Karl Marx tidak mengatakan bahwa Tuhan menyuruh manusia hidup miskin. Kritik yang ia ajukan menyasar cara kemiskinan dan penderitaan dapat dibungkus sebagai takdir yang harus diterima, bahkan disyukuri, sehingga keadaan sosial yang timpang tidak lagi dipertanyakan.


Persoalannya bukan semata-mata apakah agama itu baik atau buruk. Pertanyaan yang lebih tajam adalah siapa yang diuntungkan ketika orang miskin diminta diam dan bersabar, sementara penyebab kemiskinan tidak dibahas. Dalam kerangka ini, agama dipahami sebagai bagian dari pengalaman manusia yang lahir dari dunia yang keras sekaligus dapat digunakan untuk mempertahankan ketertiban yang tidak adil.

Pada 1844, Marx menulis bahwa agama merupakan keluhan makhluk yang tertindas dan suara hati dari dunia yang tidak manusiawi. Gagasan itu menunjukkan bahwa ia tidak memandang agama secara sederhana sebagai sesuatu yang jahat. Agama juga dapat menjadi ungkapan penderitaan bagi orang-orang yang tidak memiliki ruang lain untuk menyampaikan keluhan.

Istilah “candu” kemudian perlu dibaca dalam konteks zamannya. Candu merupakan obat penahan sakit yang legal dan digunakan oleh orang yang sedang kesakitan. Karena itu, perbandingan Marx tidak terutama berarti agama adalah racun. Maksudnya, agama dapat meredakan nyeri hidup yang bersumber dari sistem yang timpang tanpa menyembuhkan penyebab nyeri tersebut.

Gambaran itu terlihat dalam contoh seseorang yang bekerja sejak subuh hingga malam, tetapi upahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan. Jika kemiskinan dijelaskan semata sebagai ujian dan kesabaran dijanjikan akan dibalas di akhirat, rasa sakit mungkin memperoleh penghiburan. Namun, pertanyaan mengenai mengapa ia harus hidup semiskin itu berisiko tidak pernah diajukan.

Latar belakang Marx turut membentuk cara pandangnya. Ia tumbuh dari keluarga yang berpindah keyakinan demi menghadapi diskriminasi dan melihat hubungan antara institusi agama dengan kekuasaan ekonomi serta politik. Dari pengalaman dan pengamatannya, muncul pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya disembuhkan atau ditenangkan oleh agama: orang-orang yang menderita, atau mereka yang memperoleh keuntungan dari keadaan tersebut.

Karena itu, sasaran kritik Marx bukan semata-mata Tuhan, melainkan pihak yang mengatur narasi tentang Tuhan. Janji mengenai kehidupan akhirat, menurut kritik tersebut, dapat dipakai untuk mendorong penerimaan terhadap nasib dan menjaga ketertiban dunia, sementara pihak yang menciptakan kondisi buruk tetap berada dalam posisi aman. Pertanyaan akhirnya bergeser dari apakah kemiskinan harus disyukuri menjadi siapa yang diuntungkan ketika kemiskinan dianggap sebagai takdir yang tidak boleh dilawan.