Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

Akibat Banjir dan Macet Seorang Sopir Pengantar Es Mengalami Pemotongan Gaji Karena Muatan Mencair

Jakarta — Banjir yang kembali melanda Jakarta tak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga berdampak langsung pada penghidupan pekerja informal. Aris, sopir pengantar es batu, mengalami pemotongan gaji setelah muatannya mencair akibat terjebak…

Jakarta — Banjir yang kembali melanda Jakarta tak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga berdampak langsung pada penghidupan pekerja informal. Aris, sopir pengantar es batu, mengalami pemotongan gaji setelah muatannya mencair akibat terjebak macet banjir di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada Senin (12/1/2026).

Peristiwa tersebut terjadi ketika hujan deras merendam sejumlah ruas jalan utama. Aris terpaksa berhenti hampir satu jam di tengah kemacetan parah sambil menunggu air surut. Kondisi truk pengangkut yang tidak dilengkapi pendingin membuat es batu yang dibawanya perlahan mencair. Sekitar 20 kilogram es rusak dan dinyatakan tidak layak jual.

Kerusakan muatan itu berujung pada pemotongan upah. Perusahaan tempat Aris bekerja menetapkan harga Rp17.000 untuk setiap kantong es yang rusak, sehingga kerugian langsung dibebankan pada sopir. Bagi pekerja dengan penghasilan harian dan tanpa jaring pengaman, potongan tersebut menjadi beban berat.

Dalam situasi tersebut, Aris tidak memiliki banyak pilihan. Memutar arah justru berisiko memperpanjang waktu tempuh dan memperparah kerusakan muatan. Satu-satunya opsi yang tersedia hanyalah menunggu banjir surut, meski konsekuensinya adalah kehilangan sebagian pendapatan.

Insiden ini mencerminkan dampak berulang banjir perkotaan terhadap pekerja informal yang bergantung pada ketepatan waktu distribusi. Di tengah meningkatnya cuaca ekstrem, risiko ekonomi kerap ditanggung sendiri oleh pekerja kecil, sementara perlindungan dan kebijakan mitigasi banjir belum sepenuhnya menjangkau mereka.

 

Pole Vox

Penulis

Pole Vox

Penulis di Pewarta Nusantara.