Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Curi Perhatian Netizen Usai Sindir ‘Cari Muka’ di Depan Presiden Prabowo, Siapakah Sosok Kyai Hasan Gontor?

KH Hasan Abdullah Sahal menjadi perhatian setelah menyampaikan kritik sosial tentang fenomena “cari muka”, “cari ijazah”, dan “cari jabatan” dalam pidatonya di depan Presiden Prabowo Subianto.

KH Hasan Abdullah Sahal menjadi perhatian setelah menyampaikan pidato yang menyinggung fenomena “cari muka”, “cari ijazah”, dan “cari jabatan” di depan Presiden Prabowo Subianto. Kritik itu disampaikan dengan gaya retorika yang memadukan humor dan sindiran sosial.

Retorika Kyai Hasan kembali menjadi sorotan ketika ia menyampaikan pidato bernuansa humor dan kritik sosial tentang “cari muka”, “cari ijazah”, serta “cari jabatan” di hadapan Presiden Prabowo Subianto. KH Hasan Abdullah Sahal lahir di desa Gontor pada 24 Mei 1947 dan merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pidato tersebut juga menegaskan prinsip yang melekat pada kepemimpinan Hasan di Pondok Modern Darussalam Gontor, yakni sikap independen dan tidak terlibat dalam politik praktis. Prinsip itu disebut telah menjadi landasan kepemimpinannya sejak ia dididik sejak kecil.

Hasan lahir di Gontor pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

KH Hasan Abdullah Sahal disebut sebagai pimpinan utama Pondok Modern Darussalam Gontor yang dikenal karena integritas dan karismanya. Kemampuannya dalam balaghah dan sastra Arab membuat pidatonya menarik perhatian, termasuk ketika menyampaikan kritik sosial di depan Presiden Prabowo. Sejak kecil, ia dididik dengan prinsip independen dan bebas dari politik praktis.

Saat ini, Hasan disebut sebagai pimpinan utama Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia dikenal memiliki kemampuan dalam balaghah dan sastra Arab, yang mendukung gaya pidatonya ketika menyampaikan kritik sosial secara halus, tetapi tetap tajam.

KH Hasan menempuh studi di Gontor, Madinah, dan Al-Azhar. Pengalaman internasional itu disebut memperkaya kemampuan bahasa dan retorikanya untuk menyampaikan kritik sosial secara halus, tetapi tajam. Sejak 1985, ia memimpin Gontor dengan prinsip kokoh dan mendorong santri menunjukkan kesederhanaan. Gaya kritiknya menggunakan metafora dan sindiran halus.

Pendidikan Hasan ditempuh di Gontor, Madinah, dan Al-Azhar. Pengalaman tersebut disebut memperkaya kemampuan bahasa dan retorikanya. Sejak 1985, ia memimpin Gontor dengan prinsip yang kokoh serta mendorong para santri untuk menunjukkan kesederhanaan.

Gaya kritik Hasan banyak menggunakan metafora dan sindiran. Dalam pidatonya di hadapan Presiden Prabowo, pendekatan itu kembali digunakan untuk menyoroti perilaku mencari pengakuan, ijazah, atau jabatan.

Sumber: Instagram
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.