
Indonesia membuka akses mineral kritis seperti nikel kepada Amerika Serikat (AS) sebagai imbalan atas tarif nol persen pada ekspor komoditas tertentu, dalam kesepakatan dagang resiprokal (ART) yang ditargetkan ditandatangani akhir Januari 2026. Langkah ini merespons kebijakan Presiden Donald Trump yang mengenakan tarif timbal balik minimal 10%, dengan Indonesia awalnya dikenai 32%, tapi nikel dan bauksit dikecualikan untuk dorong ekspor langsung ke AS.
Latar Belakang Negosiasi
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan penawaran kedua Indonesia mencakup investasi nikel melalui Danantara, memenuhi kebutuhan AS untuk baterai EV, pertahanan, dan teknologi tinggi. AS meminta akses prioritas ke mineral kritis Indonesia untuk kurangi ketergantungan pada China, sementara Indonesia hindari tarif tinggi pada komoditas unggulan.
Manfaat dan Risiko
Kesepakatan potensial perkuat ekspor hilirisasi nikel senilai miliaran dolar, tapi ekonom ingatkan risiko kehilangan kendali aset strategis jangka panjang demi keuntungan tarif sementara. Pemerintah tekankan kemitraan investasi, bukan sekadar ekspor mentah, untuk jaga nilai tambah domestik.