Teheran

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI secara resmi menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk terbang ke Teheran guna memediasi konflik antara AS, Israel, dan Iran, tepat setelah eskalasi serangan pada 28 Februari 2026. Pernyataan ini dirilis melalui akun X Kemlu pada Sabtu malam, menyesalkan kegagalan perundingan sebelumnya yang memicu kematian Khamenei dan penutupan Selat Hormuz. Prabowo menekankan diplomasi sebagai prioritas untuk mencegah perburukan situasi Timur Tengah.
Penawaran ini muncul sebagai respons langsung atas serangan gabungan AS-Israel ke Teheran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu balasan rudal Iran ke target AS-Israel di Teluk. Kemlu menyerukan semua pihak menahan diri, menghormati kedaulatan negara, dan mengedepankan dialog damai, dengan Indonesia siap fasilitasi pertemuan jika disetujui kedua belah pihak. Langkah ini sejalan dengan tradisi Indonesia sebagai negara non-blok yang aktif dalam diplomasi konflik global, seperti mediasi sebelumnya di kawasan.
Kunjungan Prabowo ke Teheran bergantung pada persetujuan AS, Israel, dan Iran; hingga 1 Maret 2026 malam, belum ada konfirmasi penerimaan dari pihak-pihak terkait. Jusuf Kalla menyatakan kekhawatiran atas posisi lemah Indonesia di hadapan AS, tapi Prabowo tetap maju melalui saluran resmi Kemlu. Iran telah menutup wilayah udaranya, menyulitkan perjalanan, sementara WNI di Iran diimbau tetap tenang dan hubungi kedutaan.
Sebagai negara Muslim terbesar dan anggota G20, Indonesia berpotensi berperan penting meredam eskalasi yang mengancam pasokan minyak dunia via Selat Hormuz. Sukses mediasi bisa tingkatkan pengaruh geopolitik Prabowo, tapi kegagalan berisiko isolasi diplomatik jika konflik membesar melibatkan Rusia-China. Pernyataan ini juga mencerminkan komitmen Prabowo pasca-pilpres 2024 untuk diplomasi aktif, termasuk kunjungan kenegaraan ke Iran yang direncanakan sebelumnya.

Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026, dengan ledakan besar yang mengguncang Teheran dan kota-kota lain. Serangan ini dikoordinasikan sebagai respons atas kekhawatiran program nuklir dan rudal Iran, di tengah ketegangan negosiasi yang gagal.
Operasi ini diberi kode Roaring Lion oleh Israel dan Operation Epic Fury oleh AS, menargetkan Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, serta Kermanshah. Kesan terdengar di pusat Teheran dekat kompleks Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, termasuk istana presiden dan Dewan Keamanan Nasional, dengan satelit menunjukkan kerusakan parah pada fasilitas tersebut. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebutnya sebagai serangan pre-emptive untuk menghilangkan ancaman, sementara Presiden AS Donald Trump menyetujui partisipasi AS melalui puluhan serangan udara dari kapal induk dan pangkalan di Timur Tengah. Serangan dimulai pada pagi hari waktu setempat, memicu kepanikan dengan sirene darurat di Israel dan penutupan ruang udara regional seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, serta UEA. Internet di Iran anjlok hingga 4% dari level normal, dan komunikasi terganggu di Teheran.
Iran membalas dengan meluncurkan puluhan rudal balistik ke Israel, Yordania, Suriah, Kuwait, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan UEA, termasuk basis militer AS seperti Al Udeid di Qatar dan Armada Kelima di Bahrain. Korban awal termasuk 2 anggota Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak tewas, 1 warga sipil UEA tewas karena puing, serta 4 warga Suriah akibat puing rudal Iran. Iran menyebut serangan AS-Israel sebagai "operasi udara brutal" saat negosiasi nuklir, dan Dewan Keamanan Tertinggi Nasionalnya menjanjikan balasan.
Beberapa warga Iran dan oposisi justru menyukai serangan, dengan video menunjukkan perayaan di Teheran sambil menghormati "Mati untuk Khamenei", di tengah protes anti-pemerintah sejak Desember 2025 yang menewaskan ribuan orang.
Trump menyatakan tujuan utamanya adalah menghancurkan kemampuan rudal dan militer Iran, mencegah senjata nuklir, serta menggulingkan rezim, sementara ajak anggota Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menyerah untuk imunitas atau menghadapi "kematian pasti". Ia juga memanggil rakyat Iran mengambil alih pemerintahan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut ini untuk menghilangkan "ancaman eksistensial" dari rezim teror Iran yang telah 47 tahun ancam "Mati untuk Israel dan Amerika".
Serangan terjadi sehari setelah Oman mengklaim "terobosan" negosiasi nuklir di mana Iran setuju tak mengumpulkan uranium dan verifikasi IAEA, tapi Trump mengecewakan atas putaran ketiga di Jenewa.
Israel umumkan keadaan darurat nasional, tutup sekolah, tempat kerja, dan batas pencapaian. Korban IRGC ribuan termasuk pejabat senior, dengan dasar militer hancur; satu sekolah dasar di Minab membunuh 51 gadis. Oposisi Iran seperti Reza Pahlavi menyebut ini intervensi kemanusiaan dan menyiapkan protes baru. Reaksi internasional campur: Albania dan Australia mendukung AS-Israel, sementara Oman, Spanyol, dan Lebanon kecam eskalasi.
Situasi masih dinamis dengan potensi eskalasi luas di Timur Tengah, di mana AS kerahkan dua kelompok kapal induk sejak Januari.

