Pada pukul sembilan kurang lima, Raka sudah berdiri di depan pintu sambil memegang gagang kursi pinjaman. Helmnya masih tergantung di motor. Ponsel yang biasanya berbunyi mengabarkan pesanan kali ini tergeletak di meja, layarnya hitam. Nala keluar dari kamar membawa kartu anggota perpustakaan dan dua buku yang harus dikembalikan.
“Bapak nggak lupa?” tanyanya.
“Bapak bahkan belum sarapan karena takut kamu lama dandan.”
“Aku nggak dandan. Aku cari kaus kaki yang sepasang.”
Mereka tertawa, dan Mira menyelipkan dua potong singkong rebus ke dalam kantong plastik untuk dimakan nanti. Perpustakaan kelurahan tak jauh dari rumah, tetapi menuju ke sana mereka harus melewati jalan yang permukaannya pecah di dekat selokan. Raka mendapati dirinya terlalu sering berkata, “Hati-hati,” padahal ia yang mendorong kursi. Nala menepuk punggung tangannya.
“Aku tahu ada lubang, Pak. Nanti kalau kursinya baru, aku mau belajar lewat bagian kanan.”
“Bagian kanan lebih miring.”
“Makanya belajar.”
Di perpustakaan, Nala memilih buku tentang benda-benda luar angkasa dan komik yang tokohnya seekor kucing pemalas. Raka duduk di kursi plastik sambil memperhatikan anaknya mengubah posisi tubuh untuk meraih rak bawah. Ia terbiasa buru-buru melakukan sesuatu sebelum Nala meminta. Kali ini ia menunggu. Nala berhasil mengambil buku dengan ujung jarinya, kemudian mengangkatnya seperti piala kecil.
Sore hari, setelah beberapa perjalanan, Raka menerima pesanan mengambil kotak kue dari sebuah kedai dekat Kotabaru. Pemiliknya, perempuan bernama Lintang, sedang menutup kardus dengan pita kertas. Kotak itu ternyata harus dikirim ke alamat yang sama dengan pesanan lain yang baru masuk ke sistem, membuat kasir kebingungan. Raka membantu memeriksa label dan menata dua paket supaya tidak saling menghimpit di tas pengiriman. Ia tahu jalan pintas yang menghindari lubang besar dekat perempatan.
“Mas biasa bawa pesanan rapuh?” tanya Lintang ketika ia kembali dua hari kemudian mengambil paket lain.
“Biasa bawa nasi kuah yang tutupnya kurang rapat,” jawab Raka. “Kalau salah belok, saya yang kena marah.”
Lintang tertawa singkat. Ia memerlukan orang untuk mengantar pesanan kue acara pada akhir pekan. Tidak semua pesanan cocok dipesan melalui aplikasi karena jam ambilnya seragam dan harus diantarkan hati-hati. Upahnya dihitung per pengantaran, dengan jam dan alamat disepakati sehari sebelumnya. Raka tidak langsung menerima. Ia bertanya berapa titik pengantaran, apakah ia boleh menolak ketika ada urusan keluarga, dan siapa yang bertanggung jawab bila paket rusak akibat kemasan yang lemah.
“Kalau cocok kita coba dua hari dulu,” kata Lintang. “Saya nggak mau janji kerja terus kalau pesanan saya belum tetap.”
Raka menyukai jawabannya. Tidak ada belas kasihan yang perlu dibalas. Hanya pekerjaan yang bisa ia kerjakan, dengan syarat yang perlu mereka sepakati. Ketika Lintang menyerahkan catatan alamat dan pembayaran dua kiriman percobaan dalam amplop cokelat, ia menyimpannya di tas dengan hati-hati seperti menyimpan sebuah kemungkinan.
Tiga hari kemudian hujan mengguyur kota sejak siang. Raka sedang menunggu pesanan terakhir kedai di bawah atap seng. Air menetes dari ujung jas hujannya. Lintang menawarkan segelas air hangat dan bertanya mengapa ia selalu menolak pengantaran terlalu malam. Raka semula hendak menjawab soal keluarga saja, tetapi melihat kursi kecil di belakang kasir membuatnya teringat kursi pinjaman di rumah.
