Netanyahu

Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran setelah mendapat permintaan dari PM Israel Benjamin Netanyahu agar Israel punya waktu mempersiapkan pertahanan dari kemungkinan balasan Iran. Laporan ini muncul di tengah penindasan keras rezim Iran terhadap demonstran anti-pemerintah yang telah menewaskan ribuan orang.
Ketegangan meningkat karena Trump mengancam Iran atas pembunuhan demonstran, sementara Iran balas mengancam Israel jika diserang AS. Pada 14-15 Januari 2026, Netanyahu menelepon Trump meminta penundaan karena sistem pertahanan udara Israel overload akibat konflik sebelumnya dengan Iran.
Netanyahu khawatir Iran akan membalas dengan serangan rudal besar, sehingga Israel butuh waktu tingkatkan kesiapan militer. Sumber AS dan Israel konfirmasi panggilan itu terjadi Rabu malam, tapi Gedung Putih tak beri detail lebih lanjut.
Trump beri sinyal de-eskalasi dengan bilang pembunuhan demonstran sudah berhenti setelah dapat jaminan, meski tetap ancam "semua opsi terbuka". Iran tutup ruang udara sementara karena takut serangan, tapi menteri luar negerinya klaim tak ada rencana eksekusi demonstran lagi.

Inggris pernah mengancam menarik dana dan keanggotaan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) jika surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dilanjutkan, seperti diungkap jaksa ICC Karim Khan.
Konteks Ancaman
Pada April 2024, Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron disebut melakukan panggilan telepon memperingatkan Khan bahwa tindakan terhadap Netanyahu dan Yoav Gallant "tidak proporsional" dan berisiko picu penarikan dukungan finansial Inggris ke ICC. Ancaman ini bagian dari tekanan lebih luas dari AS dan Israel terhadap ICC atas tuduhan kejahatan perang di Gaza.
Perkembangan Terkini
Pemerintahan baru Inggris justru beri lampu hijau untuk penangkapan Netanyahu jika ia kunjungi wilayah mereka, tandai perubahan sikap pasca-ancaman awal. ICC tolak cabut surat perintah meski ada tekanan, pertahankan yurisdiksinya atas kasus tersebut.