kebutuhan mendesak. Seno menjelaskan mereka bisa meminjam lima ratus dua puluh ribu rupiah, jika pengurus menyetujui dan jadwal pembayaran realistis. Pengembaliannya seratus tiga puluh ribu sebulan selama empat bulan, tanpa biaya tambahan pada skema dana sosial yang sedang berlaku.

“Jangan ambil kalau cuma karena nggak enak menunggu,” ujar Seno. “Hitung sama Mira. Aku nggak mau besok kamu malah narik sambil ngantuk buat bayar cicilan.”

Raka mengangguk. Ia pulang membawa formulir, bukan uang. Malam itu ia dan Mira menghitung lebih dari sekali. Penghasilan mereka mungkin naik-turun, jadi mereka menguji perkiraan ketika pesanan sedang sepi. Mereka memutuskan hanya akan mengajukan setelah tabungan mencapai dua juta dua ratus tiga puluh ribu dan masih ada cadangan rumah yang tidak disentuh. Raka membatalkan niat mengambil pesanan selepas pukul sepuluh malam; upah tambahan tidak sebanding dengan bahaya berkendara saat matanya sulit terbuka.

Hari-hari sesudahnya tidak berubah menjadi mudah. Dua pelanggan kedai menunda jadwal, satu jahitan harus diulang karena ukuran keliru. Raka sempat kesal dan ingin menambah lagi jam kerja. Mira menyuruhnya membaca catatan pengeluaran sebelum memutuskan. Ia memilih mengganti kerugian dengan pekerjaan pada jam yang aman. Lintang memberi jadwal tetap untuk Sabtu, dibayar seperti biasa untuk setiap pesanan yang berhasil diantar. Upah itu bukan hadiah. Ada alamat yang harus ia cari, kotak yang harus tetap utuh, dan pelanggan yang punya hak mengeluh bila terlambat.

Di akhir dua pekan berikutnya, setelah seluruh pengeluaran kerja dipisahkan, tambahan uang yang bisa mereka simpan berjumlah enam ratus empat puluh ribu rupiah. Mira menulis total baru: dua juta dua ratus tiga puluh ribu. Raka mengirimkan formulir permohonan pinjaman kepada Seno. Dua hari kemudian, pengurus menyetujui jumlah lima ratus dua puluh ribu dengan jadwal cicilan yang telah mereka sepakati. Uang itu diterima melalui transfer, dicatat di buku rumah sebagai utang, bukan rezeki yang jatuh dari langit.

Mereka kembali ke toko. Mbak Sari memeriksa ukuran Nala dan menyiapkan pemesanan. Kali ini saat Nala mencoba kursi contoh sekali lagi, Raka berdiri agak jauh. Nala maju, mengerem, membelok perlahan. Ia melewati pintu toko dengan bantuan hanya untuk menahan pintunya agar tidak menutup.

“Kursinya bisa diambil Sabtu setelah disetel,” kata Sari. “Jangan lupa bawa catatan penyesuaian dari tempat rehabilitasi.”

Dalam perjalanan pulang, Nala memanggil ayahnya ketika mereka tiba di bagian trotoar yang sedikit miring. “Pak, kalau kursiku sudah datang, nanti aku boleh coba dulu sebelum Bapak dorong?”

Raka melihat jalan yang bergelombang, motor yang lalu-lalang, dan anaknya yang menunggu jawaban. Ia masih takut. Rasa takut itu tidak hilang hanya karena mereka sudah hampir membeli kursi baru.

“Boleh,” katanya akhirnya. “Bapak jalan di samping. Kalau perlu bantuan, kamu yang bilang.”

Nala mengangguk, seolah mereka baru menyepakati sesuatu yang lebih penting daripada tanggal pengambilan kursi.

Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.