Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Grey Divorce: Tren Global, Kini Menguat di Indonesia

Fenomena “perceraian abu-abu” adalah perceraian pada pasangan usia 50 tahun ke atas yang biasanya sudah menikah puluhan tahun, dan tren ini tercatat meningkat di berbagai negara termasuk Indonesia. Dampaknya bukan hanya pada pasangan, tapi…

Fenomena “perceraian abu-abu” adalah perceraian pada pasangan usia 50 tahun ke atas yang biasanya sudah menikah puluhan tahun, dan tren ini tercatat meningkat di berbagai negara termasuk Indonesia. Dampaknya bukan hanya pada pasangan, tapi juga pada anak yang sudah dewasa, kondisi finansial, dan dinamika keluarga besar.​

 

Apa itu grey divorce?

  • Istilah perceraian abu-abu Merujuk pada perceraian pasangan di usia sekitar 50 tahun ke atas, sering kali setelah 20–40 tahun pernikahan; disebut “abu-abu” karena identik dengan rambut yang sudah beruban.​
  • Fenomena ini dikenal juga dengan sebutan perpisahan perak, perceraian senja, atau perceraian berlian, dan di Jepang disebut jukunen rikon, di Korea dikenal sebagai hwanghon ihon.​

 

Tren di dunia dan Indonesia

  • Di Amerika Serikat, angka perceraian abu-abu meningkat sekitar dua kali lipat antara tahun 1990–2010, sementara perceraian usia muda cenderung menurun.​
  • Di Indonesia, perceraian memang masih mendominasi usia muda, namun data Kemenag 2020–2024 menunjukkan angka tertinggi justru laki-laki usia 52+ (sekitar 202.333 kasus), dan perceraian usia 50+ mulai terlihat signifikan.​

 

Penyebab umum perceraian abu-abu

  • Konflik lama yang terjadi puluhan tahun, yang “meledak” saat anak sudah mandiri (sarang kosong), masa pensiun, atau terjadi perubahan kesehatan dan pola hidup.​
  • Pasangan merasa “tumbuh ke arah berbeda”, kebutuhan emosional tidak terpenuhi, serta perubahan nilai, spiritualitas, dan makna pernikahan yang kini lebih menekankan kualitas hubungan dan kesetaraan​
  • Turunnya stigma perceraian dan meningkatnya kemandirian finansial perempuan membuat keputusan berpisah di usia lanjut secara sosial dan ekonomi lebih mungkin diambil.

 

Dampak bagi pasangan dan anak

  • Bagi pasangan lanjut usia, perceraian dapat mempengaruhi identitas diri, rasa aman, kesehatan mental, dan kualitas hidup di usia tua, terutama jika tidak siap secara mental dan finansial.​
  • Bagi anak yang sudah dewasa, perceraian abu-abu bisa mengubah hubungan dengan orang tua, saudara kandung, tradisi hari raya, dan mengamati cara mereka memandang komitmen serta hubungan romantis mereka sendiri

 

Dampak bagi keluarga besar dan langkah mitigasi

  • Perceraian abu-abu dapat memicu polarisasi di keluarga besar (memihak salah satu orang tua), merusak jaringan dukungan, dan memicu konflik baru mengenai warisan, perawatan lansia, hingga pengasuhan cucu.​
  • Pendekatan konseling keluarga, pendidikan pra-pensiun, perencanaan finansial, dan ruang dialog terbuka (life review) dianjurkan agar keputusan bertahan atau berpisah di usia lanjut lebih sadar risiko dan tetap meminimalkan luka bagi semua anggota keluarga.
Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.