KH Hasan Abdullah Sahal menjadi perhatian setelah menyampaikan pidato yang menyinggung fenomena “cari muka”, “cari ijazah”, dan “cari jabatan” di depan Presiden Prabowo Subianto. Kritik itu disampaikan dengan gaya retorika yang memadukan humor dan sindiran sosial.

Pidato tersebut juga menegaskan prinsip yang melekat pada kepemimpinan Hasan di Pondok Modern Darussalam Gontor, yakni sikap independen dan tidak terlibat dalam politik praktis. Prinsip itu disebut telah menjadi landasan kepemimpinannya sejak ia dididik sejak kecil.
Hasan lahir di Gontor pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

Saat ini, Hasan disebut sebagai pimpinan utama Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia dikenal memiliki kemampuan dalam balaghah dan sastra Arab, yang mendukung gaya pidatonya ketika menyampaikan kritik sosial secara halus, tetapi tetap tajam.

Pendidikan Hasan ditempuh di Gontor, Madinah, dan Al-Azhar. Pengalaman tersebut disebut memperkaya kemampuan bahasa dan retorikanya. Sejak 1985, ia memimpin Gontor dengan prinsip yang kokoh serta mendorong para santri untuk menunjukkan kesederhanaan.
Gaya kritik Hasan banyak menggunakan metafora dan sindiran. Dalam pidatonya di hadapan Presiden Prabowo, pendekatan itu kembali digunakan untuk menyoroti perilaku mencari pengakuan, ijazah, atau jabatan.
