
Data terbaru United Nations Population Division mengungkapkan ketimpangan besar dalam distribusi kelahiran global sepanjang 2025. Dari total sekitar 132 juta bayi yang lahir di seluruh dunia, sebanyak 91 persen atau lebih dari 121 juta kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Asia menjadi kontributor utama, didorong oleh populasi yang besar, struktur usia muda, serta tingkat fertilitas yang relatif lebih tinggi dibanding kawasan maju.
Berdasarkan estimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diolah Our World in Data, India menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah kelahiran terbanyak di dunia pada 2025. Sepanjang tahun, India diperkirakan mencatat 23,07 juta kelahiran, atau sekitar 17 persen dari total kelahiran global. Posisi ini mencerminkan tingginya fertilitas di kawasan Asia Selatan, yang juga beririsan dengan tren serupa di sejumlah negara Afrika.
China berada di peringkat kedua dengan estimasi 8,71 juta kelahiran, disusul Nigeria sebanyak 7,64 juta dan Pakistan dengan 6,91 juta kelahiran. Republik Demokratik Kongo menempati urutan kelima dengan 4,56 juta kelahiran. Indonesia berada di posisi keenam dunia dengan sekitar 4,44 juta kelahiran, mengungguli Ethiopia, Amerika Serikat, Bangladesh, dan Brasil.
Capaian Indonesia tersebut menunjukkan besarnya potensi bonus demografi yang masih dimiliki. Jumlah kelahiran yang relatif tinggi membuka peluang ketersediaan tenaga kerja produktif dalam jangka panjang. Namun, di sisi lain, tantangan struktural seperti urbanisasi cepat, meningkatnya biaya hidup, akses perumahan, serta perubahan preferensi generasi muda berpotensi menekan angka fertilitas di masa depan.
Para pengamat menilai, pemerintah perlu memanfaatkan momentum ini dengan memperkuat kebijakan kependudukan yang berimbang. Program keluarga berencana, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta investasi di sektor pendidikan dan lapangan kerja menjadi kunci agar tingginya angka kelahiran tidak berubah menjadi beban sosial, melainkan modal pembangunan jangka panjang.
Sumber data: United Nations Population Division, Our World in Data, dan laporan media nasional.