Migrasi besar dalam sejarah manusia sering kali bukan pilihan untuk mencari kehidupan baru, melainkan jalan keluar dari kelaparan, kekerasan, perang, kebijakan pemerintah, dan bencana lingkungan. Dalam sejumlah kasus, perjalanan menuju tempat aman justru menjadi bagian paling mematikan dari perpindahan tersebut.

Kelaparan Besar Irlandia pada 1845–1852 mendorong lebih dari 1 juta warga Irlandia meninggalkan negeri mereka. Banyak di antaranya menyeberangi laut dengan kapal yang kemudian dikenal sebagai “kapal peti mati”. Tingkat kematian di kapal-kapal itu disebut mencapai 30 persen, sementara pada beberapa kapal setengah penumpang meninggal akibat penyakit sebelum tiba di Amerika Utara.

Pengusiran juga menjadi penyebab migrasi paksa. Dalam Jejak Air Mata, pemerintah Amerika Serikat secara paksa memindahkan lebih dari 60.000 penduduk asli Amerika dari tanah leluhur mereka. Sekitar 15.000 orang meninggal akibat penyakit, kelaparan, dan paparan cuaca ekstrem selama perjalanan. Kebijakan itu disahkan pada masa Presiden Andrew Jackson.

Krisis lingkungan turut mengubah arah perpindahan penduduk. Sekitar 3,5 juta orang meninggalkan Great Plains setelah kekeringan parah dan praktik pertanian yang buruk mengubah lahan menjadi tandus. Banyak dari mereka kemudian ditolak di perbatasan California. Peristiwa itu disebut sebagai migrasi internal terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Pembagian India pada 1947 menghasilkan salah satu perpindahan penduduk terbesar yang tercatat. Ketika India Britania dibagi menjadi India dan Pakistan, sekitar 10–20 juta orang terpaksa berpindah dalam hitungan bulan. Kekerasan antarkomunitas menewaskan sekitar 200.000 hingga 2 juta orang.

Krisis pengungsi Suriah menunjukkan bahwa migrasi mematikan juga berlangsung pada masa modern. Sejak perang dimulai pada 2011, lebih dari 13 juta warga Suriah terpaksa meninggalkan rumah. Sekitar 6,8 juta orang masih mengungsi di luar negeri, menjadikan krisis tersebut salah satu krisis pengungsian terbesar di dunia.
Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa di balik perubahan batas negara dan perpindahan populasi terdapat pengalaman manusia yang konkret: kehilangan rumah, menempuh perjalanan berbahaya, dan berusaha bertahan hidup di tengah keadaan yang memaksa.
