Selasa, 3 November 2026
Masuk
Berita

10 Menit Dunia Hampir Meledak: Roket Cuaca Disangka Rudal Nuklir

Insiden “roket cuaca Norwegia” adalah kejadian pada 25 Januari 1995 ketika sebuah roket penelitian hampir saja disalahartikan Rusia sebagai serangan nuklir Amerika Serikat, sehingga prosedur perang nuklir sempat diaktifkan. Tim ilmuwan Norwegia–AS meluncurkan roket…

Insiden “roket cuaca Norwegia” adalah kejadian pada 25 Januari 1995 ketika sebuah roket penelitian hampir saja disalahartikan Rusia sebagai serangan nuklir Amerika Serikat, sehingga prosedur perang nuklir sempat diaktifkan.

Tim ilmuwan Norwegia–AS meluncurkan roket penelitian Black Brant XII dari Andøya, Norwegia, untuk mempelajari aurora borealis (Cahaya Utara) di atas Svalbard. Trajekori dan profil terbang roket ini (ketinggian tinggi, kecepatan, arah) pada radar sangat mirip dengan rudal balistik Trident yang bisa membawa hulu ledak nuklir dari kapal selam AS ke Rusia.

Radar peringatan dini Rusia di Olenegorsk, Semenanjung Kola, mendeteksi peluncuran dan menafsirkan objek itu sebagai rudal yang berpotensi menjadi serangan nuklir ketinggian tinggi untuk membutakan radar (EMP) sebelum serangan penuh. Trajektori awal roket melewati koridor udara yang juga akan dilalui rudal dari silo Minuteman III di North Dakota menuju Moskow, sehingga menambah kecurigaan bahwa ini “bukaan” serangan nuklir mendadak.

Laporan darurat naik cepat melalui rantai komando hingga ke Presiden Rusia Boris Yeltsin; koper nuklir (Cheget) diaktifkan untuk pertama kalinya dalam sejarah pasca‑Uni Soviet. Yeltsin dan pimpinan militer diberi jendela waktu sekitar 10 menit (perkiraan waktu tempuh rudal dari kapal selam di Laut Barents ke daratan Rusia) untuk memutuskan apakah akan meluncurkan serangan balasan.

Dalam beberapa menit analisis lanjutan, militer Rusia menyimpulkan bahwa titik jatuh roket berada di luar wilayah Rusia dan lintasannya menjauh dari Rusia, bukan menuju sasaran di daratan. Keadaan siaga tempur nuklir kemudian diturunkan, tidak ada rudal yang diluncurkan, dan roket Black Brant XII jatuh di dekat Spitsbergen sesuai rencana misi ilmiah.

Norwegia sebenarnya sudah mengirim pemberitahuan resmi tentang rencana peluncuran ke sekitar 30–35 negara, termasuk Rusia, beberapa hari sebelumnya. Pemberitahuan itu memang diterima di tingkat kementerian Rusia, tetapi informasi tersebut tidak diteruskan dengan baik ke operator yang bertugas di pusat peringatan dini, sehingga di lapangan peluncuran tetap dianggap sebagai ancaman tak terduga.

Insiden ini sering dikutip sebagai contoh betapa dekatnya dunia dengan kemungkinan salah perhitungan nuklir, bukan karena niat perang, tetapi karena kombinasi kesalahan teknis, miskomunikasi, dan tekanan waktu pengambilan keputusan. Hingga kini, peristiwa tersebut dikenal sebagai satu‑satunya kasus di mana pemimpin Rusia mengaktifkan koper nuklir dalam situasi nyata, dan menjadi argumen kuat bagi pentingnya transparansi peluncuran roket serta reformasi sistem peringatan dini di era nuklir.

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.