Pada 8 Februari 1686, Kapten Francois Tack tewas di alun-alun Kartasura dengan dua puluh luka di tubuhnya. Ia datang ke pusat kekuasaan Mataram ketika perayaan Garebeg Mulud berlangsung, membawa tuntutan lama kepada Amangkurat II agar menyerahkan Untung Surapati kepada VOC.



Kematian Tack memunculkan persoalan besar: mengapa seorang penguasa yang selama ini disebut sebagai sekutu penting Kompeni membiarkan tokoh yang dicari VOC bergerak begitu leluasa? Jawabannya berkaitan dengan posisi Amangkurat II yang harus menjaga hubungan dengan VOC sekaligus mempertahankan kekuasaannya di Jawa.


Menurut narasi yang dihimpun dalam kajian H.J. de Graaf, Amangkurat II memberikan jawaban yang tidak tegas. Surapati disebut bebas ditangkap di luar wilayah kekuasaan raja—sebuah pernyataan yang dapat dibaca sebagai izin, tetapi juga membuka ruang bagi penyergapan tanpa keterlibatan langsung keraton.

Serangan itu berlangsung di alun-alun Kartasura. Pasukan Surapati menyamar sebagai orang Bali dan menyerbu Tack bersama pasukan yang jumlahnya tinggal sedikit. Hujan turun deras ketika pertempuran terjadi. Tack akhirnya tewas, 74 serdadu VOC lainnya turut gugur, sedangkan pasukan yang tersisa mundur menuju garnisun VOC terdekat.
Sesudahnya, Amangkurat II mengirim surat kepada VOC di Batavia dan menyatakan tidak terlibat dalam kematian Tack. Pada saat yang sama, Untung Surapati dianugerahi gelar adipati di Pasuruan. Pemberian gelar itu dapat dipahami sebagai cara menempatkan Surapati jauh dari pusat kerajaan sekaligus meredakan kecurigaan VOC.
Peristiwa tersebut tidak berakhir dengan suasana berkabung di Kartasura. Surapati berpawai mengelilingi alun-alun, sementara suara gending kemenangan terdengar dari dalam keraton hingga larut malam. Seorang pegawai VOC yang menyaksikannya mencatat keadaan itu dengan nada tidak percaya.
H.J. de Graaf menyebut pembunuhan Tack sebagai salah satu peristiwa yang paling mencolok dalam sejarah VOC, tetapi juga menyoroti minimnya perhatian terhadap kejadian tersebut. Bahkan, tempat kematian Tack disebut tidak pernah ditandai dengan monumen sederhana. Kajian itu kemudian diterjemahkan Dick Hartoko dengan pengantar M.C. Ricklefs dalam buku Terbunuhnya Kapten Tack: Kemelut di Kartasura Abad XVII.
