Aksi simbolik yang dilakukan sejumlah pendeta bersama jemaat gereja menjadi perhatian di media sosial. Mereka kompak mengangkat tiga jari atau *three-finger salute* saat mengikuti kegiatan peribadatan hari Minggu. Gerakan tersebut disebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja pemerintah sekaligus ungkapan keprihatinan atas berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.

Berdasarkan unggahan akun Instagram @nowdots, aksi tersebut awalnya berlangsung di sejumlah gereja yang tergabung dalam Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di ibu kota. Gerakan itu kemudian disebut meluas hingga ke sejumlah daerah dan melibatkan pendeta, jemaat, mahasiswa, serta elemen masyarakat sipil.

Aksi mengangkat tiga jari tersebut dikaitkan dengan gerakan bertajuk #IndonesiaSadar. Melalui simbol tersebut, para peserta menyampaikan pesan kritik dan kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan maupun persoalan yang dinilai belum mendapatkan penanganan secara maksimal oleh pemerintah.

Salah satu isu yang menjadi sorotan utama adalah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam narasi yang beredar, persoalan tersebut disebut menjadi salah satu alasan kuat munculnya gerakan tersebut hingga menyentuh lingkungan rumah ibadah.

Kebakaran hutan dan lahan memang menjadi persoalan serius karena dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, mengganggu aktivitas ekonomi, serta merusak habitat satwa. Penanganannya membutuhkan langkah pencegahan, pengawasan, dan penegakan hukum yang konsisten.

Keterlibatan para pendeta dan jemaat dalam aksi simbolik ini juga menjadi perhatian tersendiri. Rumah ibadah yang selama ini dikenal sebagai tempat kegiatan keagamaan turut menjadi ruang penyampaian pesan sosial mengenai persoalan lingkungan dan kondisi bangsa.

Dalam konteks tersebut, gerakan ini memperlihatkan bahwa sebagian kalangan rohaniwan tidak hanya menaruh perhatian pada persoalan keagamaan, tetapi juga ikut menyuarakan keprihatinan terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan kebijakan publik.
Aksi tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan di media sosial. Sebagian warganet memberikan dukungan dan menganggap langkah para pendeta serta jemaat sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi Indonesia. Sementara itu, ada pula yang memperdebatkan penggunaan simbol tiga jari sebagai bentuk kritik dalam kegiatan peribadatan.
Meski demikian, belum terdapat penjelasan terperinci mengenai jumlah gereja dan jemaat yang terlibat, maupun daftar tuntutan resmi yang disampaikan melalui gerakan tersebut. Informasi mengenai aksi ini masih merujuk pada unggahan media sosial yang beredar.
Terlepas dari beragam tanggapan yang muncul, gerakan #IndonesiaSadar menjadi sorotan karena memperlihatkan penyampaian aspirasi masyarakat melalui simbol yang dilakukan secara bersama-sama. Publik pun menantikan bagaimana pemerintah merespons berbagai kritik, khususnya terkait persoalan lingkungan dan penanganan kebakaran hutan serta lahan.