Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Tahun 1977, Mochtar Lubis membongkar tabiat manusia Indonesia. Ada Apa ini Sebenarnya?

Pada 1977, Mochtar Lubis mengkritik tabiat manusia Indonesia sebagai persoalan yang dibentuk sejarah, tekanan kekuasaan, dan lemahnya rasionalitas. Kritik tentang hipokrisi, feodalisme, sikap menyalahkan, dan seni sebagai ornamen masih relevan untuk dibaca ulang.

Pada 1977, Mochtar Lubis membedah tabiat manusia Indonesia melalui kritik yang tidak diarahkan untuk menyenangkan siapa pun. Hampir setengah abad kemudian, pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah kritik itu masih relevan, melainkan mengapa sejumlah pola yang ia soroti terasa terus berulang.

Kritik terhadap kebudayaan sering kali berhenti pada keluhan dangkal. Kita menyadari ada yang keliru dalam cara kita berinteraksi, berorganisasi, dan bernegara. Namun, kita jarang menelusuri akar strukturnya: mengapa pola-pola canggung dan manipulatif tersebut terus berulang lintas generasi?
Pada 1977, Mochtar Lubis menyampaikan pidato kebudayaan kepada publik intelektual dan membahas sifat dasar masyarakat yang dibentuk warisan sejarah, tekanan kekuasaan, serta kegagalan membangun rasionalitas.
Menurut Mochtar Lubis, kelemahan manusia Indonesia bukan sekadar cacat moral individual, melainkan hasil dari sistem kepalsuan terstruktur. Hipokrisi dan feodalisme saling mengunci, menciptakan masyarakat yang mahir bersolek di permukaan tetapi rapuh dalam komitmen etis.

Bagi Mochtar Lubis, persoalan kebudayaan tidak cukup dijelaskan sebagai kelemahan moral individu. Sifat-sifat masyarakat dibentuk oleh warisan sejarah yang panjang, tekanan kekuasaan, dan kegagalan membangun rasionalitas yang kuat. Karena itu, kritik terhadap perilaku sehari-hari perlu ditarik lebih jauh menuju struktur sosial yang membuat pola tersebut bertahan lintas generasi.

Hipokritis dan Feodalisme, pola hubungan hierarkis memaksa individu untuk selalu tampil menyenangkan di depan atasan. Akibatnya, kejujuran dikorbankan demi keselamatan posisi. Ketaatan formal dipelihara, sementara kebenaran substantif disingkirkan demi menjaga rasa aman palsu.
Ketika kegagalan terjadi, mekanisme pertahanan yang muncul adalah melempar kesalahan. Jika tidak menyalahkan keadaan atau bawahan, kita lari ke dalam narasi mistik dan takhayul. Rasionalitas ditukar dengan kepasrahan yang salah kaprah.

Hipokrisi dan feodalisme menjadi bagian penting dari kritik itu. Hubungan yang hierarkis mendorong individu untuk tampil menyenangkan di hadapan atasan, sementara kejujuran dikorbankan demi mempertahankan posisi. Ketaatan formal dipelihara, sedangkan kebenaran substantif disingkirkan demi rasa aman yang sebenarnya rapuh.

Kita bangga pada bakat seni dan keindahan tradisi. Namun, tanpa pijakan etika dan daya kritis, karya seni dan ekspresi budaya rentan berubah menjadi sekadar ornamen pemanis. Karya seni dan ekspresi budaya dipakai untuk mempercantik realitas sebenarnya yang berantakan.
Jika diagnosis Mochtar Lubis disampaikan puluhan tahun lalu, sejauh mana kita telah berbenah? Apakah institusi modern kita benar-benar bekerja secara rasional, atau sekadar membungkus watak feodal lama dengan istilah-istilah baru yang tampak profesional?

Ketika kegagalan terjadi, tanggung jawab juga mudah dialihkan kepada keadaan atau bawahan. Jika tidak dilakukan, persoalan dapat ditarik ke dalam narasi mistik dan takhayul. Dalam pola seperti ini, rasionalitas digantikan oleh kepasrahan yang keliru, sehingga evaluasi terhadap sistem dan keputusan sendiri tidak pernah benar-benar berlangsung.

Mencintai bangsa tidak berarti mempertahankan mitos kesempurnaan. Kritik Mochtar Lubis menjadi ajakan untuk meninggalkan kepalsuan terstruktur dan membangun rasionalitas serta tanggung jawab etis.
Mochtar Lubis tidak merancang catatannya untuk menyenangkan telinga siapa pun. Ketika Mochtar Lubis membedah karakter Manusia Indonesia pada tahun 1977, ia menatap lurus pada borok-borok kebudayaan yang kerap kita sembunyikan di balik bahasa yang santun.

Kritik tersebut juga menyentuh posisi seni dan tradisi. Bakat artistik serta keindahan budaya dapat kehilangan daya kritis apabila hanya dipakai untuk mempercantik realitas yang berantakan. Membaca ulang pemikiran Mochtar Lubis berarti menguji apakah institusi modern telah bekerja secara rasional atau hanya membungkus watak feodal lama dengan istilah yang tampak profesional.

Sumber: Instagram
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.