“Anak saya perlu kursi roda baru,” ujarnya. “Saya sedang kumpulkan uang. Tapi malam harus tetap pulang, soalnya istri saya juga kerja.”
Lintang mengangguk tanpa berubah menjadi orang yang memberi petuah. “Kalau begitu pesanan Sabtu saya batasi sampai jam lima. Lebih mudah juga untuk pembeli.”
Dari percobaan kerja itu Raka belajar bahwa orang lain tidak selalu meminta seluruh waktunya. Kadang yang dibutuhkan adalah kesediaan menyebut batas sejak awal. Dalam perjalanan pulang ia singgah ke bengkel Pak Jatmiko. Kursi lama Nala masih disimpan di sudut, rodanya terlepas untuk diperiksa lebih lanjut.
“Saya masih kepikiran kursi ini,” kata Raka. “Ada bagian yang bisa diselamatkan?”
Pak Jatmiko menunjuk penutup jari-jari plastik yang ditulisi huruf N dengan spidol. “Baut kecil, pegangan kain, sama stiker roketnya. Rangka begini sayang, tapi kalau ditumpangi anak, saya tidak mau ambil risiko.”
Raka meraba stiker itu. Nala menempelkannya ketika masih kelas satu, miring sedikit karena tangannya gemetar menahan tawa. Ia tidak jadi meminta kursi lama diperbaiki agar bisa dipakai harian. Pak Jatmiko membantu melepas stiker pelan-pelan dengan udara hangat dari alat bengkel sehingga kertasnya tidak terlalu robek.
Ketika Raka tiba di rumah, Nala sedang menggambar di meja pendek. Ia belum pernah menunjukkan kepada siapa pun desain sampul buku barunya: roda besar dengan bintang-bintang di sekelilingnya. Raka meletakkan stiker lama di samping kertas. Nala memegangnya dengan kedua tangan.
“Bapak ambil dari kursi rusak?”
“Iya. Yang bisa dipindah kita pindah. Yang nggak aman kita tinggal.”
Nala menempelkan stiker itu untuk sementara pada sampul buku catatan mereka. “Ini masih boleh ikut?”
“Harus. Dia sudah ikut dari awal.”
Mira datang membawa gulungan kain perca hasil pekerjaan. Ia melaporkan ada pelanggan yang membayar lebih cepat sehingga mereka bisa menambah uang tabungan. Raka menghitung bersama mereka: setelah uang pertama sembilan ratus sepuluh ribu, tambahan hasil antar pesanan, pekerjaan rutin, dan jahitan selama pekan berikutnya berjumlah enam ratus delapan puluh ribu. Total kini satu juta lima ratus sembilan puluh ribu rupiah.
“Masih kurang satu juta seratus enam puluh,” kata Mira.
Raka mengangguk. Kalimat itu tidak lagi terasa seperti putusan. Lintang menawarkan jadwal dua akhir pekan berikutnya. Mira memiliki tiga pesanan perbaikan seragam. Mereka punya rencana, meski belum lengkap.
Lalu ponsel Mira berbunyi. Pesan masuk dari seorang wali murid yang melihat kursi pinjaman Nala. Ibu itu menawarkan membuat unggahan penggalangan dana di media sosial sekolah: foto Nala, cerita kondisinya, dan nomor rekening keluarga. Niatnya baik, bahkan mungkin akan mempercepat semuanya.
Mira membaca pesannya keras-keras. Nala yang tadi sibuk menggambar berhenti menggerakkan pensil. Raka melihat perubahan kecil di wajah putrinya, seperti pintu yang baru setengah dibuka lalu ditarik lagi.
“Kalau begitu,” kata Nala pelan, “semua orang akan lihat fotoku?”
Tak seorang pun menjawab segera. Di atas meja, stiker roket yang sudah kusam tetap menempel pada sampul buku. Raka tahu uang yang kurang masih banyak. Ia juga tahu, untuk pertama kalinya, Nala tidak sedang bertanya tentang harga.