Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Masa Depan Makanan: Daging Dicetak, Bukan Disembelih!

Produksi daging 3D, atau dikenal sebagai bioprinting daging berbudaya, melibatkan pengambilan sel punca hewan yang dikembangkan di laboratorium menjadi jaringan mirip daging asli tanpa penyembelihan. Teknologi ini menggabungkan kultur sel dan mencetak 3D untuk membentuk…

Produksi daging 3D, atau dikenal sebagai bioprinting daging berbudaya, melibatkan pengambilan sel punca hewan yang dikembangkan di laboratorium menjadi jaringan mirip daging asli tanpa penyembelihan. Teknologi ini menggabungkan kultur sel dan mencetak 3D untuk membentuk struktur otot, lemak, dan pembuluh darah. Proses ini bertujuan mengurangi dampak lingkungan peternakan konvensional.

​

​

Langkah Produksi

Proses dimulai dengan ekstraksi sel punca dari hewan hidup, seperti sel satelit untuk otot dan sel adipose untuk lemak. Sel-sel ini dikultur di bioreaktor dengan nutrisi hingga berkembang menjadi sel massa (biomassa). Selanjutnya dicampur dengan kolagen atau hidrogel sebagai bio-ink, lalu dicetak 3D lapis demi lapis untuk bentuk daging, seperti wagyu sintetis dari Universitas Osaka.

​

​

Contoh Inovasi

  • Jepang (Osaka University) : Mencetak daging wagyu dengan sel pipi sapi, menjahit lapisan otot-lemak melalui printer 3D.
  • Israel (Aleph Farms/Technion) : Bioprinting steak ribeye dari sel sapi, mirip daging asli dalam bentuk dan warna.​
  • Umum yang dikembangkan di laboratorium : Bioreaktor 1200L untuk skala besar, kombinasikan sel hewan dengan bahan nabati.​

 

Tantangan

Teknologi ini mahal karena nutrisi kultur sel dan presisi printer, serta perlu waktu matang beberapa minggu. Kontaminasi bakteri minimal tapi regulasi dan rasa masih ditingkatkan. Di Indonesia, daging hasil budidaya mulai dibahas tetapi belum diproduksi secara massal.

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.