
Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini menyatakan kesediaan untuk melanjutkan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat, merespons desakan Presiden Donald Trump.
Pada 2-3 Februari 2026, Pezeshkian memerintahkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memulai pembicaraan langsung, dengan syarat bebas ancaman dan fokus pada kepentingan nasional Iran, termasuk pencabutan sanksi AS. Langkah ini muncul setelah Trump memperingatkan “hal buruk” jika tak ada kesepakatan, di tengah insiden drone di Laut Arab.
Kerangka negosiasi disebut siap dalam hitungan hari via mediasi regional seperti Turki, Qatar, dan Oman; Iran setuju tak ada senjata nuklir sebagai basis kesepakatan adil. Meski Iran ancam mundur pasca-insiden drone, perundingan tetap dijadwalkan minggu ini untuk redakan ketegangan Teluk.