
Amerika Serikat mulai menjual minyak Venezuela untuk pertama kalinya sejak intervensi militer, dengan transaksi perdana mencapai US$500 juta atau sekitar Rp8,45 triliun. Penjualan ini bagian dari kesepakatan energi luas pasca-penangkapan Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, di mana AS kelola sementara cadangan minyak terbesar dunia tersebut.
Latar Penjualan
Pendapatan disimpan di rekening terkendali AS, termasuk di Qatar untuk pengawasan internasional, dengan rencana ekspor 30-50 juta barel melibatkan perusahaan minyak AS demi pulihkan infrastruktur rusak. Presiden Trump targetkan kontribusi US$100 miliar untuk rekonstruksi energi Venezuela.
Respons Industri
Eksekutif seperti CEO ExxonMobil ragukan kelayakan investasi meski Gedung Putih dorong diskusi positif; harga jual 30% lebih tinggi dari era Maduro.