Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Tuhan Tidak Pernah Menyuruhmu Miskin, tetapi Agama Dipakai untuk Membuat Kemiskinan Dianggap Takdir

Pembacaan Karl Marx tentang agama tidak berhenti pada anggapan bahwa agama adalah candu. Kritiknya diarahkan pada cara kekuasaan menggunakan narasi keagamaan untuk meredakan penderitaan tanpa mengubah sumber ketimpangan.

Karl Marx tidak mengatakan bahwa Tuhan menyuruh manusia hidup miskin. Kritik yang ia ajukan menyasar cara kemiskinan dan penderitaan dapat dibungkus sebagai takdir yang harus diterima, bahkan disyukuri, sehingga keadaan sosial yang timpang tidak lagi dipertanyakan.

Ada satu kalimat dari abad ke-19 yang masih menampar sampai sekarang. Bukan untuk menghina orang beriman, tapi untuk bertanya siapa yang paling diuntungkan ketika orang miskin disuruh diam dan bersabar sementara yang menindas mereka tenang-tenang saja.
Tahun 1844, seorang filsuf muda menulis sesuatu yang sampai hari ini masih disalahpahami. Ia tidak bilang agama itu jahat. Ia bilang agama adalah keluhan makhluk yang tertindas, suara hati dari dunia yang keras. Sebelum jadi candu, agama dulu adalah tangisan orang-orang yang tidak punya tempat lain untuk berteriak.

Persoalannya bukan semata-mata apakah agama itu baik atau buruk. Pertanyaan yang lebih tajam adalah siapa yang diuntungkan ketika orang miskin diminta diam dan bersabar, sementara penyebab kemiskinan tidak dibahas. Dalam kerangka ini, agama dipahami sebagai bagian dari pengalaman manusia yang lahir dari dunia yang keras sekaligus dapat digunakan untuk mempertahankan ketertiban yang tidak adil.

Candu, di zamannya, bukan barang haram. Ia obat penahan sakit yang legal, dipakai siapa saja yang kesakitan. Jadi ketika agama disamakan dengan candu, maksudnya bukan agama itu racun. Maksudnya, agama meredakan nyeri hidup yang sebenarnya berasal dari sistem yang timpang, tanpa pernah menyembuhkan sumber nyerinya.

Pada 1844, Marx menulis bahwa agama merupakan keluhan makhluk yang tertindas dan suara hati dari dunia yang tidak manusiawi. Gagasan itu menunjukkan bahwa ia tidak memandang agama secara sederhana sebagai sesuatu yang jahat. Agama juga dapat menjadi ungkapan penderitaan bagi orang-orang yang tidak memiliki ruang lain untuk menyampaikan keluhan.

Bayangkan seseorang bekerja dari subuh sampai malam, upahnya tak cukup makan, tapi ia diajarkan bahwa kemiskinan itu ujian, dan surga menunggu di ujung kesabaran. Rasa sakitnya mereda sesaat. Tapi pertanyaan tentang kenapa ia harus semiskin ini tidak pernah sempat ditanyakan, apalagi dijawab.

Istilah “candu” kemudian perlu dibaca dalam konteks zamannya. Candu merupakan obat penahan sakit yang legal dan digunakan oleh orang yang sedang kesakitan. Karena itu, perbandingan Marx tidak terutama berarti agama adalah racun. Maksudnya, agama dapat meredakan nyeri hidup yang bersumber dari sistem yang timpang tanpa menyembuhkan penyebab nyeri tersebut.

Di sinilah letak kritiknya yang sebenarnya. Bukan pada Tuhan, tapi pada siapa yang mengatur narasi tentang Tuhan. Selama berabad-abad, kekuasaan menemukan cara memakai janji akhirat untuk menjaga ketertiban dunia. Orang diajarkan menerima nasib, sementara yang menciptakan nasib buruk itu duduk tenang di atas.

Gambaran itu terlihat dalam contoh seseorang yang bekerja sejak subuh hingga malam, tetapi upahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan. Jika kemiskinan dijelaskan semata sebagai ujian dan kesabaran dijanjikan akan dibalas di akhirat, rasa sakit mungkin memperoleh penghiburan. Namun, pertanyaan mengenai mengapa ia harus hidup semiskin itu berisiko tidak pernah diajukan.

Marx sendiri tumbuh dari keluarga yang berpindah keyakinan demi bertahan dari diskriminasi. Ia melihat dari dekat bagaimana institusi agama sering berdiri berdampingan dengan kekuasaan ekonomi dan politik, bukan dengan orang-orang yang sedang menderita. Dari situ lahir keberaniannya bertanya, agama ini menyembuhkan siapa, atau menenangkan siapa.

Latar belakang Marx turut membentuk cara pandangnya. Ia tumbuh dari keluarga yang berpindah keyakinan demi menghadapi diskriminasi dan melihat hubungan antara institusi agama dengan kekuasaan ekonomi serta politik. Dari pengalaman dan pengamatannya, muncul pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya disembuhkan atau ditenangkan oleh agama: orang-orang yang menderita, atau mereka yang memperoleh keuntungan dari keadaan tersebut.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Tuhan menyuruhmu miskin. Jelas tidak pernah. Pertanyaannya adalah, siapa yang selama ini diam-diam diuntungkan setiap kali kemiskinanmu dibungkus jadi takdir yang harus kau syukuri, bukan keadaan yang boleh kau lawan.

Karena itu, sasaran kritik Marx bukan semata-mata Tuhan, melainkan pihak yang mengatur narasi tentang Tuhan. Janji mengenai kehidupan akhirat, menurut kritik tersebut, dapat dipakai untuk mendorong penerimaan terhadap nasib dan menjaga ketertiban dunia, sementara pihak yang menciptakan kondisi buruk tetap berada dalam posisi aman. Pertanyaan akhirnya bergeser dari apakah kemiskinan harus disyukuri menjadi siapa yang diuntungkan ketika kemiskinan dianggap sebagai takdir yang tidak boleh dilawan.

Sumber: Instagram
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.