lapangankerja

Badan Pusat Statistik (BPS) memang mengumumkan jumlah pengangguran terbuka (TPT) Indonesia turun menjadi 7,35 juta orang per November 2025, anjlok 109.000 orang dari Agustus 2025 yang mencapai 7,46 juta. Penurunan ini menunjukkan tingkat pengangguran terbuka 4,74 persen, didorong naiknya penyerapan tenaga kerja hingga 147,91 juta orang.
Penduduk bekerja bertambah 1,37 juta orang, terutama di sektor akomodasi/makan minum, industri pengolahan, dan perdagangan besar-kecil. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik ke 70,95 persen, dengan proporsi pekerja formal 42,30 persen dan pekerja penuh waktu 67,94 persen.
Pengangguran terbanyak di perkotaan (5,65 persen) vs perdesaan (3,31 persen); laki-laki 4,75 persen, perempuan 4,71 persen. Pertanian tetap lapangan usaha terbesar, tapi sektor jasa tumbuh pesat.

Mencari kerja memang semakin sulit di 2026 karena perusahaan besar menerapkan "hiring freeze" akibat adopsi AI yang meningkatkan produktivitas tanpa perlu tambah karyawan.
Penyebab Utama
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menyatakan AI membuat perekrutan melambat di perusahaan besar, dengan tingkat rekrutmen dan PHK rendah bertahan lama. Dampak minim di perusahaan kecil, tapi sektor tech, data, dan marketing paling terpukul.
Data Pasar Kerja
Laporan Indeed prediksi pengangguran stabil 4,4-4,6%, pertumbuhan lapangan kerja baru hanya 1,6-1,8%, dan tren "low-hire, low-fire" berlanjut. Perekrutan entry-level turun 23% sejak 2020.

Data dari LPEM FEB UI memang menunjukkan realitas pahit di pasar kerja Indonesia, di mana lebih dari 6.000 lulusan S2 dan S3 tergolong menganggur dan sudah putus asa mencari pekerjaan.[1][2]
## Sumber Data
Laporan "Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia" (Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11, November 2025) oleh LPEM FEB UI mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Februari 2025. Jumlah ini bagian dari 1,87 juta orang putus asa secara keseluruhan, naik dari 1,68 juta pada 2024, dengan lulusan S1 mencapai 45.000 orang.[7][1]
## Penyebab Utama
Lulusan pascasarjana menghadapi mismatch antara bidang studi dan peluang kerja, ekspektasi upah yang tidak terpenuhi, serta diskriminasi usia karena masuk pasar kerja di usia lebih matang. Fenomena ini sinyal struktural bahwa pemulihan pasar kerja belum merata, meski tingkat Pengangguran terbuka tampak menurun.[2][4]
## Dampak Lebih Luas
Proporsi putus asa pada lulusan tinggi relatif kecil (0,35% atau sekitar 6.000 orang), tapi menandakan underutilization tenaga kerja berkualitas. Ini mendorong kebijakan seperti peningkatan skill matching dan peluang riset.[6][8]
[1](https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8247777/lpem-feb-ui-6-000-an-lulusan-s2-s3-nganggur-dan-sudah-putus-asa-cari-kerja)
[2](https://www.inews.id/news/nasional/duh-6000-lulusan-s2-dan-s3-nganggur-dan-putus-asa-cari-kerja)
[3](https://www.instagram.com/p/DS39ZJ8kkLL/)
[4](https://semarang.inews.id/read/658627/ironis-6000-lulusan-s2-dan-s3-nganggur-dan-putus-asa-cari-kerja)
[5](https://www.ntvnews.id/ekonomi/0178211/laporan-lpem-feb-ui-ungkap-45000-sarjana-putus-asa-cari-kerja-apa-penyebabnya)
[6](https://www.reddit.com/r/indonesia/comments/1pgm9bh/lpem_feb_ui_6000an_lulusan_s2s3_nganggur_dan/)
[7](https://brief.id/lpem-feb-ui-generasi-muda-putus-asa-cari-kerja-di-indonesia-6-000-di-antaranya-lulusan-s2-s3/)
[8](https://samudrafakta.com/lpem-ui-6-000-lulusan-s2-s3-masuk-kategori-menganggur-putus-asa/)
[9](https://edukasi.sindonews.com/read/1653973/211/mengejutkan-6000-lebih-lulusan-s2-s3-menganggur-sudah-putus-asa-cari-kerja-1765347177)
[10](https://edukasi.sindonews.com/read/1653973/211/mengejutkan-6000-lebih-lulusan-s2-s3-menganggur-sudah-putus-asa-cari-kerja-1765347177/8)

Data dari ILO menunjukkan tingkat pengangguran pemuda India (usia 15-24 tahun) mencapai 18% pada 2023, sementara CMIE melaporkan angka keseluruhan 8,5% pada 2024, naik dari sekitar 6% pra-pandemi. Angka ini mencerminkan tantangan struktural di India meski pertumbuhan ekonomi tinggi.[1][5][9]
## Data Terkini CMIE
Tingkat pengangguran India fluktuatif, mencapai 9,2% pada Juni 2024 menurut CMIE, naik dari 7% di Mei. Pada Mei 2025, PLFS mencatat 5,6%, lebih rendah dari estimasi CMIE sebelumnya.[5][7][1]
## Perbandingan Sumber
- ILO fokus pada pemuda: 18% (2023), lebih tinggi dari rata-rata global 13%.[10]
- CMIE: 8,5% keseluruhan (2024), kontras dengan PLFS pemerintah yang lebih optimis.[9][1]
- Pra-COVID: Sekitar 6%, menandakan pemulihan lambat.[3]
## Dampak Ekonomi
Pertumbuhan PDB 8,2% (fiskal 2023/2024) gagal ciptakan lapangan kerja cukup, picu frustrasi pemuda. Pemerintah rilis anggaran untuk pelatihan keterampilan guna atasi krisis.[7][5][9]
[1](https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Fwww.forbesindia.com%2Farticle%2Fexplainers%2Funemployment-rate-in-india%2F87441%2F1&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp)
[2](https://www.instagram.com/20detik/reel/DS1XrnrETff/)
[3](https://www.instagram.com/reel/DS0ku9FihV3/)
[4](https://www.tiktok.com/@detikcom/video/7579487853810355464)
[5](https://www.dw.com/id/krisis-kerja-india-rilis-anggaran-atasi-pengangguran/a-69746830)
[6](https://www.tiktok.com/@detikcom/video/7586322522707070228)
[7](https://news.detik.com/dw/d-7454716/krisis-lapangan-kerja-india-rilis-anggaran-atasi-pengangguran)
[8](https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Fwww.ilo.org%2Fresource%2Fnews%2Fglobal-unemployment-rate-set-increase-2024-while-growing-social&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp)
[9](https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Finternationalbanker.com%2Ffinance%2Funemployed-youth-are-still-the-achilles-heel-of-indias-buoyant-economy%2F&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp)
[10](https://blog.kubu.id/blog/54)