Ribuan warga pendukung pemerintah Iran menggelar demonstrasi besar-besaran di Teheran pada Senin, 12 Januari 2026, memenuhi jalanan ibu kota hingga Lapangan Enqelab. Aksi ini mengecam dugaan intervensi Amerika Serikat dan Israel dalam memicu protes anti-pemerintah yang telah berlangsung dua pekan.
Tujuan Demonstrasi
Pendukung rezim berkumpul untuk menentang "perusuh bersenjata" yang dituding didalangi pihak luar, sambil mengibarkan bendera nasional dan meneriakkan slogan anti-AS serta anti-Israel. Ini menjadi respons terhadap gelombang protes awal yang dipicu krisis ekonomi, depresiasi rial, dan naiknya harga bensin.
Konteks Ketegangan
Protes anti-pemerintah sejak akhir Desember 2025 telah tewaskan hingga 646 orang menurut HRANA, dengan lebih dari 10.000 ditangkap dan pemadaman internet 100 jam. Presiden AS Donald Trump pantau situasi dan pertimbangkan opsi kuat, sementara Iran tuduh AS-Israel biayai kekacauan.
Lautan Cahaya Ponsel di Teheran, Simbol Perlawanan Anti-Pemerintah
Di Teheran, demonstrasi menyalakan lampu ponsel secara serempak selama protes anti-pemerintah awal Januari 2026, menciptakan Lautan Cahaya dramatis di jalan gelap. Taktik pemerintah memutus listrik justru perkuat simbol perlawanan solid saat massa teriak slogan dari distrik Punak dan Teheran.
Konteks Protes
Demonstrasi memicu krisis ekonomi akibat inflasi tinggi, sanksi global, dan anjloknya rial Iran, meluas ke 250+ lokasi di 27 provinsi sejak 28 Desember 2025. Korban membunuh mencapai 42 jiwa, 2.270 ditahan, dengan pemerintah memutuskan internet/telepon nasional untuk redam aksi.
Tanggung Jawab Pemerintah
Ayatollah Ali Khamenei tuduh demonstran agen Trump, sementara Presiden Pezeshkian larang lunak; visual lampu ponsel viral simbol Solidaritas Rakyat. Protes tetap bergolak hingga 11 Januari 2026 meski akses komunikasi lumpuh.
Video : X/ePopularFront_