
Memoar Aurélie Moeremans “Broken Strings” mengisahkan pengalaman pribadinya sebagai korban child grooming sejak usia 15 tahun, di mana ia dimanipulasi oleh pria dewasa melalui perhatian berlebih yang berubah menjadi kontrol emosional ketat. Buku ini, dirilis digital pada Oktober 2025 dengan versi Indonesia pada Januari 2026, menjadi viral karena membuka diskusi tentang bahaya grooming yang sering disamarkan sebagai cinta di Indonesia.
Aurélie bertemu “Bobby” (nama samaran), yang awalnya tampak peduli tapi kemudian mengisolasi, memanipulasi, dan menekan secara psikologis.
Kisah menyoroti bagaimana grooming memanfaatkan kerentanan remaja, menyebabkan trauma jangka panjang seperti keraguan diri dan isolasi sosial.
Ia menekankan pemulihan melalui kesadaran diri dan self-healing, bukan sekadar curahan emosi.
Proses grooming melibatkan tahap membangun kepercayaan, isolasi korban dari dukungan sosial, hingga eksploitasi emosional atau fisik, sering tak terdeteksi karena tampak seperti “perhatian sayang”. Di Indonesia, kasus ini marak tapi jarang dibahas terbuka, memperparah trauma korban anak yang merasa bersalah sendirian. Aurélie menyerukan sistem perlindungan yang pro-korban, seperti konseling gratis dan pelaporan mudah, agar anak tak berjuang tanpa pendampingan.