
China berhasil mempertahankan surplus perdagangan meskipun menghadapi tarif tinggi dari Presiden Trump melalui strategi diversifikasi pasar ekspor, penguatan konsumsi domestik, dan kebijakan fiskal proaktif. Pada 2025, surplus barang China tembus US$1 triliun pertama kalinya berkat ekspor manufaktur kuat ke negara berkembang, sambil antisipasi tekanan tarif AS di 2026 dengan stimulus terukur seperti pemangkasan suku bunga dan investasi infrastruktur.
Strategi Ketahanan
Beijing percepat relokasi pabrik ke pasar ASEAN dan Afrika untuk tarif rendah, dorong inovasi teknologi tinggi, serta perkuat permintaan internal via defisit anggaran lebih tinggi guna capai target GDP 5% pada 2026. Fokus manufaktur canggih dan zona perdagangan bebas baru jadi tameng geopolitik.
Proyeksi Dampak
Ekonomi China tunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan stabil di tengah gejolak global, meski sektor properti dan konsumsi rumah tangga masih jadi tantangan struktural.