Kecepatan sering diperlakukan sebagai ukuran keunggulan. Orang didorong untuk segera merespons, segera mengambil keputusan, dan segera membalas ketika menghadapi provokasi. Dalam kerangka pemikiran Sun Tzu, dorongan untuk selalu bereaksi justru dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

The Art of War, yang ditulis lebih dari 2.500 tahun lalu, tidak hanya berbicara tentang peperangan. Gagasan Sun Tzu juga dikaitkan dengan kemampuan membaca keadaan, mengendalikan ego, memilih momentum, serta menghadapi ketidakpastian dengan kepala dingin.

Salah satu pokok pemikiran yang ditonjolkan adalah bahwa perjuangan tidak selalu datang dari musuh di luar diri. Emosi, ego, kegelisahan, dan dorongan untuk membalas dapat menjadi lawan yang lebih dekat. Seseorang yang gagal mengendalikan dirinya disebut berisiko kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Dalam pandangan ini, mundur tidak otomatis berarti kalah. Sejarah Tiongkok dan ajaran Sun Tzu dipakai untuk menekankan pentingnya mengetahui kapan harus melangkah dan kapan menahan diri. Seperti air yang mengubah batu melalui ketekunan, kemenangan digambarkan lahir dari kejernihan dan konsistensi, bukan semata-mata dari reaksi yang paling cepat.

Gagasan tersebut menjadi inti buku The Power of Sun Tzu karya Li Wenhao. Buku setebal 180 halaman itu menghubungkan warisan strategi Sun Tzu dengan kepemimpinan, negosiasi, reputasi, pengambilan keputusan, serta cara menghadapi persaingan dan perubahan.
