KontraS

Efek Rumah Kaca (ERK), band indie Indonesia, mempopulerkan lagu "Sebelah" yang menjadi metafora kuat untuk mengenang Munir Said Thalib, aktivis HAM yang dibunuh melalui racun arsenik pada 7 September 2004 di pesawat Garuda GA-974 menuju Amsterdam. Liriknya melanggengkan perjuangan Munir melawan penindasan negara, penghilangan paksa aktivis 1997-1998, dan pelanggaran HAM di Aceh, sambil menyindir ketidakadilan hukum yang masih membiarkan dalang intelektual seperti Muchdi Purwoprandjono bebas.
Lagu "Sebelah" dirilis 2008 menggambarkan Munir sebagai "pendekar" yang dibungkam karena vokalnya terhadap konspirasi negara, dengan baris seperti "Di Sebelah sana ada Munir yang mati karena arsenik" yang terus viral di kalangan aktivis dan generasi muda. ERK perkuat narasi perlawanan lewat tur dan penampilan, menjaga ingatan publik bahwa Pollycarpus hanya pelaksana, sementara otak kasus dari BIN belum diadili.
Hingga 2026, lagu ini jadi anthem demo HAM tahunan 7 September, dorong tuntutan pro justisia dari KontraS dan keluarga Suciwati, sekaligus kritik atas kegagalan negara selesaikan kasus 21 tahun lamanya. ERK sukses jadikan sejarah kelam jadi seni abadi, inspirasi perlawanan penindasan di era digital.