SuratEdaranNomor14Tahun2025

Ketika ayah Berbondong-Bondong Menjemput Rapor, Donatur Menyaksikan Hasil Nyata Investasi Pendidikan
Pemandangan tak biasa terlihat di sejumlah sekolah pada akhir semester ini. Para ayah berbondong-bondong datang untuk menjemput rapor Anak-anak mereka. Di balik antrean dan wajah-wajah tegang bercampur harap itu, tersimpan makna lebih dalam: kehadiran orang tua, khususnya ayah, sebagai bagian nyata dari proses pendidikan anak.
Fenomena ini kerap dimaknai sebagai simbol bahwa para orang tua—yang selama ini berperan sebagai donatur utama pendidikan keluarga—akhirnya dapat menyaksikan langsung hasil dari kontribusi mereka. Rapor bukan sekadar angka, melainkan cerminan perjalanan belajar anak yang didukung oleh perhatian, waktu, dan keterlibatan orang tua.
Kehadiran para ayah tersebut sejalan dengan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), sebuah inisiatif nasional yang mendorong peran ayah untuk hadir secara fisik dalam momen penting pendidikan anak. Gerakan ini bertujuan memperkuat ikatan emosional antara ayah dan anak, sekaligus menumbuhkan semangat belajar melalui dukungan langsung dari keluarga.
Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025 yang berlaku sejak 1 Desember 2025. Surat edaran tersebut mengajak kepala daerah dan satuan pendidikan mendukung GEMAR sebagai upaya menekan fenomena fatherless yang diperkirakan mencapai 25 persen di Indonesia.
Di ruang publik, terutama media sosial, momen ini memicu beragam reaksi. Sejumlah video viral memperlihatkan halaman sekolah dipenuhi para ayah, memunculkan komentar sinis yang menyebut kehadiran mereka baru terlihat saat rapor dibagikan. Namun, tak sedikit pula warganet yang justru tersentuh melihat sisi humanis dari peristiwa tersebut.
Beberapa momen mendapat apresiasi luas, seperti seorang bupati di Ketapang yang hadir ke sekolah sebagai orang tua biasa tanpa protokoler, atau kisah ayah di Jakarta yang terharu saat menerima bunga dari anaknya setelah pembagian rapor. Potret-potret ini dinilai memperlihatkan perubahan kecil namun bermakna dalam budaya pengasuhan.
Para pendidik menilai kehadiran ayah saat pengambilan rapor bukan sekadar formalitas. Dukungan langsung dari orang tua terbukti memperkuat kepercayaan diri anak, membuka ruang komunikasi dengan guru, serta membantu orang tua memahami perkembangan akademik dan psikologis anak.
Di tengah realitas sosial Indonesia, di mana peran ayah kerap dipersempit pada fungsi pencari nafkah, gerakan ini dipandang relevan dan mendesak. Keterlibatan ayah dalam pendidikan bukan hanya berdampak pada prestasi sekolah, tetapi juga membentuk fondasi emosional dan karakter anak untuk masa depan generasi mendatang.
Video: indotoday