
Fenomena kota-kota mati di China mencerminkan pembangunan perkotaan berlebihan yang megah namun sepi penduduk, sering disebut “ghost cities”. Kota-kota ini dibangun sebagai bagian dari rencana urbanisasi masif untuk memindahkan ratusan juta warga pedesaan ke kota hingga 2026, tapi banyak yang kosong karena harga properti tinggi dan lokasi terpencil.
Ordos Kangbashi di Mongolia Dalam memiliki stadion megah, museum opera, dan gedung pencakar langit di tengah gurun, tapi penduduknya minim sejak 2009 akibat gelembung properti. Tianducheng dekat Shanghai meniru Paris dengan Menara Eiffel mini dan Champs-Élysées, direncanakan untuk 10.000 jiwa tapi hanya dihuni ribuan sementara.
Pembangunan didorong ambisi pejabat lokal untuk naikkan PDB melalui properti, tanpa permintaan organik, menghasilkan infrastruktur lengkap tapi tak berpenghuni. Banyak proyek gagal jadi destinasi wisata atau hunian karena akses buruk dan biaya tinggi.