Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Sebelum Indonesia Punya Nama, Seorang Inggris Miskin Menjelajahi Kepulauan Nusantara Selama Delapan Tahun

Perjalanan Alfred Russel Wallace di Nusantara melahirkan catatan tentang alam, masyarakat, orangutan, serta gagasan penting mengenai evolusi dan garis biogeografi Wallace.

Sebelum Indonesia menjadi nama sebuah negara, Alfred Russel Wallace menghabiskan delapan tahun menjelajahi kepulauan yang kini dikenal sebagai Indonesia. Ia datang sebagai naturalis Inggris tanpa gelar bangsawan dan tanpa dukungan dana kerajaan, lalu menempuh perjalanan panjang dari Kalimantan hingga Maluku.

Tahun 1854, Alfred Russel Wallace tiba di Singapura tanpa gelar bangsawan, tanpa dana kerajaan. Ia cuma naturalis miskin yang hidup dari menjual kulit burung dan kupu-kupu ke museum Eropa. Modalnya satu: rasa penasaran yang tidak bisa dimatikan. Delapan tahun kemudian, ia sudah menempuh lebih dari 22.000 kilometer, naik perahu cadik, perahu dagang Bugis, kapal uap, apa saja. Tujuh puluh kali pindah tempat. Dari hutan Kalimantan sampai kampung pesisir Maluku, ia mencatat semuanya dengan tangan.

Wallace tiba di Singapura pada 1854. Selama ekspedisinya, ia menempuh lebih dari 22.000 kilometer, berpindah tempat sekitar 70 kali, serta menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk perahu cadik, perahu dagang Bugis, dan kapal uap. Pengamatan lapangan ia catat secara langsung dalam perjalanan.

Suatu malam di Ternate, Wallace terbaring demam malaria. Di antara sengatan panas tubuhnya, sebuah gagasan datang: makhluk hidup berubah karena alam menyeleksi siapa yang bertahan. Ia menuliskannya, lalu mengirim surat itu ke Charles Darwin. Bayangkan itu. Sebuah pemikiran yang mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri lahir bukan di universitas megah, melainkan di gubuk beratap sagu, di pulau kecil di timur Nusantara. Alam kitalah ruang kerjanya.

Di Ternate, ketika sedang terbaring demam malaria, Wallace merumuskan gagasan bahwa makhluk hidup berubah karena alam menyeleksi individu yang mampu bertahan. Ia kemudian menuliskan gagasan itu dan mengirimkannya kepada Charles Darwin, sebuah langkah yang ikut menghubungkan pengalaman lapangan di Nusantara dengan perdebatan besar tentang evolusi.

Di Kalimantan, Wallace menembak induk orangutan untuk dijadikan spesimen. Lalu ia menemukan bayinya masih hidup, menggigit lutut induknya dengan putus asa. Wallace memungut bayi itu, membesarkannya dengan susu kerbau lewat corong kecil, membacanya seperti membaca manusia. Ia mencatat hal yang mengganggu: bayi kera itu belajar memeluk, merajuk, dan takut persis seperti bayi manusia. Bab orangutan di buku ini masih jadi salah satu tulisan paling jujur dan mengharukan tentang batas tipis antara kita dan mereka.

Pengamatan Wallace juga memperlihatkan perbedaan tajam antara pulau-pulau yang secara geografis berdekatan. Bali dan Lombok hanya dipisahkan selat yang lebarnya kurang dari 40 kilometer, tetapi komposisi burung di kedua pulau itu berbeda. Perbedaan tersebut menjadi dasar bagi konsep garis Wallace, salah satu garis penting dalam biogeografi.

Bali dan Lombok cuma dipisahkan selat selebar tak sampai 40 kilometer. Tapi Wallace heran: burung-burung di dua pulau itu beda jauh. Bali penuh kicau burung Asia, Lombok sudah kembarakat ala Australia. Seolah ada tembok tak kasat mata di tengah laut. Dari keheranan itulah lahir garis Wallace, garis biogeografi yang sampai sekarang dipakai ilmuwan dunia. Dunia baru paham bahwa Indonesia bukan satu hamparan, melainkan dua dunia purba yang bertemu tepat di rumah kita.

Catatannya tidak terbatas pada flora dan fauna. Wallace menulis tentang orang Dayak, pedagang Melayu, masyarakat Papua, pesta, pasar, sawah, serta cara hidup masyarakat Nusantara yang berdampingan dengan hutan. Ia juga menggambarkan ketertarikannya pada kehidupan kepulauan yang ia nilai lebih sederhana dibandingkan gemerlap Eropa.

Buku ini bukan cuma soal binatang. Wallace menulis tentang orang Dayak yang mandiri dan penuh adab, pedagang Melayu yang cerdas, masyarakat Papua yang memikat hatinya. Ia menyaksikan pesta, pasar, sawah, dan cara orang Nusantara hidup berdampingan dengan hutan. Yang mengejutkan, ia justru jatuh cinta. Ia menulis bahwa kehidupan sederhana di kepulauan ini lebih bahagia dibanding gemerlap Eropa. Seorang asing, 170 tahun lalu, sudah melihat apa yang sering kita lupa hargai sendiri.

Salah satu bagian paling kuat dalam catatan itu adalah kisah orangutan di Kalimantan. Wallace menembak induk orangutan untuk dijadikan spesimen, kemudian merawat anaknya dengan susu kerbau melalui corong kecil. Ia mencatat perilaku bayi orangutan yang memeluk, merajuk, dan merasa takut—perilaku yang ia bandingkan dengan bayi manusia.

Buku Kepulauan Nusantara Abad 19 adalah cermin. Melalui mata seorang naturalis Inggris, kita melihat rumah sendiri saat masih liar dan utuh: orangutan di dahan, cendrawasih di Papua, kapal dagang di Selat Makassar, semuanya ditulis dengan detail yang membuat halaman-halamannya terasa hidup. Kalau kamu pernah ingin tahu seperti apa Indonesia sebelum zaman modern menyentuhnya, ini catatan perjalanan yang paling dekat dengan itu. Pelan-pelan saja, bacalah bab demi bab. Kenali lagi negerimu lewat mata orang yang rela tersesat delapan tahun demi memahaminya.

Catatan perjalanan tersebut kemudian dikenal melalui The Malay Archipelago, karya yang memadukan laporan ilmiah, pengamatan sosial, dan sastra perjalanan. Dalam edisi berbahasa Indonesia yang disebut dalam materi sumber, pengalaman Wallace ditempatkan sebagai cara untuk melihat kembali bentang alam, masyarakat, dan sejarah kepulauan Nusantara pada abad ke-19.

Sumber: Instagram
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.