Mens Rea

Dharma Pongrekun menanggapi penyebutan namanya di materi stand-up spesial “Mens Rea” Pandji Pragiwaksono dengan nada positif dan menyebut sebagai sebuah berkah, bukan penghinaan. Ia merasa senang karena namanya disandingkan dengan sejumlah tokoh politik nasional dalam materi komedi tersebut dan mengaku tidak memiliki kebenaran yang sama sekali.
Sikap Dharma terhadap materi “Mens Rea”
Dharma berkata senang karena namanya berkali-kali disebut dan bahkan ditempatkan di bagian depan materi, meski ia menyadari konteksnya adalah roasting dan kritik.
Ia menyebut ini sebagai “berkah” karena merasa dirinya yang bukan pejabat puncak bisa dipadukan dengan nama Presiden, Wakil Presiden, Jokowi, hingga Megawati, sehingga justru merasa terhormat.
Soal tidak merasa tertekan
Dharma menegaskan bahwa persoalan ini tergantung sudut pandang; jika dilihat sebagai bahan lelucon dan ruang kritik, ia memilih untuk bersyukur daripada kebaikan.
Ia juga bercerita bahwa keluarga dan kerabat di kampung justru bangga dan banyak yang menghubunginya setelah namanya viral lewat materi “Mens Rea”, sehingga ia semakin menganggap hal ini sebagai anugerah, bukan serangan pribadi.
Latar belakang polemik “Mens Rea”
Sebelumnya, pendukung Dharma sempat melayangkan somasi etik terbuka dan ada laporan dari sejumlah organisasi terhadap materi “Mens Rea”, yang dianggap menimbulkan kegaduhan dan dinilai melecehkan.
Di sisi lain, Dharma sendiri memilih untuk berdiskusi dengan jalan yang berbeda: membuka peluang dialog dengan Pandji dan menyatakan siap berdiskusi, termasuk soal sikapnya terkait Covid-19 yang juga menjadi bahan roasting dalam materi tersebut.

Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama dan Aliansi Muda Muhammadiyah atas materi stand-up comedy Mens Rea yang tayang akhir Desember 2025, dianggap fitnah, penghinaan, dan memicu kegaduhan publik. Mahfud MD pasang badan bela Pandji, nyatakan konten tak pidana karena tayang sebelum KUHP baru berlaku 2 Januari 2026, serta siap dampingi proses hukum.
Alasan Pelaporan
Pelapor Rizki Abdul Rahman Wahid sebut materi Pandji merendahkan pejabat seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (canda "mata ngantuk") dan sindir ormas serta tambang, nomor LP/B/166/01/2026/SPKT. Konten viral di platform streaming picu kontroversi pasca-tour 10 kota.
Dukungan Mahfud MD
Mahfud anggap candaan satire dilindungi kebebasan berekspresi, bukan pidana, dan kritik politik wajar di demokrasi. Polda belum beri keterangan resmi, sementara pendukung Dharma Pongrekun somasi etik Pandji.

Dokter Teuku Adifitrian, yang dikenal sebagai Tompi, mengkritik materi roasting Pandji Pragiwaksono terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam stand-up comedy "Mens Rea" yang tayang di Netflix sejak akhir Desember 2025. Tompi menilai menjadikan kondisi fisik seperti "mata ngantuk" sebagai bahan candaan kurang pantas dan bukan bentuk kritik cerdas.
Konteks Roasting
Pandji menyindir Gibran dalam konteks pemilihan pemimpin berdasarkan tampang, menyebut "Gibran ngantuk ya" yang memicu kontroversi setelah show menduduki peringkat teratas Netflix Indonesia. Gibran merespons secara halus dengan memakai lagu "Lagu Melayu" milik Pandji di postingan Instagramnya.
Tanggung Jawab Publik
Mahfud MD membela Pandji, menyatakan pemanggangan tersebut bukan pelanggaran pidana karena dihukum sebelum KUHP baru berlaku dan siap membantu secara hukum. Kritik Tompi menekankan bahwa sifat fisik seseorang, apapun konteksnya, tidak layak dalam komedi.