USS Abraham Lincoln

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menelepon Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pada 27 Januari 2026, tepat setelah kapal induk AS USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah.
Pezeshkian mengkritik kehadiran militer AS sebagai “ancaman” yang mengganggu stabilitas kawasan, termasuk tekanan ekonomi dan intervensi eksternal terhadap Iran. Ia juga memaparkan perkembangan domestik Iran, seperti isu nuklir dan demo akibat krisis ekonomi yang menewaskan 3.000 orang.
MBS menegaskan komitmen Saudi untuk menghormati pelestarian Iran, tolak wilayahnya dipakai untuk serangan apa pun terhadap Teheran, dan mendorong dialog untuk keamanan regional. Pezeshkian puji sikap ini sebagai solidaritas negara Islam.

Iran baru-baru ini memasang billboard besar di pusat kota Teheran sebagai peringatan tegas kepada Amerika Serikat (AS).
Billboard tersebut berada di Alun-alun Enghelab dan menampilkan gambar kapal induk AS yang hancur, dengan pesawat tempur rusak terbakar di deknya, mayat, serta darah mengalir membentuk pola seperti bendera AS. Slogan yang menyertainya berbunyi "If you sow the wind, you will reap the whirlwind" atau dalam bahasa Persia setara dengan "Jika kamu menabur angin, kamu akan menuai badai".
Pemasangan dilakukan pada 25 Januari 2026, tepat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln dan armada perang ke Timur Tengah sebagai langkah antisipasi militer. Komandan Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa pasukannya lebih siap dari sebelumnya, di tengah protes domestik yang menewaskan ribuan orang.
Ini merupakan propaganda visual khas Iran untuk menunjukkan kesiapan balasan jika diserang, mirip mural sebelumnya terkait konflik dengan Israel. Ketegangan meningkat akibat penindakan terhadap demonstran anti-pemerintah sejak akhir Desember 2025.

Kapal induk USS Abraham Lincoln sedang menuju Timur Tengah dan diprediksi tiba dalam beberapa jam hingga hari ini, 25 Januari 2026, sebagai bagian dari pengerahan pasukan AS yang mencapai level tertinggi. Kapal ini melintas Selat Malaka baru-baru ini, didampingi tiga kapal perusak, untuk memperkuat kehadiran di Laut Arab menghadapi ketegangan AS-Iran.
Pindah dari Laut China Selatan, USS Abraham Lincoln membawa skuadron jet tempur F-35C, F/A-18, dan EA-18G, plus ribuan pelaut, di bawah perintah Presiden Donald Trump untuk situasi darurat Iran. Laksamana Brad Cooper bertemu pejabat Israel membahas strategi, sementara Iran ancam balas jika diserang.
Pengerahan ini sinyal kesiapsiagaan tinggi AS di Indo-Pasifik dan Timur Tengah, mirip respons sebelumnya terhadap ancaman nuklir Iran. Presiden Trump konfirmasi "jumlah besar kapal" sedang bergerak untuk pantau situasi.

Kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln milik AS sedang beroperasi di Laut China Selatan, perairan dekat wilayah Indonesia, sebagai bagian dari patroli rutin Armada ke-7 pada awal Januari 2026. Langkah ini di bawah Arahan pemerintahan Trump menanggapi aktivitas militer China yang meningkat di kawasan tersebut.
Detail Operasi
Kapal induk ini membawa jet tempur siluman F-35C dan kapal perusak pendamping, melakukan operasi penerbangan untuk menunjukkan kehadiran militer AS guna mencegah agresi dan mendukung kebohongan regional. Sebelumnya berlayar dari Timur Tengah melalui Filipina dan Malaysia, kini berada di perairan internasional dekat Natuna, tanpa masuk ZEE Indonesia.
Konteks Geopolitik
Pengerahan ini merupakan sinyal kuat Trump ke Tiongkok atas klaim “sembilan garis putus-putus”, sejalan dengan strategi Indo-Pasifik untuk perdamaian melalui kekuatan. Indonesia pantau ketat via TNI AL, tapi belum ada respon resmi terkait ancaman langsung. Media lokal ramai soroti sebagai "manuver Trump" di depan RI.